KATEKESE LITURGI (20)
Alat Musik Liturgi

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 10:47:26 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (20)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (20)


Setelah tiga minggu kita bicara tentang Fungsi dan Kududukan Nyanyian Liturgi, kini saya mengajak Anda untuk sejenak menilik alat-alat music yang digunakan dalam liturgy (khususnya Misa Kudus).

Alat Musik Liturgi

Seperti yang kita ketahui bahwa mengenai Musik Liturgi Gereja Katolik, selain disinggung dalam Sacro Sanctum Concilium (SC) – Konstitusi Liturgi, ditulis secara panjang lebar dalam dokumen Musicam Sacram (MS). Penggunaan alat musik yang tepat memang dapat menjadi bantuan yg berarti dalam liturgi. Maka penggunaan yang kurang tepat justeru dapat mengganggu perayaan liturgi. Misalnya saja: Bagaimana dengan volume suara organ yang lebih keras dari pada Paduan Suara, atau alat musik yg memakai daya listrik dan dikeluarkan dengan pengeras suara? Pastilah sangat mengganggu, bukan?. Lalu apa sebenarnya fungsi alat musik dalam liturgi itu? Fungsinya tidak lain adalah mengiringi lagu-lagu yg dimainkan sendiri sebagai instrumental (SC120, MS62). Kemudian dalam MS 64 disebutkan “dapat merupakan dukungan kepada para penyanyi, memudahkan partisipasi umat, dan menciptakan kesatuan hati yang mendalam antar jemaat yang berhimpun.”

Harus diingat bahwa tidak semua jenis teks liturgis yang dapat dinyanyikan perlu diberi iringan alat musik: “kalau suatu bagian diucapkan secara nyaring oleh imam atau salah seorang petugas berhubung dengan tugasnya, alat musik janganlah dibunyikan.”(MS 64). Mengapa dilarang? Supaya umat dapat mendengarkan atau mengambil bagian dalam teks-teks itu dengan baik. (Mis.: doa-doa presidensial).  Iringan baru diberikan ketika umat menjawab “Amin.”  Ada saatnya juga alat musik tdk boleh digunakan, namun bukan secara total. Dalam MS 66 dikatakan bahwa: “Penggunaan alat musik tersebut secara instrumental tdk diizinkan dalam Misa Adven, Prapaskah, Trihari Suci, dan dalam ofisi serta misa arwah.”  Namun masih diperkenankan: memainkan intro dan mengiringi umat atau paduan suara menyanyi. Lalu kapan boleh (diizinkan mengiringi)? Alat musik boleh dimainkan secara instrumental pada saat: 1). perarakan pembukaan Misa sebelum imam sampai altar karena Nyanyian Pembuka (mungkin) sudah berhenti. 2). persiapan persembahan sampai dengan pada waktu imam mengajak berdoa. 3). pada saat komuni. 4). pada akhir Misa untuk mengiringi umat keluar (lih. MS 65)

Alat musik apa saja yang boleh dipergunakan dalam Liturgi?

Pilihan pertama dan utama adalah Orgel pipa. Alat music ini menempati posisi istimewa dalam liturgy gereja (Katolik). Kemudian dalam MS 63 dikatakan bahwa: ”Dalam mengizinkan penggunaan alat musik tersebut (red: dalam liturgy), kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa hendaknya diperhitungkan. Tetapi alat-alat musik yang menurut pendapat umum – dan de facto – hanya cocok untuk musik sekular, haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat.” Dalam hal ini Pimpinan Gereja (Komisi Liturgi dan atau Komisi Musik Liturgi) perlu mengadakan penelitian tentang alat musik tradisional yang akan digunakan dalam Misa. Pertimbangannya secara ringkas antara lain adalah: Apakah alat musik itu sesuai dan dapat disesuaikan dengan fungsi kudus liturgi dan bisa memenuhi tuntutan perayaan liturgis? Apakah cocok dengan keanggunan gedung gereja? Apakah bisa benar-benar membantu untuk menyemarakkan dan memantapkan ibadat kaum beriman (bdk. MS 63.65)? Yang jelas sekarang Orgel Pipa karena harga yang begitu mahal dan orang yang dapat memainkan alat itu tidak banyak, maka Organ biasa (merk Yamaha, Electone, dsb.) yang menyediakan suara orgel pipa (pipe organ) hampir di semua gereja memakainya. Hal ini sangat membantu, walau ada sementara organis yang kemudian cenderung menggunakan jenis suara-suara lain yang diatur sedemikian rupa lalu dimainkan saat mengiringi Paduan Suara/Umat saat Perayaan Ekaristi. Bahkan kemudian ada organis yang memainkannya dengan gaya “konser”, seolah-olah sedang tampil di panggung music konser. INGATLAH: Musik Liturgi itu berfungsi MELAYANI Liturgi, sehingga alat musik pun bertugas membantu perayaan liturgi. Jangan dibalik seolah-olah yang utama penampilan (alat) music liturgy atau sekali lagi tugasnya adalah mengiringi PS/Umat bernyanyi dalam Liturgi. Suatu kenyataan yang mungkin kurang kita sadari bahwa manakala PS dan Musik pengiring “tampil” memukau dalam Misa, sehingga perhatian umat teralihkan dari yang lebih penting yakni ikut dalam partisipasi aktif ikut bernyanyi memuji dan memuliakan Tuhan dalam lagu yang dibawakan. Dkl. umat tidak (tergerak untuk) ikut bernyanyi melainkan hanya menikmati saja. Salah satu factor penyebabnya adalah karena umat tidak tahu yang dinyanyikan itu lagu apa dan dari mana? Dkl. teks tidak tersedia bagi umat. – “Marilah kita belajar berliturgi yang baik dan benar!”.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan