KATEKEDE LITURGI (24)
Seputar Hari Jumat Agung

By RP. Thomas Suratno, SCJ 12 Apr 2018, 15:29:27 WIB Surat Gembala
KATEKEDE LITURGI (24)

Keterangan Gambar : KATEKEDE LITURGI (24)


Seputar Hari Jumat Agung

Minggu lalu sedikit bicara tentang Misa Malam Kamis Putih (peringatan perjamuan terakhir), khususnya mengenai Tuguran yang berbeda makna dengan Adorasi. Tuguran sendiri diadakan setelah yakni saat Sakramen Mahakudus dalam sibori dan piksis diarak menuju tempat penyimpanan sementara (tabernakel yang tertutup) di luar gereja dan di situ kemudian diadakan tuguran sepanjang malam. Kali ini saya mengajak Saudara sekalian berbicara sedikit seputar Jumat Agung sebagai Hari Peringatan Yesus Wafat di Kalvari. “Hari Jumat Agung adalah hari laku tapa dan tobat dengan kewajiban berpantang dan berpuasa untuk seluruh Gereja.” Itu yang dikatakan dalam Pedoman Pekan Suci (PPS 60) - Surat Edaran Konggregasi Ibadat tentang Persiapan dan Perayaan Paskah, dikeluarkan pada tanggal 20 Februari 1988. Kemudian pada hari Jumat Agung ini dalam Gereja Katolik tidak diperbolehkan merayakan perayaan Sakramen apapun kecuali Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang sakit atau Minyak Suci (PPS no 61).

Ada suatu kebiasaan menarik sebenarnya, dengan adanya pemindahan Sakramen Mahakudus pada malam sebelumnya (Kamis Putih) menunjukkan ‘gereja kosong’ tidak ada apa-apa, salib pun seharusnya dikeluarkan dari gereja. Namun karena salib gereja pada umumnya besar dan berat dan secara permanen ditempatkan di atas sulitlah untuk diturunkan atau dipindah-pindah. Maka biasanya setelah Misa Kamis Putih salib dalam gereja ditutup kain ungu. Lantas pada hari Jumat Agung (dalam ibadat) Salib itu dibawa masuk kembali dengan kain ungu yang menutupi salib tersebut. Ketika diarak masuk ke dalam gereja, kain penutup dibuka perbagian lantas dihormati ketika diakon atau imam mengangkat salib itu sambil mengucapkan (atau menyanyikan) “Inilah kayu salib, di sini tergantung Yesus Kristus, Penyelamat dunia”. Dan umat menyahut “Mari kita bersembah sujud kepada-Nya.” Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali sampai di depan panti imam (lihat PPS 68). Lalu dilanjutkan dengan acara penghormatan secara pribadi dengan ‘mencium salib’ itu. Sebenarnya “hanya satu salib boleh dipergunakan untuk penghormatan itu agar salib itu mendukung sepenuhnya symbol dari upacara tersebut.” (PPS 69b) Namun karena biasanya umat yang hadir banyak, maka diberkati juga secara terpisah salib-salib yang lain sebagai sarana untuk supaya setiap umat dapat melaksanakan penghormatan pribadi tadi. Dalam PPS 69a dikatakan “Salib harus diunjukkan kepada setiap umat beriman satu persatu pada waktu penghormatan pribadi kepada salib merupakan tanda yang paling penting dalam upacara ini dan hanya bila keadaan mendesak karena jumlah umat yang hadir sedemikian banyak, maka upacara penghormatan salib itu boleh dilaksanakan sekaligus serentak oleh seluruh umat beriman yang hadir”.

Ketika akan mencium salib, imam dan diakon serta umat semua – ada kebiasaan di tempat tertentu – berlutut tiga kali sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai symbol penghayatan bahwa Tuhan Yesus sebelum di salib ‘jatuh tiga kali’. Apakah hal itu dapat dilakukan ditempat kita? Kalau hanya imam mungkin tetapi kalau umat rasanya sulit, karena biasanya antrian sudah panjang. Di samping kebiasaan itu dulu ada juga Imam yang kreatif walau belum tentu benar, yakni dengan alasan inkulturasi, meletakkan salib dalam peti mati lalu umat yang datang menghormat dan menaburkan bunga. Tentu saja kreativitas seperti ini patut dipertanyakan. Karena yang dimaksudkan oleh gereja adalah hanya penghormatan dan itu diungkapkan dengan ‘mencium salib’. Ini gaya orang Roma (Italia) atau Eropa pada umumnya. Ingatlah bahwa liturgi kita memakai ‘Misale Romawi’. Jadi yang dimaksudkan bukan menghadirkan ‘jenazah Yesus’. Sehingga acara ‘tabur bunga’ itu kiranya kurang bahkan tidak tepat walaupun alasan bagus, inkultuasi.

Akhirnya, semoga kita semua dapat memperingati Hari Wafat Tuhan kita Yesus Kristus pada hari Jumat Agung nanti seturut tradisi liturgy gereja Katolik yang baik dan benar.

Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan