Bagaimana Ajaran Gereja tentang Tuhan dalam Kitab Suci (bagian 1)
Katekese

By RP. Thomas Suratno, SCJ 15 Sep 2019, 08:57:31 WIB Surat Gembala
Bagaimana Ajaran Gereja tentang Tuhan dalam Kitab Suci (bagian 1)

Keterangan Gambar : Katekese


Bagaimana Ajaran Gereja tentang Tuhan dalam Kitab Suci

seperti yang diamanatkan dalam Dokumen Konsili Vatikan II “Dei Verbum” (DV) – Konstitusi Dogmatis Wahyu Ilahi

(bagian 1)

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu dokumen dari Konsili Vatikan II ‘Dei Verbum’ (DV) menjelaskan ten­tang Wahyu Ilahi dalam Gereja Katolik. Dinyatakan bahwa berdasarkan Kitab Suci, kita diajar bahwa kita mengenal Tuhan melalui pewahyuan akan diri-Nya, yang kepenuhan­nya ada di dalam Kristus:

“Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan me­wahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya (lih. Ef 1:9); berkat rahasia itu manusia dapat meng­ha­dap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi (lih. Ef 2:18; 2Ptr1:4)…..melalui wahyu itu, kebenaran yang seda­lam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nam­pak bagi kita di dalam Kristus, yang sekaligus adalah Pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu.” (Konsili Vatikan II, tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum (DV) 2)

Pertama-tama kita diajar bahwa keberadaan Allah da­pat kita ketahui dari atau melalui karya-karya ciptaan-Nya. Oleh wahyu Allah ini, dikatakan bahwa di dalam Kristus Sang Sabda, Allah menciptakan segala sesuatu. Maka dari itu Allah dapat diketahui keberadaan-Nya melalui karya-karya ciptaan-Nya. Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:

“Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui sabda-Nya (lih. Yoh 1:3), serta meles­tarikannya, dalam makhluk-makhluk ciptaan senantiasa memberikan kesak­sian ten­tang diri-Nya kepada manusia (lih. Rom 1:19-20)….” (DV 3)

Selanjutnya Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia pertama. Setelah mereka jatuh dalam dosa, Allah tak henti-hentinya menjaga dan memelihara umat manu­sia. Ia memanggil Abraham, para patriarkh, Musa dan para nabi, mengajarkan hal penge­tahuan tentang diri-Nya sebagai Allah yang satu, yang hidup dan sejati, dan me­ngajarkan manusia agar menantikan Sang Penyelamat; dan dengan demikian mem­persiapkan umat manusia untuk menerima Injil, selama berabad-abad. (lih. DV 3)

Kemudian, secara istimewa Allah dikenal melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. “Setelah berulang kali dan dengan berbagai cara Allah bersabda dengan peran­taraan para Nabi, “…akhirnya pada zaman akhir ini Ia telah bersabda kepada kita dengan perantaraan Putera-Nya” (Ibr 1:1-2). Sebab Ia mengutus Putera-Nya, yakni Sang Sabda yang kekal, yang menyinari semua orang, supaya Ia tinggal di tengah umat manusia dan menceritakan kepada mereka hidup Allah yang terdalam (lih. Yoh 1:1-18)…. Ia [Yesus] “menyampaikan sabda Allah” (Yoh3:34), dan menyele­saikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (lih. Yoh 5:36; Yoh 17:4). Barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (lih. Yoh 14:9). Oleh karena itu, Yesus menyempurnakan wahyu dengan menggenapinya melalui segenap karya-Nya yang membuat-Nya hadir dan menyatakan diri-Nya sendiri: melalui sabda maupun perbuatan-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-muk­jizat-Nya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemu­liaan dari maut, dan akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran. Ia meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kege­lapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal.” (DV 4)

Lantas bagaimana soal pewahyuan dalam kitab suci ini selanjutnya? Tuhan kita Yesus Kristus memerintahkan para rasul untuk meneruskan Injil yang diwah­yukan Allah kepada semua bangsa. “Dalam kebaikan-Nya Allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunannya. Maka Kristus Tuhan, yang di dalam-Nya kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Mahatinggi digenapi (lih. 2Kor1:20; 2Kor3:13; 2Kor4:6), memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para Nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya dengan mulut-nya sendiri, mereka wartakan pada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan dan untuk membagikan kurnia-kurnia ilahi kepada mereka….” (DV 7) – BERSAMBUNG.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 3 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan