Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 20 Jan 2019, 09:57:13 WIB Surat Gembala
Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat

Keterangan Gambar : KATEKESE


Dekorasi Altar Menggunakan Bunga Hidup

Melanjutkan pembahasan tentang Tahun Berhikmat, di mana minggu lalu kita sudah melihat betapa bahayanya sam-pah plastik, sekarang kita akan membahas apa yang terjadi di sekitar altar dua minggu yang lalu pada saat Misa Pem-buka Tahun Berhikmat. Saya mengatakan pada saat sebelum berkat penutup di samping perang melawan sampah plastik juga mengatakan tentang dekorasi sekitar altar yang terdiri dari (pot) tanaman hidup. Tidak kalah indah dengan bunga potong yang biasanya menghiasi depan dan samping altar. Lalu di luar gereja sudah sejak pukul 07.00 pagi dipamerkan dan dijual tanaman-tanaman hias, bahkan pada kesempatan itu pula kepada umat dibagikan (bibit) tanaman hias. Saya kira ini bukan sekedar acara tetapi ada semacan semangat gerakan berhikmat juga dalam memelihara, merawat dan menggunakan tanaman hidup sebagai sesuatu yang indah bila dipersembahkan kepada Tuhan yang mau diungkapkan atau diwujudkan. Cinta lingkungan hidup, tanpa merusak (memotong bunga yang hanya dapat digunakan/bertahan beberapa hari saja), tanpa harus mengeluarkan “kocek” yang banyak, bahkan tanaman bunga pot itu bisa digunakan ber-kali-kali asal dikeluarkan, disiram, di tempatkan di tempat yang sejuk. Tentu hal ini dibutuhkan ketekunan dan kesa-baran dalam merawatnya. Pada Katekese Liturgi No. 3 (2017/2018) dalam lembaran ini saya sudah menyinggung hal tersebut sehubungan dengan Dekorasi Altar, saya kata-kan demikian:

[ Sesuai dengan makna dan tujuan altar dibangun dari bahan “yang bermutu, kuat dan indah” (PUMR 301) dan menjadi pusat perhatian umat Allah yang merayakan Misa Kudus, maka pada umumnya altar dihias sedemikan rupa sehingga Nampak indah dan pantas digunakan sebagai meja perjamuan. Apa yang dikatakan dalam Pedoman Umum Misale Romawi? Dikata-kan bahwa “untuk menghormati perayaan-kenangan akan Tuhan serta perjamuan Tubuh dan Darah-Nya, pantaslah altar ditutup dengan sehelai kain altar berwarna putih. Bentuk, ukuran, dan hiasannya hendaknya cocok dengan altar itu. Dalam menghias altar hendaknya tidak berlebihan…. Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya.” (PUMR 305-306). Kemudian disebutkan juga “di atas altar hendaknya ditempatkan hanya barang-barang yang diperlukan untuk perayaan Misa, yakni sbb.: (a) dari awal sampai pemakluman Injil: Kitab Suci, (b) dari persiapan persembahan sampai pem-bersihan bejana-bejana: piala dengan patena, sibori, kalau perlu; dan akhirnya korporale, purifikatorium, dan Misale. Di samping itu mike yang diperlukan untuk memperkeras suara imam hendaknya diatur dengan cermat.”

Dari apa yang dikatakan di atas, jelaslah beberapa hal yang bisa katakan di sini, yakni (1) menghias altar itu dipandang perlu. Hanya saja yang perlu diper-hatikan adalah warna kain altar itu selalu putih. Seandainya ada warna lain se-suai dengan warna liturgi yang dirayakan, sepantasnyalah kalau dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menutupi warna putih kain altar itu. Ke-mudian, dikatakan dengan tegas bahwa hiasan bunga hendaknya tidak ber-lebihan. Maksudnya apa? Altar itu simbol penghadiran Kristus “Sang Batu Hidup” – 1 Ptr 2,4; bdk. Ef 2,20 (PUMR 298), maka harus nampak bahwa itu “batu” altar. Altar di gereja sudah terbuat dari batu (semen) dan permanen, bagus dan indah. Maka hiasan bunga yang berlebihan justeru akan menu-tupi dan mengaburkan makna perlambangan altar itu sendiri, mungkin – bisa jadi - akan terlihat seperti memindahkan “taman bunga” dari luar gereja ke dalam, di sekitar altar. Ingatlah bahwa liturgi kita penuh dengan simbol dan perlam-bangan yang rasanya perlu dijelaskan atau di-katekese-kan kepada umat.

Sekarang dengan adanya gerakan Lingkungan Hidup, kita diajak untuk men-cintai, merawat dan memperindah segala sesuatu yang ada di lingkungan kita. Pastilah kita mendukungnya. Bahkan dalam rangka 40 Tahun Paroki kita, kita di-ajak untuk bersyukur, berbenah, dan berbagi. Dalam berbenah kelihatan bahwa gedung dan juga taman-taman sangat diperhatikan terutama dalam hal kebersi-han, penempatan barang-barang, dan juga penataannya. Sekarang kelihatan rapi, bersih dan taman menjadi asri kembali. Apakah ini akan bertahan lama? Semua ini tergantung kita semua. Habitus lama haruslah diganti habitus baru, di mana kita harus cinta dan ramah lingkungan. Nah, dalam hal ini juga sudah ada yang men-jalar di sekitar altar di beberapa gereja, khususnya hiasan di sekitar altar. Ada be-berapa uskup yang menghimbau untuk menggunakan hiasan bunga hidup di se-kitar altar. Artinya memanfaatkan tanaman bunga yang indah dalam “pot” di ta-man yang dapat diangkat, dipindah dan dipakai untuk dekorasi altar tanpa harus memotong (mematikan) dan membuang setelah digunakan sebagai hiasan altar. Bahkan bisa digunakan lagi di lain waktu. Bisa dikatakan bahwa hiasan bunga ini menjadi hiasan yang ramah lingkungan. ]

Nah, itulah yang pernah saya tulis dalam Katekese Lituirgi di lembar Warta Paroki ini tahun silam. Semoga kita tersegarkan kembali. Lalu silahkan seksi liturgi, khususnya pendekorasi altar mulai bergerak mendukung Tahun Berhik-mat melalui cinta lingkungan, menanam, merawat tanpa harus merusak atau me-matikan. Mari kita belajar sabar dan tekun, serta rajin merawat segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Marilah kita persembahkan kepada Tuhan apa yang hidup dan bukan apa yang mati; Mari kita sebagai ciptaan Tuhan yang mulia menghias di sekitar altar Tuhan dengan hasil jerih payah kita dalam menanam, merawat dan mencintai tanaman yang juga ciptaan-Nya. Mari kita menjadi penggerak JPIC (Justice, Peace, and Integration of Creation) à « Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan »***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan