HARI PERINGATAN/PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
( 2 NOPEMBER ) – Bagian 2

By RP. Thomas Suratno, SCJ 28 Okt 2018, 22:43:01 WIB Surat Gembala
HARI PERINGATAN/PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN

Keterangan Gambar : HARI PERINGATAN/PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN


Dalam penanggalan Liturgi 2018, 1 Nopember 2018 Hari Raya Semua Orang Kudus, di bawah (dalam catatan) disebutkan bah-wa (1). Dalam rangka “pengenangan arwah semua orang ber-iman” tgl. 2 Nopember besok, setiap orang kristiani dapat mem-peroleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal. (2). Caranya: mengunjungi makam dan atau mendoakan arwah orang yang sudah meninggal. * yang menjalankan setiap hari da-ri tanggal 1 s/d 8 November memperoleh indulgensi penuh, * yang menjalankan pada hari-hari lain, memperoleh indulgensi sebagian.

Perbedaan antara Penitensi dan Indulgensi

Dengan adanya ajaran tentang Api Penyucian maka muncul pertanyaan bukankah kita sudah memperoleh pengampunan dosa dan menjalankan penitensi (denda dosa) melalui Sakra-men Tobat? Apa sebenarnya perbedaan antara Penitensi dan Indulgensi?

> Penitensi adalah suatu tindakan yang didasari oleh iman, yang dilakukan sebagai silih bagi dosa, untuk memperbaiki hubungan antara kita (sang peniten) dengan Tuhan. Sete-lah kita menerima absolusi dari sakramen Pengakuan dosa dan melakukan penitensinya, maka dosa-dosa kita diha-puskan, kesehatan rohani kita dipulihkan, dan kita dibe-baskan dari siksa dosa kekal-yaitu neraka atau keterpisa-han dari Tuhan. Namun demikian, dapat terjadi penitensi tersebut belum seluruhnya menghapus siksa dosa semen-tara/temporal, sebagai akibat dari dosa kita. Sebab walau-pun sudah diberikan sesuai dengan berat atau tidaknya dosa, seringkali penitensi ini tidak/belum seluruhnya me-ngubah kita untuk menjadi seperti Kristus. Jika kita me-ninggal dunia dalam keadaan seperti ini, maka akan masih ada siksa dosa temporal ataupun konsekuensi dosa yang

harus kita tanggung untuk sementara, dalam proses pemurnian setelah kematian, sebelum kita dapat bersatu dengan Allah yang kudus sempurna dalam Kerajaan Surga. Nah, karena itulah kita memerlukan indulgensi. (Lih. KGK 1459 - 1460)

> Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa dosa temporal, baik seluruhnya atau sebagian, untuk dosa-dosa yang sudah diampuni dalam sakramen Pengakuan dosa. Dengan kata lain, indulgensi dapat menghapuskan seluruhnya atau sebagian dari siksa dosa yang masih harus kita tanggung setelah kematian dalam proses pe-murnian (yang dikenal sebagai Api Penyucian). Nah, karena ditujukan untuk peng-hapusan/pengurangan siksa dosa di Api Penyucian inilah, maka indulgensi juga dapat diperoleh selain untuk jiwa kita sendiri, juga untuk jiwa-jiwa orang lain yang telah meninggal yang kita doakan. Karena bukan hanya kita sendiri saja yang me-merlukan penghapusan ini, namun juga terutama jiwa-jiwa yang lain yang telah mendahului kita, yang sedang menjalani proses pemurnian setelah kematian, sebelum mereka dapat bersatu dengan Tuhan di Surga. (Lih. KGK 1471).

Bagaimana dengan Intensi Misa untuk Peringatan Arwah Semua Orang Ber-iman?

Tradisi-tradisi muncul dalam perjalanan waktu sehubungan dengan perayaan (Misa Kudus) Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Pada abad ke-15, Dominikan menetapkan suatu tradisi di mana setiap imam mempersembahkan tiga Misa Kudus pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Paus Benediktus XIV pada tahun 1748 menyetujui praktek ini dan devosi ini dengan cepat menyebar ke seluruh Spanyol, Portugis dan Amerika Latin. Dalam masa Perang Dunia I, Paus Benediktus XV, menya-dari akan banyaknya mereka yang tewas akibat perang dan begitu banyak Misa yang tak dapat dipersembahkan karena hancurnya gereja-gereja, memberikan hak isti-mewa kepada segenap imam untuk mempersembahkan tiga Misa Kudus pada Peri-ngatan Arwah Semua Orang Beriman: satu untuk intensi khusus, satu untuk arwah semua orang beriman, dan satu untuk intensi Bapa Suci.

Yang jelas kalau kita perhatikan dan renungkan tidaklah cukup jumlah Misa yang dapat kita persembahkan untuk arwah orang beriman dalam setahun (di dunia ini). Nah, untuk mencukupi hal itu tanggal 2 Nopember setiap tahun dipersembahkan se-cara khusus Misa Kudus untuk peringatan arwah SEMUA orang beriman di mana pun tanpa kecuali. Itulah intensi Gereja yang sebenarnya. Dkl. Gereja telah mengintensikan secara khusus bagi semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Seandainya Misa kudus diselenggarakan di (kapel) makam, tidak berarti bahwa misa hanya diper-sembahkan untuk saudari-saudara yang dimakamkan di sana tetapi sekali lagi untuk semua arwah orang beriman di mana pun. Ingatlah bahwa setiap dari (keluarga) kita pasti mempunyai saudari-saudara kita yang telah dipanggil Tuhan, maka ini kesem-patan yang diberikan Gereja untuk kita semua mendoakan sanak keluarga kita yang telah meninggal dunia.

Dengan demikian IDEAL-nya, dalam merayakan Ekaristi pada peringatan arwah semua orang beriman TIDAK PERLU ada intensi khusus lagi dengan

memberikan stipendium dan mendoakan atau harus menyebut/mengumum-kan nama-nama para arwah saudara kita. Cukuplah pada Doa Pembuka diberi waktu hening supaya umat yang hadir dapat mendoakan secara pribadi sau-dari-saudaranya yang sudah meninggal lalu disatukan oleh imam dalam Doa Co-lecta (Pembuka) atau hening pada saat DOA UMAT. Jadi tidak perlu lagi diba-cakan intensi yang jumlahnya ratusan itu sebelum misa dimulai atau dalam misa yang sedang berlangsung, apalagi sampai ada pembakaran kertas “ujub” (intensi) misa. Nah, sehubungan dengan stipendium, jangan sampai memberi kesan seolah-olah hanya umat yang memberi stipendium saja yang memper-sembahkan atau mendoakan arwah orang beriman dalam misa pada waktu itu, yang lain hanya ikutan…. Tidak! Intensi Gereja dalam Misa ini sudah jelas untuk SEMUA arwah orang beriman. Jadi tidak lagi ditentukan dengan memberi sti-pendium atau tidak. Ukurannya bukan stipendium. Apakah tidak boleh memberi stipendium kepada imam yang merayakan Misa untuk itu? Tidak dilarang, hanya saja jangan sampai dengan memberi stipendium itu - (yang bisa mencapai ratusan amplop stipendium sehingga merasa sangat disayangkan atau merasa rugi kalau tidak dite-rima!) – terjadi semacam seolah-olah ada atau mengarah pada SIMONIA (jual-beli Sakramen), sebuah praktek memalukan dalam Gereja kita di masa yang lalu. Selamat menyongsong peringatan/pengenangan arwah semua orang beriman. ***

Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ

(Disadur dari berbagai sumber).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan