KATEKESE LITURGI (17)
KEDUDUKAN & FUNGSI MUSIK LITURGI

By RP. Thomas Suratno, SCJ 23 Mar 2018, 10:37:09 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (17)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (17)


Musik liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam Perayaan Ekaristi:

 

I. Ritus Pembuka:

 

Nyanyian Pembuka; tujuannya adalah membuka misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya (Pedoman Umum Misale Romawi baru / PUMR no. 47-48). Maka dalam memilih Nyanyian Pembuka hendaknya disesuaikan dengan tema Perayaan Ekaristi (yang biasanya ditimba dari pewartaan Injil yang akan dibacakan/diwartakan dalam Misa saat itu). Inilah penting dan perlunya Pemimpin Paduan Suara untuk mempersiapkan lagu-lagu Misa dengan membaca dan merenungkan terlebih dahulu Bacaan Kitab Suci yang akan diwartakan pada Misa Kudus yang akan dirayakan. Kemudian, karena Nyanyian Pembuka bersifat iringan sehingga sangat ideal dinyanyikan selama iringan perakan itu berlangsung (minimal sampai imam dan para petugas liturgy berada di depan panti imam atau bisa juga sampai imam sebelum membuat Tanda Salib). Maka dengan demikian, panjang pendeknya lagu harus diperhatikan.

 

Nyanyian Tuhan Kasihanilah (KYRIE); Kami sifatnya adalah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihannya. Teks liturgi yang resmi adalah: seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, seruan “Kristus kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat - (PUMR no. 52).

 

Nyanyian/Lagu ‘Tuhan Kasihanilah Kami’ adalah nyanyian Misa yang tergabung dalam Ordinarium. Belum lama ini, keputusan hasil rapat Komisi Liturgi KAJ pada tanggal 9 Januari 2018, menyatakan bahwa sementara waktu Nyanyian Ordinarium III « ARSATI » belum diperkenankan untuk dinyanyikan atau dipergunakan dalam Misa Kudus. [Ini sebenarnya sebagai jawaban bagi saya ketika mengadakan pertemuan tentang Musik Liturgi di gedung Leo Dehon beberapa waktu lalu untuk yang bertanya tentang hal ini dan saya mempersilahkan ketua seksi liturgy bertanya kepada KomLit KAJ. Ternyata jawabannya seperti yang telah saya prediksi, karena Ordinarium ini tidak ada dalam Puji Syukur (terbitan KWI) maupun “Gema Ekaristi” yang telah dikeluarkan oleh KAJ]. Mohon hal ini menjadi perhatian bagi para PS/Koor di Gereja St Stefanus Paroki Cilandak.

  

Madah Kemuliaan (GLORIA); Kemuliaan/Gloria adalah komposisi yang paling tua di dalam tradisi gereja. Gloria dinyanyikan secara istimewa dalam perayaan Natal. Lalu Gloria dipakai seterusnya setiap Misa Hari Minggu. “Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman Kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anak domba Allah, serta memohon belas kasihan-Nya.” (PUMR 53) Teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks lain, juga tidak boleh ditambahi atau dikurangi, atau ditafsirkan dengan gagasan yang lain (“Gloria merupakan madah pujian meriah, pujian kepada Allah Bapa yang menurunkan rahmat dan berkat, kemuliaan dan kedamaian bagi manusia yang dicintai-Nya. Gloria merupakan permenungan mengenai Sang Putra yang duduk di sisi kanan Bapa yang Mahatinggi. Roh Kudus disebut pada bagian akhir, tetapi menjiwai seluruh pujian itu” - Bosco da Cunha O.Carm).

 

Catatan:

 

1. Untuk Nyanyian ‘Tuhan Kasihanilah kami’ dan Nyanyian Ordinarium yang lain (Kemuliaan, Kudus dan Anak Domba Allah) harus sesuai dengan teks doa dalam Misale Romawi. Kenyataan di Indonesia (Puji Syukur/Madah Bakti) memuat teks beberapa lagu Ordinarium yang tidak sesuai dengan Misale. Namun karena belum adanya Nyanyian Ordinarium yang baru yang sesuai dengan Misale dan Puji Syukur (khususnya – Buku Doa dan Nyanyian Liturgi resmi KWI) belum ada revisi atau pembaharuan, maka Ordinarium yang ada dalam Puji Syukur kiranya masih tetap bisa dipakai.

 

2. Lagu Ordinarium seyogyanya dipilih dari lagu-lagu yang sudah dikenal umat sehingga umat dapat ikut berperan aktif ikut bernyanyi. Petugas koor diharapkan dapat memberikan teladan menyanyikan lagu Ordinarium dengan tempo dan nada yang tepat sehingga dapat mengajak umat bernyanyi dengan kompak dan serempak. Cukup menyanyikan lagu Ordinarium dengan satu suara (cantus firmus/lagu pokok) sekalipun akan jauh lebih khidmat jika dinyanyikan dengan semangat daripada aransemen dua suara/lebih tapi sumbang menyanyikannya. (Cobalah PS/Koor sambil bernyanyi mendengar pula apakah umat ikut bernyanyi atau tidak? Kalau tidak kenapa? Salah satu fungsi Koor adalah menggerakkan umat untuk ikut bernyanyi, memuji dan memuliakan Tuhan).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan