KATEKESE LITURGI (21)
Alat music liturgy

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 14:14:08 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (21)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (21)


Sebagaimana kita bahas minggu lalu memang alat music liturgy yang menempati kedudukan istimewa adalah Orgel pipa. Dengan mendengar suara orgel pipa dalam gereja…pikiran dan hati kita dibawa dalam suasana kekhusukan tersendiri di mana suasana sakralitas itu tercipta sehingga kita dapat merasakan bahwa kita sedang berada di ‘Rumah Tuhan’, lalu suara itu menggerakkan kita untuk hening dan berdoa…. Hanya saja karena mahal harganya dan hanya beberapa orang saja yang bisa memainkan alat itu dengan baik, maka sekarang kebanyakan di gereja-gereja dan kapel dipakailah organ biasa yang bisa mengeluarkan bunyi/suara “pipe organ” walau pun tidak tertutup kemungkinan para organis sering mencampurnya dengan suara-suara yang lain sesuai keinginannya.

Lalu bagaimana dengan alat-alat music lain, termasuk alat music tradisional? Apakah alat-alat itu (misal: piano, gitar, gamelan, kolintang, dan angklung) bisa atau boleh digunakan untuk mengiringi music liturgy? Seperti yang sudah saya kutipkan minggu lalu dalam dokumen Musicam Sacram (MS) 63 dikatakan bahwa :”Dalam mengizinkan penggunaan alat musik tersebut, kebudayaan dan tradisi masing2 bangsa hendaknya diperhitungkan. Tetapi alat2 musik yg menurut pendapat umum – dan de facto – hanya cocok utk musik sekular, haruslah sama sekali dilarang penggunaannya utk perayaan liturgis dan devosi umat.” Dalam dokumen ini menunjukkan bahwa tidak semua alat music bisa dan baik digunakan dalam mengiringi lagu-lagu liturgy.

Apakah selain suara orgel pipa atau pipe organ, suara alat music lain tidak indah/bagus? Permasalahannya tidak di situ, tidak soal keindahan warna (suara) music melainkan soal apakah suara yang dihasilkan itu dapat menciptakan suasana sakral dalam gereja atau tidak. Dentingan suara piano, gitar atau harpa pastilah indah. Gesekan violin atau tiupan seruling, obo atau clarinet juga menghasilkan suara indah. Apalagi kalau semua itu dipadu dalam sebuah konser music….keindahan music pastilah tercipta. Lebih lagi kalau dipentaskan dalam auditorium music yang sangat akustik  akan mengundang detak kagum dan applause yang meriah. Namun Anda semua bisa membayangkan dan merasakan kalau lagu ordinarium biasa (mis: Tuhan kasihanilah kami – Laudasion) diiringi dengan music piano? Pastilah ada sesuatu yang “kurang” cita rasa music ibadatnya.  Begitu juga dengan lagu-lagu (liturgy) yang bergaya daerah (Jawa, Sunda, NTT, Manado, Irian, dll.) pastilah sangat cocok diiringi dengan alat-alat music daerah asal. Tetapi menjadi kurang “sreg” kata orang jawa, bila lagu bernuansa daerah tertentu diiringi dengan music yang berasal bukan dari daerahnya. Rasanya, bunyi atau dan nuansa kedaerahannya memang ada yang “kurang”. Jadi ini bukan soal bisa atau tidak bisa diiringi dengan alat-alat music (daerah) yang ada.

Nah, mengingat apa yang dikayakan dalam MS 63 di atas, baik juga kalau sejenak kita bertanya diri bila dalam perayaan Ekaristi diiringi dengan gamelan, kolintang atau yang lain apakah kita semua dapat merasakan bahwa ketika kita menjadi bagian dari peraya (yang merayakan) Ekaristi sungguh jiwa, hati dan pikiran dibawa ke suasana sacral, dapat berdoa dan bertemu dengan Tuhan? Hal ini penting, karena kita datang ke gereja pada hari Sabtu/Minggu untuk beribadat, bertemu dengan Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Bukan pertama-tama mau mendengar music yang indah dan bagus dalam gereja. Justru yang diharapkan adalah music yang bisa mendukung dan menciptakan, kemudian menghantar hati dan jiwa kita kepada Allah. Inilah salah satu sebabnya mengapa music dalam liturgy itu berperan MELAYANI LITURGI dan bukan sebaliknya.

Bisa jadi banyak umat yang cocok dengan suara gamelan yang pada umumnya membawakan tembang (lagu) yang tidak berirama cepat apalagi gereja kita berbentuk joglo. Nuansa jawanya sangat terasa. Begitu juga dengan music kolintang yang cenderung dimainkan dengan ritme sedang dan cepat mungkin saja sebagian umat (remaja/muda dan berasal daerah asal kolintang atau berasal dari NTT) cocok dengan irama semacam itu. Ini akhirnya memang soal rasa. Orang Eropa sangat akrab dengan suara orgel pipa dan suara itu menjadi suara music khas gereja. Sedang di negara-negara misi yang selalu didorong untuk mengembangkan ‘inkulturasi’ dalam liturgy, khususnya music, tentu saja suara music kedaerahan lebih dekat dan disukai karena cocok dengan rasa hati untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Maka dari itu marilah kita juga mau belajar untuk mengerti (music) liturgi yang baik dan benar!




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan