KATEKESE LITURGI (23)
Apakah TUGURAN sama dengan ADORASI?

By RP. Thomas Suratno, SCJ 12 Apr 2018, 15:27:26 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (23)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (23)


Apakah TUGURAN sama dengan ADORASI?

Tiga hari yang lalu sesudah Adorasi di lantai 4 Gedung Leo Dehon, ada seorang OMK datang kepada saya dan bertanya: Apakah dalam acara ‘Tuguran’ setelah misa Kamis Putih malam (yang ke-2) nanti boleh diiringi dengan lagu-lagu Taize? Saya tidak menjawab langsung tetapi saya balik bertanya, dengan maksud mengajak tukar fikiran karena dia sudah dewasa dan aktif dalam ber-Adorasi. Pertanyaan saya: apa bedanya ‘Tuguran’ dengan ‘Adorasi’? Mengapa dinamai ‘Tuguran’ dan bukan ‘Adorasi’ saja? Mungkin baiklah kali ini saya akan menjelaskan secara singkat tentang kedua hal tersebut.

Adorasi (= sembah sujud) dan "Salve" (= Pujian). Keduanya sering disebut dengan kebaktian Sakramen Mahakudus. Salve mirip dengan Adorasi, tetapi seluruh waktu didominasi dengan pujian-pujian bersama, entah doa atau nyanyian. Adorasi yang kita kenal sampai saat ini adalah Ibadat pujian dan penyembahan terhadap Sakramen Mahakudus yang ditahtakan dalam Monstrans. Adorasi yang dijalankan intinya adalah penyembahan dan pujian kepada Sakramen Mahakudus yang diungkapkan lewat doa dan lagu-lagu pujian yang pada akhir ibadat ditutup dengan Berkat Sakramen Mahakudus.

Tuguran adalah suatu adorasi juga (sembah sujud), yakni ibadat dihadapan Sakramen Mahakudus tetapi Sakramen Mahakudus-nya tidak ditahtakan dalam Monstrans melainkan disimpan dalam Tabernakel, piksis/Sibori secara tertutup. Ibadat ini diselenggarakan dalam rangkaian Perayaan Ekaristi ‘Kamis Putih’ (Peringatan Perjamuan Terakhir) yang pada akhir Misa, semua Roti Ekaristi yang telah di konsekrir (biasanya disimpan dalam tabernakel dalam gereja) diarak menuju tempat penyimpanan sementara yang telah dipersiapkan. Kemudian di tempat itu umat diajak untuk mengadakan acara ‘tuguran’. Tuguran ini bertujuan dan merupakan bentuk partisipasi umat dalam doa untuk menemani Yesus di Taman Getsemani. Di taman itu Yesus berdoa semalaman sebelum diri-Nya disiksa oleh serdadu Yahudi pada waktu itu. Pantaslah kiranya kalau disitu umat menemani Yesus dalam kesedihan hati dengan pertama-tama menciptakan suasana hening. Bisa juga dengan berdoa yang mengungkapkan rasa ikut bersedih dengan apa yang akan menimpa Tuhan Yesus keesokan harinya (Jumat Agung: Yesus wafat di salib). Apakah boleh bernyanyi? Bernyanyi tidak ada larangan asal saja mencerminkan suasana derita hati Yesus yang sedang menghadapi kesedihan karena besok akan menghadapi kematian. Maka pilihlah lagu/nyanyian yang mencerminkan suasana seperti itu (bukan lagu riang atau pujian gembira). Bagaimana dengan jenis lagu-lagu Taize? Sebenarnya cocok tetapi perhatikan syairnya apakah menggambarkan kesedihan Yesus. Jangan-jangan walau melodi lagunya bernada sedih (feeling orang Indonesia) tetapi syair yang diungkapkan justeru ‘memuliakan’ atau bernada ‘pujian,’ padahal Tuhan Yesus sedang berdoa dan menderita menghadapi saat-saat kematian yang semakin dekat. Begitu juga dalam tuguran dipersilahkan membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Dalam Pedoman Pekan Suci no 56 (Surat Edaran Kongregasi Ibadat Tentang Persiapan dan Perayaan Paskah) dikatakan: “hendaknya disertai bacaan sebagian Injil Yohanes (Bab 13-17).” Lalu diingatkan juga “Bagaimanapun juga, sesudah pukul 24.00, sembah sujud harus dilaksanakan tanpa kemeriahan lahiriah, karena Hari Kesengsaraan Tuhan sudah mulai.” Dari sini jelaslah sesudah pukul 12 malam hendaknya suasana hening sangat ditekankan.

Kemudian dalam Pedoman Pekan Suci no 55 dikatakan bahwa “Sakramen Mahakudus harus disimpan di dalam Tabernakel atau Piksis atau Sibori yang tertutup. Sekali-kali Sakramen Mahakudus tidak boleh ditahtakan dalam monstrans. Tempat di mana tabernakel atau piksis/sibori

ditempatkan tidak boleh dibuat menyerupai makam dan hiasan yang menggambarkan “makam” harus dihindari; karena ruang penyimpanan itu tidak dipersiapkan untuk menghadirkan kembali ‘pemakaman Tuhan’ tetapi untuk penyimpanan Roti Ekaristi yang akan dibagikan dalam Komuni pada hari Jumat Agung.”

Semoga dengan penjelasan singkat ini akhirnya kita tahu bedanya antara TUGURAN dan ADORASI terutama dalam hal maknanya, sehingga dalam pelaksanaannya nanti kita tahu persis apa yang harus kita lakukan dan akhirnya mencapai tujuan serta makna yang mau kita hayati, lalu kita sungguh dapat mewujudkan serta merasakan buah-buah rohaninya.

Oleh RP. Thomas Suratno, SCJ.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan