Anak Penganyam Tikar menjadi Pelayan Yang Berakar

By Komsos 05 Des 2017, 08:33:06 WIB Profile
Anak Penganyam Tikar menjadi Pelayan Yang Berakar

Keterangan Gambar : Petrus Tukiran


Siapa sangka, anak seorang penganyam tikar yang sangat sederhana dari Yogyakarta itu telah 37 tahun menjalani hari-harinya sebagai koster, di sebuah gereja di Ibu Kota. Tugasnya pria yang akrab disapa Tukiran  itu tidak mudah. Dia harus merapikan peralatan misa, membantu keperluan umat pada kegiatannya di dalam gereja.

Tukiran juga harus memastikan kesiapan semua petugas sebelum misa dimulai, dan hal-hal penting lainnya mungkin jarang disadari. Sulit rasanya membayangkan misa yang kita ikuti di gereja tanpa peran itu. Masa abdi ayah dua orang anak itu hampir seumur dengan lahirnya Gereja St. Stefanus yang telah menempuh usia lustrum kedelapan. Ya dengan kata lain, Tukiran ambil bagian dalam perjalanan suka dan duka Gereja St. Stefanus, sejak masih berkomuni di rumah Bapak Suradal hingga kini memiliki gedung sendiri.

Perjalanan hidup yang ditolak sana-sini mengatarnya pada kehidupannya saat ini. Pria setengah baya yang lahir pada 12 Juni 1958 di Yogyakarta itu merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Tukiran lahir dari keluarga berlatarbelakang pengetahuan iman seadanya. Meski demikian, hal itu membuat Tukiran meraba hidup, membiarkan kakinya menapaki jalan yang ada di depannya, dan membentuk diri lewat pengalamannya.

Siapapun pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya, termasuk Tukiran. Sepeninggal ayahnya, Tukiran merasa tak punya 'pegangan'. Dia akhirnya bersurat pada pastor yang membaptisnya pada 1969, Pastor Tac, SJ.

Dalam surat itu, Tukiran menyampaikan keinginannya menjadi pastor dan akhirnya terwujud. Kala itu, Tukiran mendapat pendidikan juga pekerjaan. Dia diizinkan tinggal di pastoran, tempat Pastor Tac, SC memimpin. Di masa itu, pribadi Tukiran mulai terbentuk, apalagi imannya. Hidupnya terjamin. Tukiran tumbuh menjadi pribadi yang tertib dan disiplin, sama seperti saat ini.

Pribadi Tukiran yang luwes ketika berbicara ternyata sudah menonjol sejak remaja. Selera humor yang tinggi sudah terlihat saat masih sekolah, dan hal itu ternyata memunculkan simpati. Tidak heran Tukiran banyak disenangi orang-orang disekitarnya.

Sebelum hijrah ke Jakarta, Tukiran  sempat menjadi kuba alias kuli bangunan. Aelama di Jakarta, semua peluang kerja dilakoni Tukiran, walau jalannya tidak selalu mulus. Kegagalannya berulang. Mulai dari penolakan menjadi calon polisi, pegawai, bahkan sopir. Kondisi itu sempat membuat Tukiran putus asa. Namun Tuhan tidak tinggal diam. Ada saja yang membawanya ke tempat yang baru.

Berbekal ijazah montir sepeda motor dan usahanya melamar ke beberapa tempat, dia akhirnya diterima bekerja di bengkel daerah Mampang. Namun dipertengahan 1980, bengkel itu mulai sepi. Tukiran merasa tak enak hati pada pemilik bengkel, karena dia mengetahui pemasukan bengkel seret.

 

Tukiran lalu coba cari jalan lain, demi kelangsungan hidupnya. Dia coba mencari tambahan pundi-pundi di tempat lain dan Tuhan mengantarnya pada kesempatan bekerja di paroki anyar St.Stefanus. Saat itu Pastor Marc Fortner, SCJ yang merupakan pastor paroki pertama St. Stefanus itu, mewawancarainya langsung. Pertemuannya dengan Pastor Fortner dengan sorot matanya yang tajam menyadarkan Tukiran untuk yakin tidak akan bekerja dengan rasa minder apalagi takut sebab ia sudah mempunyai pengalaman ikut dengan pastor Belanda yang dikenal sangat disiplin.

 

Berhasil diterima kerja, bukan berarti perjuangannya terhenti begitu saja. Perlahan, dia belajar menjadi pelayan yang bersungguh-sungguh. Tidak jarang diawal masa kerja di gereja, Tukiran mendapat kritikan dari rekan kerja, umat maupun dari pastor. Dari caranya menerima telepon sampai menyoal mempersiapkan perayaan misa. Namun kesalahan-kesalahan tersebut tak membuatnya putus asa. Tukiran justru menjadikan kesalahan itu sebagai sarana refleksi diri untuk berbenah. Menurutnya keterbukaan diri penting untuk mau menerima kesalahan diri sendiri dan orang lain supaya dapat belajar dan tidak jatuh pada lubang yang sama.

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan