KATEKESE LITURGI (10)

By RP. Thomas Suratno, SCJ 11 Des 2017, 13:21:59 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (10)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI


PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Dalam PUMR 73 beberapa poin ditunjukkan kepada kita bahwa ter-nyata ada tata urutan dalam persiapan persembahan: PER¬TAMA di-siapkan altar (korporale, purifikatorium, Misale, dan pia¬la), LALU ba¬-han persembahan dibawa ke altar. Kalau kita lihat dalam praktek se¬-ringkali tata urutannya terbalik. Artinya yang ter¬jadi adalah meng¬-hantar bahan persembahan lebih dulu ke al¬tar kemudian di¬lanjutkan dengan persiapan altar. Hal beri¬kutnya yang harus kita mengerti ada¬lah bahan persembahan yang di¬bawa ke altar yang utama adalah roti dan anggur, se¬dang¬kan piala berikut perleng¬kapannya sudah disiapkan ter¬lebih dahulu di altar atau kreden (me¬ja samping). 

BAHAN PERSEMBAHAN

A. Roti & Anggur
Dulu, dalam sejarah disebutkan bahwa bahan-bahan persembahan itu tidak hanya roti dan anggur tetapi juga hasil kerja/karya umat, seperti barang-barang in natura (uang, hasil panen dan bahkan ha¬sil ternak, dsb.). Maka bahan persembahan itu sudah dikumpulkan sebe¬lum Misa di mulai dan pada waktu (bagian) persiapan persem-bahan langsung diantar ke panti imam. Sekarang, bahan persem-bahan utama adalah Roti dan Anggur yang diantar ini sebenarnya te-tap dan seharusnya mempunyai arti rohani sebagai persembahan umat meskipun sekarang roti dan anggur tidak disediakan sendiri secara langsung oleh umat seperti pada zaman dulu melainkan di-siap¬kan oleh pak koster. Maka sebaiknyalah kalau prosesi me¬ngan-tar bahan persembahan itu dapat menunjukkan arti rohani itu. Alangkah baiknya kalau umatlah yang mengantar  roti dan anggur, lalu diterima oleh imam atau diakon dan diletakkan di atas altar.

B. Kolekte 
Selain dari roti dan anggur juga diterima (uang) kolekte atau bahan persembahan lain untuk orang miskin atau untuk Gereja, namun tidak diletakkan di atas altar, melainkan di suatu tempat lain yang 
pantas. Di mana tempat yang pantas itu. Pada umumnya dimengerti tidak di atas altar, me¬lain-kan di sekitar (dekat) altar. Pada hemat saya, karena kolekte adalah bagian dari persem¬bahan umat maka hendaknya memang pantaslah kalau di tempatkan di sekitar al¬tar, bisa di depan atau bisa juga di samping altar. Hal itu dilakukan seperti ini supaya per¬sembahan ko¬lekte itu tetap dapat dilihat oleh umat bahwa bersama roti dan anggur (yang diletakkan di atas altar), kolekte itu adalah bagian dari persembahan umat kepada Allah. 
Ada satu pertanyaan kritis yang bernada protes dari umat: ”Setelah kolekte selesai, koq uang-nya langsung dimasukkan ke kotak oleh petugas kolekte?  Kolekte kan persembahan un¬tuk Tu-han. Kenapa tdk dipersembahkan dulu pada Tuhan (ditempatkan di bawah di depan meja altar atau dibawa ke depan altar untuk diberkati oleh imam), baru setelah itu dimasukan ke dalam kotak.”
Mungkin mirip tetapi agak berbeda dari apa yang dipraktekkan sampai sekarang di gereja kita (paroki Cilandak), yang mana kolekte dikumpulkan lalu dimasukkan dalam kotak kemudian diletakkan di bagian belakang panti imam (dekat gong), agak jauh dari altar dan bahkan ku¬rang terlihat oleh umat. Lalu bagaimana? Sebaiknyalah kolekte (walau tidak seluruhnya) se¬cara simbolis disertakan dalam perarakan bahan persembahan utama (roti & anggur) yang kemudian diterima oleh imam atau diakon. Lalu, sementara roti dan anggur diletakkan di atas altar, kolekte itu diletakkan di atas meja kecil di bawah bagian depan altar atau di samping altar oleh misdinar. Demikian juga dilakukan bila ada persembahan yang berupa “in natura”.

Catatan penting: 
1. Kolekte adalah bagian persembahan umat kepada Tuhan dalam Misa. Kolekte bukan sum-bangan untuk dana atau kegiatan gereja. Ini dua hal yang berbeda. Maka kolekte tidak perlu diumumkan jumlahnya. Hak pengelolaannya adalah keuskupan, walaupun mungkin saja ke¬mu-dian keuskupan mempercayakan kepada paroki dalam penggunaannya dengan aturan-atu¬ran khusus yang sudah ditetapkan oleh pihak keuskupan. Sedangkan “kolekte ke dua” se¬benarnya tidak ada, kalau toh diadakan (dengan izin Uskup) sebaiknya tidak disebut ‘kolekte ke-2’ melainkan memakai nama yang berbeda supaya tidak rancu dan membingung¬kan. Se¬bagaimana kita ketahui maksud dan tujuan “kolekte ke-2” biasanya untuk sumbangan ke¬giatan gereja, atau bantuan untuk membangun (fasilitas) gereja, dlsb. Maka, bisa saja kita namakan atau kita katakan ”akan ada pengumpulan dana gereja untuk (?)……..maka dari itu akan diedarkan kantong berwarna…. Mohon partisipasi umat”, misalnya.  

2. Kolekte melambangkan partisipasi umat dalam kurban dan menyatakan tanggung jawab¬nya terhadap keperluan ibadat, keperluan umat, dan keperluan-keperluan sosial. Jumlah pe¬tugas kolekte harus cukup banyak, agar pengumpulan kolekte tidak makan terlalu banyak wak¬tu. Hendaknya diusahakan supaya para petugas dipilih dari kalangan umat yang terhor¬mat, yang selalu siap pada waktunya, berpakaian bersih, cermat dan jujur (Pedoman Pastoral Untuk Liturgi – PPUL 35). Sangat dianjurkan supaya jemaat, termasuk juga para pelayan litur¬gi, turut berpartisipasi dalam memberikan kolekte.

3. Pengantaran bahan persembahan dilaksanakan secara sederhana, tidak dengan upacara yang semarak, sebab acara ini barulah persiapan perjamuan. Sangat dianjurkan agar be¬berapa umat turut dilibatkan. Dalam perarakan ini dibawa terutama bahan-bahan persem¬bahan yang akan dipersembahkan dalam Doa Syukur Agung, terutama roti dan anggur. 
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan