KATEKESE LITURGI (13)
Doa Presidensial

By RP. Thomas Suratno, SCJ 23 Mar 2018, 10:22:06 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (13)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (13)


Perayaan liturgy Ekaristi yang merupakan Ibadat public umat Katolik unsure utamanya adalah DOA.  Ada beberapa doa yang dirangkai dalam ibadat itu yang disebut sebagai Doa Presidensial yakni : Doa Syukur Agung, Doa Pembuka (collecta), Doa Persiapan Persembahan (oratio super oblata) dan Doa Sesudah Komuni (oratio post communione) à (lih. PUMR No. 30).

Doa presidensial adalah doa pemimpin. Kata “presiden” bukanlah semata-mata kata yang menunjuk pada kepala negara, tetapi juga menunjuk pada seorang yang memimpin. Bahasa Inggris “to precide” berarti mengetuai atau memimpin. Doa presidensial dalam perayaan Ekaristi dimaksudkan sebagai doa yang hanya dibawakan oleh pemimpin perayaan Ekaristi dan tidak boleh didoakan oleh umat.

Doa-doa presidensial dalam perayaan Ekaristi adalah Keempat doa ini tidak boleh didoakan oleh umat. Imam pun tidak boleh mengajak umat untuk mendoakan doa-doa ini bersama-sama walaupun teksnya tersedia di tangan umat. Doa presidensial hanya didoakan oleh selebran utama, yakni imam yang memimpin perayaan Ekaristi.

Khusus dalam Doa Syukur Agung, pada prinsipnya selebran utama yang memimpin. Jika ada imam lain yang mengikuti konselebrasi, maka ada bagian-bagian tertentu yang hanya boleh dipimpin oleh selebran utama, dan kepada imam lain sebagai konselebran diberikan bagian-bagian tertentu untuk didoakan (bdk. PUMR No. 216-236). Sedangkan umat hanya menyerukan doa-doa khusus seperti pada bagian Anamnesis dan seruan aklamatif “Amin”.

Doa-doa presidensial ini begitu penting dalam peribadatan gereja sehingga memang dikhususkan bagi selebran utama. Doa-doa presidensial disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat kudus dan semua yang hadir, dan melalui dia, Kristus sendiri memimpin himpunan umat (PUMR No. 30). Maka doa-doa presidensial ini perlu dibawakan dengan suara lantang dan diucapkan dengan jelas sehingga mudah ditangkap oleh umat. Sebaliknya umat wajib mendengarkannya dengan penuh perhatian. Oleh karena itu, sementara imam membawakan doa presidensial, tidak boleh dibawakan doa lain atau nyanyian atau bunyi-bunyi alat musik (PUMR No. 32). Salah satu contoh doa yang hanya boleh dibawakan oleh imam sebagai pemimpin perayaan Ekaristi, dan kemudian di-“amin”-i oleh umat adalah Doa Damai. [Imam:. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Umat: Amin.] Sebaiknya kalau sampai sekarang umat masih diajak untuk ikut mendoakannya, hendaknya kebiasaan ini tidak dilanjutkan.

Doa Pembuka; Doa Pembuka dibuka oleh imam dengan kata-kata “Marilah berdoa”. Lalu ada waktu hening sejenak. Waktu hening sejenak ini adalah saat bagi umat untuk menyampaikan ujud doa masing-masing dalam hati pada Misa Kudus itu; dan imam mempersatukan ujud-ujud pribadi itu melalui doa pembuka atau doa kolekta. Doa Pembuka yang mengakhiri Ritus Pembuka selalu diakhiri dengan rumusan penutup panjang yang Triniter, misalnya: Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan ber-kuasa, Allah, sepanjang segala masa. Umat menjawab: Amin.

Doa Persiapan Persembahan; Seluruh persiapan persembahan ditutup dengan doa persiapan persembahan yang secara harafiah disebut doa atas bahan-bahan persembahan (oratio super oblata). Doa persiapan persembahan ini memang baru ‘mempersiap-kan’ menuju doa persembahan yang sejati, yakni Doa Syukur Agung. Doa persiapan persembahan ini termasuk doa presidensial, yang harus didoakan imam dengan suara lantang dan jelas, dan tangan terentang (PUMR 32, 146). Doa persiapan persembahan ini berisi permohonan kepada Allah agar persembahan yang dibawa umat beriman itu dikuduskan dan dipersatukan dengan kurban persembahan diri Kristus.

Doa Syukur Agung; Doa Syukur Agung (DSA) adalah pusat dan puncak seluruh Perayaan Ekaristi. Doa Syukur Agung juga disebut doa syukur dan pengudusan, yaitu saat Misteri Penebusan Tuhan dihadirkan di altar dan saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. DSA menjadi Doa presidensial utama. Doa Syukur Agung I dalam TPE kita disebut juga Kanon Romawi. DSA I ini merupakan satu-satunya DSA selama kurang lebih 15 abad sejak abad IV-V hingga tahun 1970 ketika terbit TPE sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II. DSA II sampai IV, adalah DSA editio typica, yang terdapat dalam Missale Romanum berbahasa Latin

[Doa dan Salam Damai; Doa Damai sebenarnya doa yang hanya diucapkan oleh imam saja, dan umat menjawab dengan kata “Amin”. Kebiasaan umat yang ikut mengucapkan Doa Damai tidak sesuai dengan makna liturgis doa ini. Salam Damai di antara umat beriman bukanlah untuk saling memaafkan, tetapi pertama-tama untuk menyatakan persekutuan dan cinta kasih umat satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus.]

Doa sesudah komuni; Doa sesudah komuni merupakan doa yang menutup atau mengakhiri Liturgi Ekaristi. Doa sesudah komuni termasuk doa presidential artinya doa yang dibawakan oleh pemimpin seorang diri selaku pemimpin jemaat. Isi doa sesudah komuni umumnya mengungkapkan: syukur atas karunia Ekaristi yang telah dirayakan dan diterima, lalu permohonan agar berkat Ekaristi itu kita bertekun dalam perutusan kita selanjut-nya, dan akhirnya memohon agar nanti diperkenankan mengikuti perjamuan penuh di surga. Dengan demikian, dimensi eskatologis ditampakkan dan dinyatakan dalam doa sesudah komuni, yakni kebahagiaan abadi; supaya buah hasil Ekaristi menjadi daya atau pedoman hidup sehari-hari dan jaminan keselamatan abadi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan