Altar dan Relikwi
Katekese

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 04 Agu 2019, 07:20:31 WIB Surat Gembala
Altar dan Relikwi

Keterangan Gambar : Katakese


Di setiap gedung gereja (Katolik) pastilah ada altar untuk merayakan perjamuan Ekaristi. Hanya saja kita tahu bahwa belum tentu altar yang dibuat itu permanen. Bisa jadi altarnya belum permanen, bisa dipindahkan, digeser kesana kemari dan terbuat bukan dari batu (atau semen) melainkan dari kayu/papan. Lalu pada umumnya ditutup dengan kain altar yang berwarna putih. Kemudian sebagaimana terdapat ketentuan PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) dikatakan bahwa seharusnya dipertahankan tradisi Gereja bahwa di setiap gedung gereja Katolik, terdapat relikwi orang kudus di altar.

PUMR 302   Hendaknya dipertahankan tradisi Gereja untuk memasang relikwi orang kudus, juga yang bukan martir, di dalam atau di bawah altar yang akan didedikasikan. Namun harus dijamin bahwa relikwi itu asli. 

Sepanjang pengetahuan saya, setiap gedung-gedung gereja Katolik yang baru itu didedikasikan dalam suatu upacara khusus oleh Uskup, yakni ketika Uskup memberkati altar gereja baru, sehingga mestinya setiap altar tersebut memiliki relikwi orang kudus. Penempatan relikwi di altar ini mengacu kepada tradisi Gereja awal yang menjadikan kubur para martir sebagai altar (Baltimore Catechism III 937). Para martir itu mengingatkan kita akan betapa mereka telah sempurna mengikuti teladan Kristus hingga rela menyerahkan nyawa mereka untuk Kristus. Demikianlah kurban Kristus diperingati dalam kesatuan dengan para martir/orang kudus-Nya, agar kitapun disatukan dengan mereka, bersama-sama memuliakan Allah.
Mencium Altar
Lalu bagaimana dengan mencium altar di awal dan akhir Misa? Apakah ada hubungannya dengan relekwi itu? Penghormatan imam kepada altar - dapat dengan mencium ataupun pada saat-saat yang khusus memberkatinya dengan ukupan - disebabkan karena altar adalah simbol Kristus. Salah satu prefasi Doa Syukur Agung di masa Paskah menyebutkan bahwa Kristus adalah “sacerdos, altare et agnus” (imam, altar dan anak domba) dari pengorbanan-Nya. 

Jadi alasan mengapa imam mencium altar, adalah karena altar tersebut adalah lambang Kristus. Sebab di atas altar itulah, akan dirayakan dan dihadirkan kembali pengorbanan Kristus secara sakramental, yang akan menghasilkan buah keselamatan bagi Gereja-Nya. Maka ada atau tidaknya relikwi orang kudus tidaklah merupakan sesuatu yang terutama bagi meja altar, namun Kristus itu sendirilah yang menjadikan altar itu sesuatu yang utama dan layak dihormati.  

PUMR 49:  “Setibanya di panti imam, imam, diakon, dan para pelayan menghormati altar dengan membungkuk khidmat. Kemudian, sebagai tanda penghormatan, imam dan diakon mencium altar; sesuai dengan tingkat perayaan, imam dapat juga mendupai salib dan altar”. PUMR 169:   “Akhirnya, sesuai ketentuan, imam menghormati altar dan menciumnya, dan setelah membungkuk khidmat bersama para pelayan awam, ia meninggalkan ruang ibadat”. 

Kemudian, apakah imam juga harus mencium meja altar yang digunakan untuk misa di luar gereja (tidak permanen, dari meja biasa dan hanya ditutup dengan kain putih, meskipun meja tersebut tidak dirancang khusus untuk Misa) dan tidak mempunyai relikwi? Yang harus diingat karena pengertiannya adalah, bahwa altar adalah lambang Kristus, maka memang tidak menjadi masalah apakah di altar itu ditempatkan juga relikwi orang kudus atau tidak. Sebab pertama-tama imam mencium altar bukan karena ada relikwinya, [walaupun kalau ada relikwinya, itu juga salah satu alasan penghormatan kepada altar itu], namun terlebih karena penghormatan akan tempat korban Kristus. Altar tersebut menjadi tempat suci karena di sana akan hadirlah Kristus yang tersalib itu, melalui proses transubstansiasi. Untuk maksud yang mulia ini, maka adalah suatu keharusan bahwa jika perayaan Misa di luar gedung gereja (misalnya di gedung pertemuan wilayah, lingkungan atau di rumah duka), meja altar dibuat sedemikian, sehingga tidak terkesan seadanya. Meja harus ditutup dengan taplak putih, pada altar atau di dekatnya dipasang sekurang-kurangnya dua lilin yang bernyala, dan ada salib dengan sosok Kristus dipajang pada altar atau didekatnya (lih. PUMR 117). 

Pada umumnya di gedung gereja seperti halnya di gereja kita, altar dibuat permanen dari batu atau bahan lain yang kokoh, yang memang layak untuk dijadikan altar. Mengapa batu sebagai bahan altar, itu karena Kristus digambarkan sebagai batu karang rohani (lih. 1Kor 10:4, Kel 17:6) dan batu penjuru (lih. Ef 2:20; 1Pet 2:6). Namun dapat terjadi meja sedemikian tidak ada di gedung-gedung di luar gereja, seperti di rumah duka. Hal ini tidak menghalangi kemurahan Tuhan Yesus untuk tetap hadir di tengah umat-Nya. Ini bahkan mengingatkan akan kerendahan hati-Nya yang tanpa batas, yang rela memilih kandang hewan sebagai tempat kelahiran-Nya, dan palungan tempat Ia dibaringkan. Demikianlah di atas meja sederhana itu, oleh kuasa Roh Kudus-Nya, kurban Yesus itu dapat tetap dihadirkan di tengah umat-Nya. Betapa imam itu sesungguhnya mewakili kita umat-Nya, yang sungguh layak untuk tertunduk khidmat dan mencium altar yang sederhana itu, yang atasnya korban Kristus kembali hadir untuk menyelamatkan kita. Kristus yang rela mengosongkan diri sehabis-habisnya di kayu salib, kini kembali melakukan hal yang sama, dengan hadir di atas meja sederhana, dalam rupa hosti kecil sederhana. Maka ciuman ke (meja) altar adalah ungkapan penghormatan dan kasih kepada Kristus, yang sungguh tidak dapat dibandingkan dengan kasih yang sudah lebih dahulu tercurah bagi kita umat-Nya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan