KATEKESE LITURGI (18)
KEDUDUKAN & FUNGSI MUSIK LITURGI

By RP Thomas Suratno, SCJ 23 Mar 2018, 10:39:03 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (18)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (18)


II. LITURGI SABDA

Nyanyian MAZMUR TANGGAPAN; merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Kalau dikatakan unsure pokok maka Mazmur Tanggapan itu harus ada dalam Perayaan Ekaristi. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah (Bacaan I dari Kitab Suci Perjanjian Lama). Mazmur Tanggapan biasanya diambil dari buku Bacaan Misa (Lectionarium), para petugas / pemazmur biasanya menggunakan buku resmi “Mazmur Tanggapan dan Alleluya Tahun ABC” untuk Misa hari Minggu. Sedangkan pada Misa Harian, hari biasa Mazmur Tanggapan diambil dari buku Bacaan Misa tadi. « Dianjurkan bahwa Mazmur Tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat. Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok. » (PUMR61)

Dalam buku Bacaan Misa (Lectionarum) yang harian tidak tersedia nyanyian mazmur tanggapan  seperti dalam buku resmi « Mazmur Tanggapan dan Alleluya Tahun ABC ». Tetapi kalau pemazmurnya kreatif (dan sedikit mau susah) sebenarnya bisa mencari sendiri dan menyesuaikan dengan lagu mazmur tanggapan yang ada di buku resmi. Mengapa ? Karena pada umumnya nyanyian baik refren maupun ayat-ayat mazmurnya walaupun tidak berurutan. Kemudian « kalau tidak dilagukan, hendaknya mazmur tanggapan didaras sedemikian rupa sehingga membantu permenungan sabda Allah » (PUMR 61).

Nyanyian BAIT PENGANTAR INJIL (BPI) / ALLELUIA ;  « dengan aklamasi Bait Pengantar Injil ini jemaat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil, dan sekaligus menyatakan iman » (PUMR no. 62). Dalam masa biasa, BPI dilagukan dengan « Alleluai » dan sedangkan dalam masa Prapaskah TANPA Alleluia « sebagaimana ditentukan dalam Buku Bacaan Misa atau dari buku Graduale. … dapat juga dilagukan mazmur lainnya atau tractus sebagaimana tersaji dalam Graduale» (PUMR 62-b). Kemudian dikatakan secara tegas bahwa « kalau tidak dilagukan, bait pengantar Injil dengan atau tanpa alleluia dapat dihilangkan. » (PUMR 63-c). Sedangkan : « Sekuensa dilagukan sesudah alleluia. Madah ini fakultatif, kecuali pada Hari Minggu Paskah dan Pentakosta. » (PUMR 64).

Nyanyian AKU PERCAYA (fakultatif, maksudnya boleh tidak dinyanyikan); « seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dari Alkitab dan dijelaskan dalam homili. Dengan melafalkan kebenaran-kebenaran iman lewat rumus yang disahkan untuk penggunaan liturgis, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri iman sebelum mereka merayakannya dalam Liturgi Ekaristi. » (PUMR 67)  Oleh karenanya tidak diperbolehkan menggantinya dengan teks lain.

« Pernyataan Iman (Aku Percaya)  tersebeut dilagukan atau diucapkan oleh imam bersama dengan umat pada hari Minggu dan hari raya. Syahadat dapat diucapkan juga pada perayaan-perayaan khusus yang meriah. Kalau dilagukan, Syahadat diangkat oleh imam atau, lebih serasi, oleh solis atau koor. Selanjutnya syahadat dilagukan entah oleh seluruh jemaat bersama-sama, entah silih berganti antara umat dan koor. Kalau tidak dilagukan, syahadat dibuka oleh imam, selanjutnya didaras oleh seluruh jemaat bersama-sama atau silih berganti antara dua kelompok jemaat. » (PUMR 68)

Hampir setiap kali kita merayakan Eakaristi pada hari Minggu, kita selalu mengucapkan Syahadat Para Rasul (Syahadat pendek). Padahal dikatakan dalam rubrik TPE bahwa « Syahadat Para Rasul, ikrar pembaptisan Gereja Roma, dapat digunakan sebagai pengganti Syahadat Nikea-Konstantinopel (Syahadat panjang-red), terutama pada Masa Prapaskah dan Masa Paskah ». Dengan demikian sebenarnya yang diutamakan adalah Syahdat Panjang karena Syahadat pendek hanya sebagai pengganti, itupun hanya pada masa-masa tertentu. Dan kalau kita perhatikan dan renungkan, Syahadat Panjang itu – karena tidak singkat – pastilah lebih jelas, walau masih perlu dijelaskan dalam katekese. Maka, mungkin baiklah kalau kita (terutama para pemimpin Ekaristi) membiasakan mendaraskan Syahadat Panjang kecuali masa-masa yang disebut diatas seandainya dikehendaki.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan