KATEKESE LITURGI (15)
Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu.

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 14:13:37 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (15)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (15)


Dalam rangka berkatekese liturgy lewat Warta Paroki dan sudah disampaikan pada edisi Katekese Liturgi 13 yang lalu, saya mengatakan bahwa “Salah satu contoh doa yang hanya boleh dibawakan oleh imam sebagai pemimpin perayaan Ekaristi, dan kemudian di-“amin”-i oleh umat adalah Doa Damai. [Imam: Tuhan Yesus Kristus, engkau bersabda kepada para rasul, “Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu.” Maka marilah kita mohon damai kepada-Nya. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Umat: Amin.] Sebaiknya kalau sampai sekarang umat masih diajak untuk ikut mendoakannya, hendaknya kebiasaan ini tidak dilanjutkan.” Kemudian juga saya menjelaskan berikutnya demikian “[Doa dan Salam Damai; Doa Damai sebenarnya doa yang hanya diucapkan oleh imam saja, dan umat menjawab dengan kata “Amin”. Kebiasaan umat yang ikut mengucapkan Doa Damai tidak sesuai dengan makna liturgis doa ini. Salam Damai di antara umat beriman bukanlah untuk saling memaafkan, tetapi pertama-tama untuk menyatakan persekutuan dan cinta kasih umat satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus.]”

Ada persoalan apa sebenarnya Doa Damai itu sampai sekarang masih diucapkan bersama-sama (Imam & Umat)?  Yang jelas teks doa itu sama persis dengan Doa Damai yang ada dalam Tata Perayaan Ekaristi yang lama (Edisi percobaan) di mana ditulis setelah kalimat “Maka marilah kita mohon damai kepada-Nya(kalimat ajakan) yang diucapkan oleh imam kemudian disambung/diteruskan/dijawab otomatis oleh umat “Ya Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan … .”  Kemudian dalam teks yang sekarang “sama persis kalimatnya” hanya saja yang menjadi bagian atau jawaban umat sekarang menjadi bagian imam seutuhnya dari atas (awal) dan umat hanya menjawab “Amin”. Lalu apa yang terjadi? Karena umat sudah terbiasa dengan doa damai yang didoakan oleh mereka dulu dalam TPE yang lama dan teks nya sama, maka sulit sekali untuk berubah hanya mengucapkan/menjawab dengan kata “Amin” saja. Mereka tetap mengikuti mengucapkan seperti dulu.

Sekarang banyak usaha baik dari para Uskup dan para imam untuk tidak mengucapkan Maka marilah kita mohon damai kepada-Nyayang merupakan ajakan itu tetapi langsung ke baris di bawahnya ““Ya Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan ….” Dengan harapan Umat menunggu dan supaya hanya menjawab “Amin” saja pada akhir doa. Coba perhatikan sungguh manakala Mgr. Ign. Suharyo kalau sedang memimpin Misa Kudus, pastilah beliau seperti yang saya katakan tadi. Tetapi sebagian umat juga masih ikut mengucapkan “Tuhan Yesus Kristus…” Itulah yang terjadi. Sekarang pun saya mengikuti beliau untuk tidak mengucapkan “ajakan” itu dengan harapan yang sama supaya umat cukup menjawab “amin” saja. Lalu di beberapa rumusan yang dibuat misalnya oleh tim buku “RUAH” diubah sedikit yakni dengan menghilangkan “Maka marilah kita mohon…” kemudian diganti menjadi “Oleh karena itu, Tuhan Yesus Kristus….” Yang diucapkan imam lalu umat hanya menjawab “amin”. Atau dalam buku Misale (Keuskupan Agung Semarang) dirumuskan menjadi “….damai-Ku Kuberikan kepadamu. Jangan memperhitungkan dosa dst.…”.

Inilah sekilas tentang (perumusan) teks Doa Damai yang seharusnya dan sekarang hanya diucapkan oleh imam tetapi sampai sekarang umat tetap ikut mengucapkannya, karena sudah terbiasa dengan teks yang sama dalam TPE yang lama. Maka seperti di atas saya katakan “Sebaiknya kalau sampai sekarang umat masih diajak untuk ikut mendoakannya, hendaknya kebiasaan ini tidak dilanjutkan.” Mari kita ber-Ekaristi yang baik dan benar.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan