KATEKESE LITURGI (26)
VIGILI PASKAH / PERAYAAN MALAM PASKAH

By RP. Thomas Suratno, SCJ 12 Apr 2018, 15:35:19 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (26)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (26)


VIGILI PASKAH / PERAYAAN MALAM PASKAH

Perayaan Malam Paskah yang kita pakai sekarang ini merupakan bentuk yang sudah diperpendek dari bentuk aslinya. Pada zaman dahulu, umat berkumpul semalam suntuk (Latin: Vigilia, yang berarti berjaga-jaga sepanjang malam) pada malam Paskah. Menurut anggapan mereka, kebangkitan Yesus terjadi pada pagi hari sekitar pukul 03.00 sd 04.00. Pada saat itulah mereka mulai bersorak-sorai: YESUS SUDAH BANGKIT, sambil menyalakan Lilin Paskah sebagai lambing Yesus yang bangkit, mengadakan pembaptisan-penguatan, penerimaan kembali para pendosa ke dalam persekutuan Gereja. Selanjutnya diadakan Perayaan Ekaristi sebagai tanggapan atas seluruh Trihari Suci.

Malam itu, sampai saat kebangkitan Yesus, umat merenungkan pelbagai macam bacaan, diselingi doa, khotbah atau renungan pribadi, nyanyian, dan lain sebagainya. Tema pokok renungan adalah seluruh karya penyelamatan Allah, yang memuncak pada pembangkitan Yesus dan pelantikannya menjadi Penyelamat bangsa manusia. Renungan mereka mulai dari karya penciptaan, dilanjutkan dengan dengan kenangan akan pelbagai tindakan Allah sebelum Kristus. Mereka mengutamakan teks-teks yang menceritakan nubuat atau pralambang dari Yesus; bukan mengenai peristiwa pribadi Yesus yang bangkit dan hidup baru, melainkan mengenai peristiwa Yesus sebagai permulaan karya penyelamatan-Nya bagi kita, perhatian dan semua manusia. Dalam karya penyelaman Kristus bagi kita, perhatian khusus diberikan pada baptisan; pada malam inilah para katekumen dibaptis.

Dalam struktur liturgy sekarang, Vigilia dipersingkat menjadi hanya 2 atau 4 jam saja, yang seluruhnya ditegaskan sebagai perayaan Kebangkitan. Oleh karena itu, perayaan tidak mulai dengan melanjutkan suasana menunggu, tetapi langsung dengan merayakan Yesus yang bangkit, yang dilambangkan dengan liturgy Lilin Paskah. Selanjutnya diadakan renungan panjang mengenai seluruh karya penyelamatan Allah, dari penciptaan sampai Injil mengenai warta pertama bahwa Yesus telah bangkit (dan penampakan pertama). Bagian ini memang masih mempunyai struktur yang sama dengan Vigilia dulu. Sesudah renungan panjang, ada upacara pembaptisan dan pembaharuan janji Baptis.

Dengan demikian, selesailah sudah perayaan Trihari Suci. Dengan mengikuti peristiwa hidup Yesus langkah demi langkah, perayaan ini ditutup dengan tanda roti-anggur semeriah mungkin, untuk mensyukuri peristiwa puncak penyelamatan, yaitu wafat-kebangkitan Yesus Kristus.

 

HARI RAYA PASKAH

 

Dengan mengetahui liturgy yang seperti diuraikan di atas, maka sekarang kita mengerti bahwa pada Malam Paskah disebut sebagai Vigilia Paskah (berjaga-jaga sepanjang malam) dan pada hari berikutnya (Minggu) disebut Hari Raya Paskah. Dengan liturgy Malam Paskah yang sekarang mungkin ada yang bertanya-tanya misalnya: Dengan mengikuti Malam Vigili Paskah itu apakah sudah otomatis sudah merayakan Hari Raya Paskah atau belum? Pertanyaan ini bisa dimaklumi. Mengapa? Karena sekarang kata “vigili” itu menjadi populer lagi, padahal liturginya sudah dipersingkat dan tidak untuk semalam suntuk. Bacaan sudah dikurangi hanya 5 bacaan Kitab Suci dari Perjanjian Lama (PL). Itu pun masih bisa dikurangi menjadi 3 bacaan PL, dan kemudian bacaan tetap Epistola dan Injil dari Perjanjian Baru. Upacara Lilin Paskah dan Pembaptisan (dan pembaharuan janji Baptis) serta dilanjutkan dengan Ekaristi sebagai perayaan syukur sudah dirayakan. Maka lengkaplah sudah. Dengan memperhatikan semuanya itu, maka sebenarnya Perayaan Malam Vigili Paskah sudah mencakup Perayaan Paskah juga. Lalu bagaimana Hari Raya (Minggu) Paskah-nya? Kenyataan sekarang banyak umat yang tidak hadir dalam Misa Hari Raya Paskah ini dan ada kecenderungan Hari Raya Paskah menjadi Hari Raya Paskah Anak-Anak. Hal ini disebabkan karena setelah Misa Hari Raya Paskah (pagi) diselenggarakan acara Mencari Telur Hias Paskah bagi anak-anak. Itulah faktanya. Apakah itu salah atau tidak boleh ? Masalahnya tidak di situ melainkan harus dilihat dari apa yang sudah diuraikan di atas. Kalau memang perayaan Vigili Malam Paskah sudah

menjadi perayaan (lengkap) Paskah, maka tidak bisa disalahkan kalau umat yang sudah hadir pada Malam Paskah itu kemudian tidak lagi datang menghadiri Hari Raya Paskah pagi harinya. Hanya saja harus dimengerti bahwa tetap terbuka dan boleh mengikuti Hari Raya Paskah pagi.

 

Oleh : RP. Thomas Suratno, SCJ.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan