Halangan Nikah (3)
Halangan Nikah

By RP. Thomas Suratno, SCJ 01 Sep 2018, 22:01:03 WIB Surat Gembala
Halangan Nikah (3)

Keterangan Gambar : Halangan Nikah (3)


     Dikatakan dalam tulisan katekese minggu lalu bahwa “Ha­langan-halangan yang bersumber dari hukum  ilahi mengi­­­kat semua orang, baik yang dibaptis maupun yang ti­dak dibaptis. Sedangkan halangan yang bersumber dari hukum gerejawi mengikat mereka yang dibaptis dalam Gereja ka­tol­ik atau yang diterima di dalamnya (kan. 11, 1059). Kemu­dian, halangan yang bersumber dari hukum ilahi tidak bisa didispensasi. Sedangkan halangan yang bersumber dari hu­kum gerejawi bisa didispensasi oleh otoritas gerejawi yang berwenang, dengan memenuhi ketentuan undang-undang mengenai pemberian dispensasi (kan. 85-93).”

     Dari apa yang dikatakan di atas, menunjukkan kepada kita bahwa halangan-halangan yang bersumber dari hu­kum ilahi, yakni Impotensi seksual yang bersifat tetap (kan. 1084), Ikatan perkawinan sebelumnya (kan. 1085) dan Hubungan darah dalam garis lurus baik ke atas maupun ke bawah (kan. 1091 par. 1), mengikat semua orang (katolik dan non-katolik). Dan halangan-halangan tersebut tidak bisa dimintakan dispensasi. Tentu saja diharapkan bahwa halangan-halangan ini - bagi pasangan calon pengantin yang mau menikah - sudah harus mengeta­hui keadaan dirinya sebelum merencanakan perkawinan atau justeru pada waktu Penyelidikan Kanonik baru akan ketahuan bahwa ada halangan-halangan itu. Maka sebaik­nyalah kalau ada keraguan bisa berkonsultasi kepada gem­bala setempat. Namun sebagai catatan, sebaiknya jangan merencakanan perkawinan terlebih dahulu (mene­tapkan waktu/tanggal pernikahan) kalau halangan-hala­ngan nikah yang bersifat ilahi ini ada karena tidak bisa dimintakan dispensasi.

     Kemudian bagaimana dengan halangan-halangan nikah yang bersumber dari hukum gerejawi? Sebagai contoh saja halangan beda gereja atau beda agama. Halangan beda gereja dapat dimintakan izin kepada Ordinaris Wilayah setempat (Bapa Uskup) dan biasanya kalau tidak ada halangan lain yang dapat meng­gagalkan perkawinan, kemudian status baptisan serta gereja dimana salah satu pasangan berasal (misal: termasuk anggota PGI atau tidak? Baptisannya dengan cara bagaimana? Rumusan/Kata-kata yang menyertai baptisannya trinitaris atau tidak?) jelas dan tak diragukan, dispensasi itu akan diberikan. Kepastian hal-hal ini akan diketahui ketika dilangsungkan penyelidikan kanonik di hada­pan pastor. Karena semua dokumen yang diperlukan yang sudah masuk ke sekretariat akan di-check oleh pastor di hadapan calon pengantin. Kemudian, bagi pasangan yang beragama Katolik, untuk memohon izin nikah beda gereja (juga beda agama) harus membuat perjanjian tertulis (ada form-nya) di hadapan imam yang menyatakan bahwa dia akan memenuhi kewajiban sebagai orang Katolik untuk membaptis semua anak yang lahir dari perkawinannya dan men­didik mereka dalam hal pengetahuan dan praktek hidup sebagai warga Gereja Katolik. Sementara pihak pasangannya (non-katolik) hanya mengetahui saja, tentu dengan membubuhkan tanda tangan dengan niat akan membantu mewu­judkan janji pasangannya itu. Yang intinya bahwa dia tidak menghalangi pa­sangan­nya yang Katolik untuk memenuhi janji yang sudah diucapkan dan ditanda tangani tadi. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) - atau “Codex Iuris Canonici” yakni  Kitab Hukum Gereja Katolik 1983 - dinyatakan demikian:

 

Kan 1124: “Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibap­tis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya setelah baptis, sedangkan pihak yang lain menjadi anggota Gereja atau komunitas gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, tanpa izin jelas dari otoritas yang berwenang, dilarang.

Kan 1125: “Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

10 pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja katolik;

20 mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik;

30 kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.”

     Dari pengalaman penyelidikan kanonik, banyak pasangan katolik yang belum bahkan tidak tahu bahwa harus ada perjanjian seperti di atas. Lalu mereka mulai bingung dan tidak tahu harus bagaimana, saling pandang, dsb. Saya sendiri se­ring mengatakan kalau bertemu dengan pasangan seperti itu, “Silahkan for­mulir ini dibawa ke rumah….bicarakan dan diskusikan…. Ambilah keputusan yang bijak­sana. Tapi ingat bahwa ini bukan hanya bersifat formalitas, yang penting diisi dan ditandatangani supaya boleh mengajukan permohonan dispen­sasi. Me­ngapa? Hal ini nanti akan sangat menentukan kehidupan iman dalam keluarga yang akan dibangun, terutama soal iman anak-anak saudara.” Kemu­dian fakta juga didapat - (semoga saya tidak salah) -  ternyata dalam acara MRT (Mem­bangun Rumah Tangga) yang diwajibkan bagi para pasangan yang mau menikah tidak menerangkan seluk beluk tentang perkawinan campur dan konsekwensi-konsekwesinya, maupun juga prosedurnya. Padahal mereka se­ben­tar lagi sudah mau melangsungkan pernikahan. Waktu sudah “mepet” (singkat). Lalu juga fakta bahwa pasangan calon pengantin yang mengikuti MRT ada bahkan mungkin lebih dari dua pasangan yang akan melangsungkan perkawinan campur beda gereja dan atau beda agama. Hal ini seharusnya menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi para pendamping OMK dan juga panitia MRT yang menyelenggarakan per­siapan perkawinan. Sadarilah hidup berkeluarga tidak hanya soal hidup bahagia yang bersifat duniawi belaka, tetapi sebagai orang beriman, imanlah yang seharusnya menjadi dasar kehidupannya dan ukuran kualitas kebaha­giaannya. Maka dari itu sudah sewajarnyalah kita sebagai orang beriman merasa prihatin bila melihat keluarga-keluarga yang secara duniawi bahagia tetapi menge­sam­pingkan bahkan melupakan kehidupan imannya. à BERSAMBUNG




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan