KATEKESE LITURGI (19)
KEDUDUKAN & FUNGSI MUSIK LITURGI

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 10:42:49 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (19)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (19)


III. LITURGI EKARISTI

Nyanyian PERSIAPAN PERSEMBAHAN; tujuannya untuk mengiringi perarakan persembahan, maka sebaiknya digunakan nyanyian persiapan persembahan. Pada umumnya syair lagunya yang menyatakan persembahan Roti dan Anggur atau sesuatu yang dilambangkan dengan itu. Misalnya persembahan diri, hidup dan karya kita. Kemudian seperti dinyatakan dalam PUMR 74 “Nyanyian itu berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan tertata di atas altar.” Maka sangat baik kalau Paduan Suara / Koor memperhatikan darimana bahan persembahan akan diambil dan dibawa serta disambut imam lalu dibawa ke altar. Hal ini penting supaya PS/Koor dapat memilih jenis lagu iringan bahan persembahan yang tepat dan durasi/panjang pendeknya lagu. Lalu dinyatakan juga bahwa “Kalau tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian.”(PUMR 74)

Nyanyian KUDUS (Sanctus); adalah nyanyian partisipasi umat dalam Doa Syukur Agung. “Seluruh jemaat, berpadu dengan para penghuni surga, melagukan Kudus. Sebagai bagian utuh dari Doa Syukur Agung, aklamasi ini dilambungkan oleh seluruh jemaat bersama imam”(PUMR no. 79 b). Nyanyian Kudus harus diambil dari buku teks resmi (TPE).

Nyanyian BAPA KAMI; “Dalam doa Tuhan, Bapa Kami, umat beriman memohon rezeki sehari-hari. Bagi umat Kristen rezeki sehari-hari ini terutama adalah roti Ekaristi. Umat juga memohon pengampunan dosa supaya anugerah kudus itu diberikan kepada umat yang kudus. Imam mengajak jemaat untuk berdoa, dan seluruh umat beriman membawakan Bapa Kami bersama-sama dengan imam. Kemudian imam sendirian mengucapkan embolisme yang diakhiri oleh jemaat dengan doksologi.”(PUMR 81).  Teks Bapa Kami harus diambil dari buku teks misa resmi (TPE).

Nyanyian ANAK DOMBA ALLAH (Agnus Dei); tujuannya adalah untuk mengiringi pemecahan roti dengan teks misa resmi sbb: “Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami (2 X). Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai.” (PUMR no. 83)

Nyanyian (sesudah) KOMUNI; “maksud nyanyian ini adalah: (1) agar umat secara batin bersatu dalam komuni juga menyatakan persatuannya secara lahir dalam nyanyian bersama, (2) menunjukkan kegembiraan hati, dan (3) menggarisbawahi corak “jemaat” dari perarakan komuni” (PUMR no. 86). Maka lagu komuni harus bertemakan komuni / tubuh dan darah Kristus, tidak tepatlah kalau menyanyikan lagu untuk orang kudus / Maria, Tanah Air, panggilan – pengutusan, atau yang lain.

Naynyian komuni itu “berlangsung terus selama umat menyambut (komuni), dan berhenti kalau dianggap cukup. Jika sesudah komuni masih ada nyanyian, maka nyanyian komuni harus diakhiri pada waktunya.” (PUMR 86) Sedangkan Nyanyian Madah Pujian (sesudah Komuni) dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas santapan yang diterima yaitu Tubuh (dan Darah) Kristus.

Nyanyian PENUTUP; sebenarnya Lagu Penutup itu tidak ada, setidak-tidaknya tidak diatur dalam PUMR. Namun sebagi kebiasaan saleh yang baik yang selalu diadakan sebaiknya tidak dihilangkan. Seandainya lagu penutup diadakan maka maknanya sebagai nyanyian iringan perarakan untuk mengantar imam dan para pembantu-pembantunya meninggalkan altar dan menuju ke sakristi, serta umat yang juga bubar meninggalkan gereja.

Semoga dengan mengetahui kedudukan dan fungsi music liturgy, terutama dalam Perayaan Ekaristi dalam memilih dan melagukannya, kita dapat melaksanakan atau merayakan liturgy Ekaristi dengan baik dan benar.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan