KATEKESE LITURGI (22)
Peluang dan Tantangan Pencipta Lagu/Musik Liturgi Katolik

By RP. Thomas Suratno SCJ. 23 Mar 2018, 14:13:22 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (22)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (22)


Seperti yang saya singgung dalam katekese beberapa minggu lalu tentang Gereja-gereja local yang memajukan nyanyian-nyanyian liturgy (bercorak budaya) setempat dan banyaknya lagu-lagu yang beredar (digunakan) dalam Misa Kudus yang tidak jelas darimana dan digubah oleh penciptanya untuk apa, lalu tiba-tiba dipakai begitu saja dalam perayaan Ekaristi, ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para Pencipta lagu (umat) Katolik untuk menciptakan nyanyian Ekaristi yang sesuai peruntukannya. Mencipta lagu untuk Misa diharapkan bukan sekedar melodinya bagus dan isinya merupakan ungkapan hati yang bersifat religious (rohani), tetapi sungguh-sungguh lagu itu diciptakan untuk Misa Kudus. Pengajaran dalam syair lagu haruslah ‘benar’ menurut ajaran iman Katolik, atau bersifat biblis (kutipan dari Kitab Suci atau terinspirasikan dari firman Tuhan), atau juga seturut teladan iman para kudus. Kemudian peruntukkan dari lagu yang diciptkankan itu harus jelas untuk apa (dan bagian mana), misal: Lagu pembuka, lagu persiapan persembahan, Lagu (syukur) Komuni dan atau Lagu-lagu untuk para kudus. Lalu, karena akan digunakan untuk nyanyian bersama dalam Misa Kudus, maka sebaiknya isi lagu yang mau diungkapkan bukan menggunakan kata “aku” tetapi “kami”. Ingat bahwa Perayaan Ekaristi adalah perayaan kebersamaan (Gereja), dan umat beriman diharapkan berpartisipasi aktif, termasuk dalam hal bernyanyi, sehingga wajarlah ungkapan “kami” menjadi lebih tepat dibandingkan dengan”aku”, dan perlu diingat juga bahwa “aku” biasanya mengungkapkan (pengalaman) isi hati atau iman sang pencipta lagu yang seringkali tidak sesuai dengan iman Gereja. Namun tidak tertutup kemungkinan yang memakai kata ‘aku’ pun cocok/bisa dipakai untuk nyanyian liturgis.

            Kalau seperti yang saya katakan di atas bahwa situasi dan kondisi di mana banyak Paduan Suara (PS) yang sering mencomot lagu-lagu entah darimana, yang kemungkinan dicipta untuk sekedar mengungkapkan isi hati atau pengalaman religious si pencipta dengan melodi yang bagus, tanpa dilihat dan diteliti syairnya (sesuai dengan ajaran Katolik atau tidak), dan dinyanyikan begitu saja padahal  tidak ada kaitannya dengan bagian-bagian Misa Kudus, sehingga terjadi seolah-olah Paduan Suara hanyalah (semacam) ‘tampil’. Tidak jelek bahkan mungkin dinilai indah sekali lagu itu dan dinyanyikan secara sempurna oleh PS. Tapi karena tidak ada hubungannya dengan bagian Ekaristi (biasanya disisipkan untuk Lagu persiapan persembahan atau Lagu - syukur - Komuni) sehingga kuranglah maknanya bahkan tidak mencapai sasarannya. Kalau boleh saya menggambarkannya, sama seperti para main sepakbola yang bermain cantik sekaligus bersemangat untuk meng-gol-kan bola (‘lagu’) di gawang lawan (‘misa kudus’). Karena terlalu semangatnya para pemain lupa akan aturan main (‘peran dan tujuan music liturgi’) dan ternyata memang ‘offside’ (ada yang tidak sesuai dengan aturan), sehingga walau pun gol (indah dan sempunrna) langsung saja di ‘anulir’ (tidak diakui) oleh wasitnya. Sayang sekali bukan? Inilah perlunya mengapa kita harus sungguh mengerti apa makna ‘liturgy Katolik’ terlebih dahulu, supaya kita tidak jatuh hanya pada pertanyaan ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’ menggunakan lagu ini atau lagu itu. Itu sebabnya juga perlunya ‘katekese liturgy yang memerdekakan’ (yakni liturgy yang dirayakan dan dirasakan menghasilkan rahmat pengudusan sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik) seperti yang dicanangkan dalam Ardas KAJ 2016-2020. Pengandaiannya bahwa kita harus mengakui bahwa sebenarnya dalam berliturgi sampai saat ini belumlah mencapai yang terbaik atau ‘sempurna,’ maka kita masih perlu belajar dan berlatih terus-menerus.

            Satu hal lagi, dalam mencipta lagu Misa Kudus, haruslah membuat lagu yang dapat mengungkapkan cita-rasa ‘kekudusan’ (sakralitas) dalam lagu itu, baik isi syair maupun melodi dan dapat menciptakan nuansa kesakralan saat lagu itu dinyanyikan oleh seluruh peraya dalam Misa Kudus, baik oleh PS maupun oleh dan bersama umat. Lagu yang dicipta untuk saat ini bisa dan boleh yang bernuansa lokal (gaya kedaerahan) seperti yang dikembangkan oleh PML (Pusat Musik Liturgi – Yogyakarta) maupun – menurut opini saya – lagu dalam budaya kekinian, jaman “Now” istilah populernya sekarang (Misalnya lagu-lagu Ekaristi yang benar dan dapat dipakai untuk perayaan khusus bagi Ekaristi Kaum Muda - EKM). Apakah mudah menciptakan lagu untuk perayaan Ekaristi seperti itu? Menurut pendapat dan pengalaman saya, tidak mudah. Namun tetaplah hal ini menjadi peluang dan yang sekaligus menjadi tantangan bagi para pencipta music liturgy Katolik untuk berkreatifitas membuat lagu-lagu Misa yang sesuai dengan kaidah-kaidah liturgy. Sekali lagi music dalam liturgy itu melayani Liturgi dan bukan sebaliknya. Maka marilah kita mulai berliturgi yang baik dan benar.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan