Halangan-halangan Nikah (15)
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 16 Des 2018, 21:42:26 WIB Surat Gembala
Halangan-halangan Nikah (15)

Keterangan Gambar : Halangan-halangan Nikah (15)


Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas ha-langan-halangan: (01) Halangan Umur, (02) Beda Gereja/ Agama, (03) Ikatan Perkawinan Sebelumnya, (4) Halangan Impotensi dan (5) Halangan Pertalian Hukum, (6) Halangan Hubungan Darah, (7). Halangan Selibat dalam Tahbisan Suci, dan sekarang kita akan berbicara tentang:

(08) Halangan Kaul Kemurnian dalam Tarekat Religius.

Seperti tahbisan suci yang telah kita lihat bersama ming-gu yang lalu, demikian pula hidup religius tidak bisa dihayati bersama-sama dengan hidup perkawinan, karena seorang religius terikat oleh kaul kemurnian (bdk. kan 573§2, 598§1). Kan 654 menegaskan:”Dengan profesi religius para anggota menerima lewat kaul publik tiga nasehat injili yang harus ditepati, mereka dibaktikan kepada Allah lewat pe-layanan Gereja serta digabungkan dalam tarekat dengan hak serta kewajiban yang ditetapkan dalam hukum.” Selan-jutnya, kan 599 menegaskan bahwa nasehat injili kemurnian yang diterima demi kerajaan Allah, yang menjadi tanda dari dunia yang akan datang dan merupakan sumber kesuburan melimpah dalam hati yang tak terbagi, membawa serta ke-wajiban bertarak sempurna dalam selibat. Kalau bagi para klerikus selibat merupakan ketentuan hukum gerejawi, bagi para religius dihayati sebagai sesuatu yang menyatu dan melekat (inherent) dalam kehidupan religius itu sendiri ber-dasar dan bersumber pada pengikraran kaul kemurnian (bdk. kan 573§1).

Karena inkompatibilitas itulah, seorang religius yang melangsungkan nikah atau mencoba menikah, meski hanya secara sipil, dianggap dengan sendirinya dikeluarkan dari ta-rekat (kan 694§1,20). Selain itu, biarawan berkaul kekal yang

bukan klerikus, apabila mencoba menikah, juga hanya secara sipil, terkena inter-dik yang bersifat otomatis (latae sententiae) (kan 1394§2).

Bentuk kehidupan tetap yang dipersembahkan pengikraran ketiga nasehat injili bisa dipilih dengan sebuah kaul, yakni janji kepada Allah yang dibuat dengan tekad bulat dan bebas mengenai sesuatu yang mungkin dan lebih baik, dan yang harus dipenuhi demi keutamaan religi (kan 1191§1). Pengikraran ketiga nasehat injili juga bisa diungkapkan dengan “ikatan suci yang lain”, misalnya sumpah atau janji sederhana (kan 573§2). Kaul dikatakan bersifat publik jika diterima oleh pimpinan yang sah atas nama Gereja. Jika tidak, kaul bersifat privat (kan 1192§1). Ditinjau dari sudut masa berlakunya, kaul dikatakan bersifat kekal jika diucapkan untuk terakhir kali dan secara defenitif untuk seumur hidup. Sebaliknya, kaul ber-sifat sementara jika berlaku untuk jangka waktu tertentu dan harus diperbaharui kalau sudah jatuh tempo (kan 607§2, 655). Ada kaul yang diucapkan dalam suatu tarekat religius yakni persekutuan di mana para anggotanya menurut hukum masing-masing mengucapkan kaul publik yang kekal, atau sementara tetapi yang pada waktunya harus diperbaharui, serta melaksanakan hidup persaudaraan da-lam kebersamaan (kan 607§2). Ada pula kaul yang diucapkan dalam tarekat-ta-rekat sekular, yakni tarekat hidup bakti, di mana umat beriman kristiani yang hidup dalam tata dunia mengusahakan kesempurnaan cintakasih dan berusaha untuk melaksanakan pengudusan dunia terutama dari dalam (kan 710). Selanju-tnya, ada tarekat religius yang bertingkat kepausan, yakni yang didirikan oleh Takhta Apostolik atau telah disetujuinya dengan dekret resmi; dan ada yang ber-tingkat keuskupan, jika didirikan oleh Uskup Diosesan dan belum memperoleh dekret persetujuan dari Takhta Apostolik (kan 589).

Menurut kan 1088 yang menjadi halangan nikah yang bersifat menggagalkan ialah ikatan kaul kemurnian yang (i) bersifat publik, (ii) dan kekal, (iii) dalam ta-rekat religius. Dengan kaul kekal itulah seseorang mengabdikan diri seluruhnya secara tetap dan absolut kepada Kristus. Oleh karena itu, mereka yang terikat oleh kaul kemurnian sementara tidak terkena halangan nikah. Para eremit, anakorit (kan 603), dan para perawan (kan 604) juga tidak terkena halangan, meskipun mereka ini dapat mengikatkan diri dengan kaul publik dan kekal. Mereka bukan-lah anggota tarekat religius, sehingga kaul mereka bukanlah kaul dalam tarekat religius. Mereka ini terikat oleh “ikatan-ikatan suci” lain yang ditentukan oleh konstitusi masing-masing (kaul privat, sumpah, janji, dsb.), yang pada hakekatnya berbeda dengan kaul dalam tarekat religius. Para anggota serikat hidup kerasulan juga tidak terkena halangan nikah, karena mereka tidak mengucapkan kaul religius (kan 731§1). namun ada juga serikat yang anggota-anggotanya mengha-yati nasehat-nasehat injili dengan suatu ikatan yang ditentukan dalam konstitusi (kan 731§2). Jika mereka ini keluar dari tarekat, mereka tidak memerlukan dispensasi dari kaul kemurnian untuk dapat menikah. BERSAMBUNG




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan