KATEKESE LITURGI (11)
KATEKESE LITURGI (11)

By RP. Thomas Suratno, SCJ 11 Des 2017, 13:24:23 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (11)

Keterangan Gambar : Liturgi Ekaristi


KATEKESE LITURGI (11)

Busana Liturgis

Mengapa busana para pelayan (petugas) liturgi (Misa) berbeda-beda satu dengan yang lain? Itulah satu pertanyaan yang sering muncul di antara umat beriman. Memang dalam Perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan dengan busana liturgis yang berbeda pula. Maka, hendaknya busana para pelayan/petugas itu me-nandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis. Sebelum busana (baru) itu digunakan hendaknya diberkati terlebih dulu oleh Uskup/imam (lih. PUMR 335).

Busana liturgis yang lazim dipakai oleh para pelayan ibadat liturgi ialah ALBA (pakaian putih (Latin: alba = putih) panjang; simbol kesucian dan kemurnian yang seharusnya menaungi jiwa diakon/imam yang merayakan liturgi, khususnya Perayaan Ekaristi. Alba dengan warna putihnya itu sendiri secara simbolis mengingatkan kita akan komitmen baptis dan kebangkitan)), yang dikencangkan dengan tali yang disebut SINGEL ((tali pengikat alba pada pinggang ini merupakan simbol nilai kemurnian hati (chastity) dan pengekangan diri)). Kalau model atau bentuk alba tidak menutup kerah baju/ pakaian sehari-hari, maka hendaknya mengenakan AMIK ((adalah kain putih segi empat dengan dua tali di dua ujungnya atau ada juga model modern lain yang tidak segi empat dan tanpa tali. Amik yang melingkari leher dan menutupi bahu dan pundak itu melambangkan pelindung
pembawa selamat (keutamaan harapan), yang membantu pemakainya untuk mengatasi serangan setan)) sebelum alba. “Kalau pelayan mengenakan kasula (untuk imam) atau dalmatic (untuk diakon), ia harus mengenakan alba, tidak boleh menggantikan alba tersebut dengan SUPERPLI ((bahasa Latin super-pelliceum, dari kata super (di atas) dan pellis (bulu) merupakan bagian busana liturgis Gereja Kristen Katolik. Superpli merupakan sehelai tunik dari linen atau katun putih, berlengan lebar atau sedang, panjangnya sepinggang atau selutut. Kadang-kadang diberi hiasan renda atau bordiran, tetapi yang paling sering dijumpai adalah Superpli yang tepinya dikelim)). Juga, sesuai dengan kaidah yang berlaku, tidak boleh pelayan hanya mengenakan stola tanpa kasula atau dal-matik.”(PUMR 336)

Pakaian khusus imam selebran dalam Perayaan Ekaristi adalah KASULA (busana khas untuk imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai un-tuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Warnanya sesuai dengan warna liturgi untuk perayaannya) atau planeta. Kasula dipakai di atas alba dan stola. Sedangkan busana liturgis khusus bagi seorang diakon adalah DALMATIK (busana resmi diakon tatkala bertugas me-layani dalam Misa/Perayaan Ekaristi, khususnya yang bersifat agung/meriah. Busana ini melambangkan sukacita dan kebahagiaan yang merupakan buah-buah dari pengabdiannya kepada Allah). (lih. PUMR 337-338). Sedang AKOLIT (pelayan altar) dan LEKTOR (pembaca Sabda) dan pelayan awam lain diperbolehkan untuk memakai alba atau busana yang lain yang disahkan oleh KWI. Lalu busana liturgis berikutnya adalah PLUVIALE ((Ini semacam mantel panjang (Latin: pluvia = hujan) yang digunakan di luar Perayaan Ekaristi dan dalam perarakan li-turgis)) yang dikenakan imam dalam perarakan atau dalam perayaan liturgis lain seturut petunjuk khusus untuk perayaan yang bersangkutan, misalnya untuk li-turgi pemberkatan. Yang terakhir berkaitan dengan Sakramen Mahakudus adalah VELUM yakni semacam kain putih/kuning/emas lebar yang dipakai pada pung-gung ketika membawa Sakramen Mahakudus dalam prosesi (ingat saat pemindahan Sakramen Mahakudus pada bagian akhir Misa Pengenangan Per-jamuan Tuhan, Kamis Putih malam!) dan memberi berkat dengan Sakramen Mahakudus. Memang unsur busana yang satu ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat berkaitan dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam adorasi atau penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Kain semacam itu biasanya dihiasi. Ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai untuk membawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup itu biasanya berwarna putih saja.

Warna Busana Liturgis 
Putih (cream/kuning) dikenakan pada hari raya, Merah dikenakan pada hari raya Pentakosta (dan saat penerimaan Sakramen Krisma serta peringatan para martir) dan Pink dikenakan pada hari Minggu Gaudete (Hari Minggu Adven III) dan Hari Minggu Laetare (Minggu Masa Prapaskah IV), Hijau dikenakan pada hari Minggu masa biasa, Hitam dikenakan pada misa Requiem namun sekarang jarang dipakai dan warna Ungu sebagai penggantinya. Warna Ungu sendiri selalu dipakai pada masa Prapaskah dan masa Adven.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan