Katekese Liturgi (6A)
HARI PERINGATAN/PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN

By RP. Thomas Suratno, SCJ 23 Mar 2018, 10:11:14 WIB Surat Gembala
 Katekese Liturgi (6A)

Keterangan Gambar : Katekese Liturgi (6A)


HARI PERINGATAN/PENGENANGAN

ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN

( 2 NOPEMBER )

 

                Sejak masa awal perkembangan agama Kristen, umat Kristiani telah mendoakan keluarga dan teman yang sudah meninggal dunia. Hal ini dibutktikan dengan adanya doa tertulis di katakombe. Di dalam Kitab Suci, praktik mendoakan keluarga yang telah meninggal tercatat pada kitab Makabe (2 Makabe 12:38-45: Maka segeralah mereka semua yang ada di tempat itu memuliakan Tuhan dan berdoa memohon Tuhan menghapuskan dosa-dosa mereka semua serta dikumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem supaya para Imam di Bait Alah mempersembahkan korban penghapusan dosa bagi mereka gugur itu. Yudas dan anak buahnya melakukan ini karena mereka percaya bahwa mereka yang gugur itu akan bangkit.) dan; Kitab Putra Sirakh (Sirakh 7:33 juga dituliskan bahwa “Hendaklah kemurahan hatimu meliputi semua orang yang hidup, tapi orang matipun jangan kau kecualikan pula dari kerelaanmu”. Ayat ini mempunyai pengertian bahwa bantuan melalui doa-doa dan persembahan kepada orang yang sudah mendahului kita tidak akan sia-sia, karena itulah bentuk perhatian dan bantuan kita secara rohani kepada mereka). Kedua kitab tersebut. di atas termasuk dalam kelompok Kitab Deteurokanonika yang tidak diakui oleh Gereja Kristen Protestan. Di sinilah letak perbedaannya. Kemudian dalam 2 Timotius 1:16-18 dimana Santo Paulus berdoa untuk Onesiforus yang telah meninggal dunia.

                Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian yang kita kenal dengan “Api Penyucian”. Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12:32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan Surga -karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka -karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3:15). Para Bapa Gereja, termasuk St. Agustinus (dalam Enchiridion of Faith, Hope and Love dan City of God), merumuskannya dalam ajaran akan adanya pemurnian jiwa setelah kematian.

                Melalui sejarah yang panjang, pada abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati umat yang telah meninggal pada perayaan Pentakosta. Pada tahun 998, perayaan hari arwah menjadi peringatan umum di bawah pengaruh rahib Odilo dari Biara Cluny. Mulai saat itu, perayaan arwah diadakan setiap tanggal 2 November di kalangan ordo Benediktin, biara Carthusian, gereja Anglikan, dan sebagian gereja Lutheran. Perayaan liturgi dalam Ritus Roma (Katolik) secara resmi menyebutnya "Peringatan Arwah Semua Orang Beriman".

                Maka sampai saat ini Peringatan Arwah Semua Orang Beriman dirayakan setiap tanggal 2 November, yaitu sehari setelah peringatan Hari Raya Semua Orang Kudus. Mereka yang telah meninggal dunia (yang sekarang masih berada dalam “Api Penyucian”) dapat memperoleh indulgensi (bahasa Inggris: indulgence, bahasa Latin: indulgentia) adalah penghapusan hukuman atau siksa dosa sementara/temporal atas dosa yang sudah diampuni. Doktrin atau ajaran ini hanya dikenal di Gereja Katolik, dan pada praktiknya berhubungan erat dengan daya guna pengampunan dosa dari Sakramen Tobat), - baik indulgensi penuh ataupun sebagian, jika umat yang masih hidup melakukan perbuatan tertentu dan memenuhi persyaratan yang ditentukan. [Dalam penanggalan Liturgi 2017, 1 Nopember 2017 Hari Raya Semua Orang Kudus, di bawah (dalam catatan) disebutkan bahwa (1). Dalam rangka “pengenangan arwah semua orang beriman” tgl. 2 Nopember besok, setiap orang kristiani dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal. (2). Caranya: mengunjungi makam dan atau mendoakan arwah orang yang sudah meninggal. * yang menjalankan setiap hari dari tanggal 1 s/d 8 November memperoleh indulgensi penuh, * yang menjalankan pada hari-hari lain, memperoleh indulgensi sebagian.]

Perbedaan antara Penitensi dan Indulgensi

Dengan adanya ajaran tentang Api Penyucian maka muncul pertanyaan bukankah kita sudah memperoleh pengampunan dosa dan menjalankan penitensi (denda dosa) melalui Sakramen Tobat? Apa sebenarnya perbedaan antara Penitensi dan Indulgensi?    

  • Penitensi adalah suatu tindakan yang didasari oleh iman, yang dilakukan sebagai silih bagi dosa, untuk memperbaiki hubungan antara kita (sang peniten) dengan Tuhan. Setelah kita menerima absolusi dari sakramen Pengakuan dosa dan melakukan penitensinya, maka dosa-dosa kita dihapuskan, kesehatan rohani kita dipulihkan, dan kita dibebaskan dari siksa dosa kekal -yaitu neraka atau keterpisahan dari Tuhan. Namun demikian, dapat terjadi penitensi tersebut belum seluruhnya menghapus siksa dosa sementara/ temporal, sebagai akibat dari dosa kita. Sebab walaupun sudah diberikan sesuai dengan berat atau tidaknya dosa, seringkali penitensi ini tidak/ belum seluruhnya mengubah kita untuk menjadi seperti Kristus. Jika kita meninggal dunia dalam keadaan seperti ini, maka akan masih ada siksa dosa temporal ataupun konsekuensi dosa yang harus kita tanggung untuk sementara, dalam proses pemurnian setelah kematian, sebelum kita dapat bersatu dengan Allah yang kudus sempurna dalam Kerajaan Surga. Nah, karena itulah kita memerlukan indulgensi. (Lih. KGK 1459 - 1460)
  • Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa dosa temporal, baik seluruhnya atau sebagian, untuk dosa-dosa yang sudah diampuni dalam sakramen Pengakuan dosa. Dengan kata lain, indulgensi dapat menghapuskan seluruhnya atau sebagian dari siksa dosa yang masih harus kita tanggung setelah kematian dalam proses pemurnian (yang dikenal sebagai Api Penyucian). Nah, karena ditujukan untuk penghapusan/ pengurangan siksa dosa di Api Penyucian inilah, maka indulgensi juga dapat diperoleh selain untuk jiwa kita sendiri, juga untuk jiwa-jiwa orang lain yang telah meninggal yang kita doakan. Karena bukan hanya kita sendiri saja yang memerlukan penghapusan ini, namun juga terutama jiwa-jiwa yang lain yang telah mendahului kita, yang sedang menjalani proses pemurnian setelah kematian, sebelum mereka dapat bersatu dengan Tuhan di Surga. (Lih. KGK 1471).

Makna Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

                Dari keterangan-keterangan yang ada tidak disebutkan mengapa dipilih bulan November dan bukan bulan- bulan yang lain untuk peringatan arwah ini. Namun jika kita melihat kepada kalender liturgi Gereja, maka kita mengetahui bahwa bulan November merupakan akhir tahun liturgi, sebelum Gereja memasuki tahun liturgi yang baru pada masa Adven sebelum merayakan Natal (Kelahiran Kristus). Maka sebelum mempersiapkan kedatangan Kristus, kita diajak untuk merenungkan terlebih dahulu akan kehidupan sementara di dunia; tentang akhir hidup kita kelak, agar kita dapat akhirnya nanti tergabung dalam bilangan para kudus di surga. Kita juga diajak untuk merenungkan makna kematian, dengan mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita. Juga, pada bulan November ini, bacaan- bacaan Misa Kudus adalah tentang akhir dunia, yaitu untuk mengingatkan kita tentang akhir hidup kita yang harus kita persiapkan dalam persekutuan dengan Kristus. Harapannya adalah, dengan merenungkan akhir hidup kita di dunia, kita akan lebih dapat lagi menghargai Misteri Inkarnasi Allah (pada hari Natal) yang memungkinkan kita untuk dapat bergabung dalam bilangan para kudus-Nya dalam kehidupan kekal di surga.

Bagaimana dengan Intensi Misa untuk Peringatan Arwah Semua Orang Beriman?

                Tradisi-tradisi muncul dalam perjalanan waktu sehubungan dengan perayaan (Misa Kudus) Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Pada abad ke-15, Dominikan menetapkan suatu tradisi di mana setiap imam mempersembahkan tiga Misa Kudus pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Paus Benediktus XIV pada tahun 1748 menyetujui praktek ini dan devosi ini dengan cepat menyebar ke seluruh Spanyol, Portugis dan Amerika Latin. Dalam masa Perang Dunia I, Paus Benediktus XV, menyadari akan banyaknya mereka yang tewas akibat perang dan begitu banyak Misa yang tak dapat dipersembahkan karena hancurnya gereja-gereja, memberikan hak istimewa kepada segenap imam untuk mempersembahkan tiga Misa Kudus pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman: satu untuk intensi khusus, satu untuk arwah semua orang beriman, dan satu untuk intensi Bapa Suci.

                Yang jelas kalau kita perhatikan dan renungkan tidaklah cukup jumlah Misa yang dapat kita persembahkan untuk arwah orang beriman dalam setahun (di dunia ini). Nah, untuk mencukupi hal itu tanggal 2 Nopember setiap tahun dipersembahkan secara khusus Misa Kudus untuk peringatan arwah SEMUA orang beriman di mana pun tanpa kecuali. Itulah intensi Gereja yang sebenarnya. Dkl. Gereja telah mengintensikan secara khusus bagi semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Seandainya Misa kudus diselenggarakan di (kapel) makam, tidak berarti bahwa misa hanya dipersembahkan untuk saudari-saudara yang dimakamkan di sana tetapi sekali lagi untuk semua arwah orang beriman di mana pun.  Ingatlah bahwa setiap dari (keluarga) kita pasti mempunyai saudari-saudara kita yang telah dipanggil Tuhan, maka ini kesempatan yang diberikan Gereja untuk kita semua mendoakan sanak keluarga kita yang telah meninggal dunia. Dengan demikian IDEAL-nya, dalam merayakan Ekaristi pada peringatan arwah semua orang beriman TIDAK PERLU ada intensi khusus lagi dengan memberikan stipendium dan mendoakan atau harus menyebut/mengumumkan nama-nama para arwah saudara kita. Cukuplah pada Doa Pembuka diberi waktu hening supaya umat yang hadir dapat mendoakan secara pribadi saudari-saudaranya yang sudah meninggal lalu disatukan oleh imam dalam Doa Colecta (Pembuka) atau hening pada saat DOA UMAT. Jadi tidak perlu lagi dibacakan intensi yang jumlahnya ratusan itu sebelum misa dimulai atau dalam misa yang sedang berlangsung, apalagi sampai ada pembakaran kertas “ujub” (intensi) misa. Nah, sehubungan dengan stipendium, jangan sampai memberi kesan seolah-olah hanya umat yang memberi stipendium saja yang mempersembahkan atau mendoakan arwah orang beriman dalam misa pada waktu itu, yang lain ikutan…. Tidak! Intensi Gereja dalam Misa ini sudah jelas untuk SEMUA arwah orang beriman. Jadi tidak ditentukan dengan memberi stipendium atau tidak. Ukurannya bukan stipendium. Apakah tidak boleh memberi stipendium kepada imam yang merayakan Misa untuk itu? Tidak dilarang, hanya saja jangan sampai dengan memberi stipendium itu (bisa mencapai ratusan amplop stipendium sehingga merasa sangat disayangkan atau merasa rugi kalau tidak diterima!) terjadi semacam seolah-olah ada atau mengarah pada SIMONIA (jual-beli Sakramen), sebuah praktek memalukan dalam Gereja kita di masa yang lalu. Selamat menyongsong peringatan/pengenangan arwah semua orang beriman. Suatu saat saya akan berkatekese juga tentang Stipendium dalam Katekese Liturgi….

 

Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ

(Disadur dari berbagai sumber).
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan