Halangan-halangan Nikah (13)
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 24 Nov 2018, 21:13:19 WIB Surat Gembala
Halangan-halangan Nikah (13)

Keterangan Gambar : Halangan-halangan Nikah (13)


Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas halangan-halangan: (01) Halangan Umur, (02) Beda Gereja/ Agama, (03) Ikatan Perkawinan Sebelumnya, (4) Halangan Impotensi dan (5) Halangan Pertalian Hukum. Untuk kali ini saya masih melanjutkan tentang halangan (6) Halangan Hubungan Darah minggu lalu:

6.1. Garis keturunan lurus

Kan 1091§1 menegaskan “Tidak sahlah perkawinan an-tara mereka semua yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan ke atas dan ke bawah, baik yang sah maupun yang natural.” UU RI tahun 1974 tentang perkawinan mela-rang perkawinan antara dua orang yang berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau pun ke atas (pa-sal 8a). Halangan garis lurus tidak bersumber dari perka-winan melainkan dari keturunan atau generasi, di mana ke-turunan bisa timbul dari setiap hubungan pria dan wanita, baik dalam perkawinan legitim maupun tidak legitim, baik perkawinan sah maupun tidak sah, baik karena kumpul kebo maupun di luar nikah.

Menurut ketentuan di atas, terhalang untuk saling meni-kah antara bapak dengan anak perempuannya, antara anak laki-laki dengan ibunya (= garis lurus tingkat 1). Halangan ini bersumber dari hukum ilahi, sehingga tidak bisa didispen-sasi oleh kuasa manusiawi mana pun. Dengan demikian, ha-langan ini mengikat baik orang yang dibaptis maupun orang yang tidak dibaptis. (lih. Kan 1078§3).

6.2. Garis keturunan menyamping

Kan 1091.2 menegaskan bahwa dalam garis keturunan menyamping perka-winan tidak sah sampai dengan tingkat 4 inklusif. UU Perkawinan RI 1974 mela-rang perkawinan antara orang-orang yang berhubungan darah dalam garis ke-turunan menyamping, yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya (pasal 8b).

Jadi, menurut ketentuan kanon tidak sahlah perkawinan:

(1) antara saudara dan saudari sekandung (garis keturunan menyamping tingkat 2);

(2) antara paman dan keponakannya (garis keturunan menyamping tingkat 3);

(3) antara saudara sepupu (garis keturunan menyamping tingkat 4).

Beberapa ahli hukum meragu-ragukan apakah halangan garis keturunan me-nyamping tingkat 2 (antara saudara sekandung) berasal dari hukum ilahi atau ti-dak. Demikian juga mengenai perkawinan antara dua bersaudara tunggal bapak atau tunggal ibu. Dalam keragu-raguan, norma praktis yang kiranya perlu dianut ialah bahwa hak setiap orang untuk menikah dengan pasangan yang dipilihnya secara bebas berasal dari hukum kodrat, sehingga sifatnya pasti dan tidak bisa dicabut begitu saja. Oleh karena itu, apa yang pasti dan jelas tidak boleh ditolak atau dilanggar dengan larangan, yang sumbernya meragu-ragukan. Dkl, apa yang pasti lebih diunggulkan atau dimenangkan atas apa yang tidak pasti.

Bagaimana pun juga ketentuan Kan 1091§1&2 dilengkapi dengan ketentuan kan 1078§3 yang menegaskan bahwa Gereja tidak pernah memberikan dispensasi dari halangan nikah dalam garis keturunan menyamping tingkat 2. Dengan de-mikian, halangan nikah dalam garis keturunan menyamping tingkat 2 secara jelas dan pasti merupakan tuntutan dari hukum kanonik, sedangkan dari sudut hukum kodrat masih meragukan. Selanjutnya, halangan garis keturunan menyamping tingkat 3 dan tingkat 4 bisa didispensasi oleh kuasa eksekutif gerejawi, atas alasan yang wajar dan masuk akal dalam kasus khusus.

Kan 1091§4 juga menegaskan bahwa jika ada keraguan apakah pihak-pihak yang bersangkutan masih berhubungan darah dalam salah satu garis keturunan lurus atau dalam garis keturunan menyamping tingkat kedua, perkawinan tidak pernah diizinkan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan