Halangan-halangan Nikah (14)
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 16 Des 2018, 21:40:40 WIB Surat Gembala
Halangan-halangan Nikah (14)

Keterangan Gambar : Halangan-halangan Nikah (14)


Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas ha-langan-halangan: (01) Halangan Umur, (02) Beda Gereja/Agama, (03) Ikatan Perkawinan Sebelumnya, (4) Halangan Impotensi dan (5) Halangan Pertalian Hukum, (6) Halangan Hubungan Darah, dan sekarang kita akan berbicara tentang:

07. Halangan Selibat dalam Tahbisan Suci

Melalui tahbisan suci beberapa orang beriman memperoleh status kanonik yang khusus, yakni status klerikal, yang menjadikan mereka pelayan-pelayan rohani (klerikus) dalam Gereja. Mereka itu adalah Uskup, imam dan diakon (bdk. Kan 207§1, 1008, 1009§1). Bagi mereka ini Kan 1087 menetapkan: “Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang telah menerima tahbisan suci.” Dalam ketentuan ini yang menjadi ha-langan nikah bukanlah status itu sendiri, melainkan tahbisan suci yang telah diterima. Tahbisan suci mengandung pengudusan dan penugasan untuk selaku pribadi Kristus Sang Kepala (in persona Christi Capitis), menurut tingkatan masing-masing, menggembala-kan umat Allah dengan melaksanakan tugas-tugas mengajar, menguduskan dan memimpin (Kan 1008). Selanjutnya, Kan 277§1 menegaskan bahwa para klerikus terikat kewajiban untuk memeli-hara tarak sempurna dan seumur hidup demi Kerajaan Surga, dan karena itu terikat selibat yang merupakan anugerah istimewa Allah. Dengan itu para pelayan rohani dapat lebih mudah bersatu dengan Kristus dengan hati tak terbagi dan membaktikan diri lebih bebas untuk pengabdian kepada Allah dan kepada manusia. Kare-na ketentuan-ketentuan inilah kehidupan sebagai klerikus tidak bisa dihayati bersama-sama (incompatible) dengan hidup per-kawinan. Incompatibilitas ini ditunjukkan beberapa ketentuan lain, Kan 1041,30 menegaskan bahwa seorang calon imam yang telah menikah secara tidak sah, sekalipun secara sipil saja, terhalang tetap (irregularitas) untuk menerima tahbisan suci. Jika ia toh menerima tahbisan secara tidak legitim, ia terhalang tetap untuk

melaksanakan tahbisan yang telah diterimanya secara tidak legitim itu (Kan 1004§1,10). Sedangkan, seorang pria yang telah terikat perkawinan sah, terhalang secara sederhana untuk menerima tahbisan, kecuali jika secara legitim diperuntukkan bagi diakonat tetap (Kan 1042,10).

Namun, kemudian yang harus segera dikatakan ialah bahwa bagi para pelayan rohani selibat seumur hidup diwajibkan semata-mata berdasarkan ketentuan hukum kanonik. Bagi mereka hukum selibat merupakan norma khas Gereja Katolik dari ritus Latin, yang telah dijalankan selama berabad-abad dan akan diteruskan di masa mendatang. Oleh karena itu, halangan nikah tahbisan suci (Kan 1087) adalah norma yang sifatnya semata-mata gerejawi. Jadi pada prinsipnya bisa didispensasi. Namun, dalam tradisi dan praktik selama berabad-abad tidak pernah terjadi bahwa seseorang yang telah masuk dalam jenjang pelayanan suci sebagai seorang selibater memperoleh dispensasi dari selibat dan menikah, sedemikian sehingga di satu pihak ia tetap menghayati status klerikal, menjalan-kan tugas-tugas sebagai uskup, imam atau daikon, dan di lain pihak sekaligus menghayati hidup perkawinan.

Agar seorang yang sudah ditahbiskan sebagai klerikus dapat menikah dengan sah, maka ia harus dibebaskan dulu dari ikatan selibat seumur hidup, yang diterima melalui tahbisan suci. Dengan kata lain, ia harus kehilangan status klerikalnya. Menurut Kan 290 kehilangan status klerikal bisa terjadi:

a. Lewat keputusan pengadilan atau dekret administratif yang menyatakan tidak sahnya penahbisan. Dalam kasus ini status klerikal secara obyektif tidak ada, karena tahbisan suci tidak sah. Di sini kehilangan status klerikal membawa serta secara otomatis dispensasi dari kewajiban selibat (bdk Kan 291).

b. Oleh hukuman pemecatan yang dijatuhkan secara legitim. Menurut Kan 291 kasus ini tidak mengandung dispensasi dari kewajiban selibat. Dispensasi harus diminta secara khusus kepada Paus.

c. Oleh reskrip Takhta Apostolik. Tetapi reskrip itu diberikan oleh Takhta Apostolik kepada daikon hanya karena alasan-alasan yang berat dan kepada para imam hanya karena alasan-alasan yang sangat berat. Selanjutnya, dispensasi dari selibat harus diberikan secara khusus oleh Paus pribadi (Ka 291).

Dispensasi dari selibat hanya diberikan oleh Paus melalui salah satu dari 3 cara ini:

1. Lewat Kongregasi untuk Sakramen-sakramen (jika sipemohon adalah dia-kon diosesan).

2. Lewat Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan (jika sipemohon adalah diakon religius, yang harus memohon juga dispen-sasi dari ikatan kaul kekal).

3. Secara langsung dan personal oleh pribadi Paus sendiri (jika sipemohon adalah imam).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan