KATEKESE LITURGI (28)
Minggu II Paskah = Minggu Kerahiman Ilahi

By RP. Thomas Suratno, SCJ 07 Apr 2018, 22:31:12 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (28)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (28)


Dalam kalederium liturgi (Katolik) diterangkan bahwa Hari Ming­gu Paskah II merupakan Minggu Kerahiman Ilahi. Lalu di­katakan pada catatan bahwa Pada “Hari Minggu Kerahiman Ila­hi”, setiap orang Katolik dapat memperoleh indulgensi penuh. Syaratnya: menerima Sakramen Tobat; menerima Sakramen Eka­risti pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi; dan berdoa dalam ujud Sri Paus. Menegenai indulgensi pada Hari Minggu Kerahiman Ila­hi ini telah diumumkan pada tanggal 29 Juni 2002 dalam DEKRIT PENITENSIARI APOSTOLIK.

Pada tahun 2015-2016, diseluruh dunia dicanangkan oleh Paus Fransiskus sebagai Tahun Kerahiman Ilahi  yang berjudul “Mi­sericordiae Vultus” atau “Wajah Kerahiman,” tepatnya tang­gal 8 Desember 2015 sebagai pembukaan tahun Yubileum Kera­himan Ilahi sampai tanggal 20 November 2016. Lalu di Keusku­pan Agung Jakarta pada tahun 2016 mengambil tema Kerahiman Ilahi Sebagai Implementasi Penghayatan Iman akan Sila yang Pertama dari Pancasila, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sehu­bungan dengan itu terbitlah buku yang berjudul “Pope Francis – The Name of God is MERCY” yang kemudian diterjemahkan oleh P. A. Heuken SJ dan diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Caraka  dengan judul “Paus Fransiskus – Nama Allah Adalah Kerahiman”, pada tahun 2016. Menurut hemat saya, semua ini tidak terlepas dari apa yang dialami dan akhirnya diakui oleh Gereja Katolik bahwa pengalaman rohani, penampakan Yesus, kepada Suster Faustina Kowalska. Yang kemudian kita ketahui bersama bahwa suster ini di kanonisasi sebagai seorang kudus, Santa Faustina.

Kerahiman Ilahi adalah sebuah DEVOSI KATOLIK kepada cin­ta belas kasih Allah dan keinginan untuk membiarkan cinta dan rahmat tersebut mengalir melalui hati seseorang terhadap orang-orang yang membutuhkan hal itu. Devosi ini terkait dengan penampakan Yesus yang diterima Santa Maria Faustina Kowalska (1905–1938), yang dikenal sebagai Rasul Kerahiman Ilahi. Faustina Kowalska menuturkan sejumlah penampakan, visi,

dan percakapan dengan Yesus yang ditulisnya dalam buku hariannya, yang kemudian diterbitkan sebagai buku  Diary: Divine Mercy in My Soul (terjemahan: Buku Harian: Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku). Tiga tema utama devosi ini adalah untuk meminta dan mendapatkan kerahiman Allah, untuk percaya kepada rahmat Kristus yang berlimpah, dan akhirnya untuk menunjukkan kerahiman kepada sesama dan bertindak sebagi saluran untuk kemurahan Allah terhadap mereka. Devosi ini meliputi doa khusus seperti Koronka Ke­rahiman Ilahi. Devosi Kerahiman Ilahi diikuti oleh lebih dari 100 juta umat Katolik, (Am With You Always by Benedict Groeschel 2010, ISBN 978-1-58617-257-2 page 548).

Fokus utama dari Devosi Kerahiman Ilahi adalah cinta belas kasihan Allah dan keinginan untuk membiarkan cinta dan rahmat tersebut mengalir melalui hati seseorang terhadap orang-orang yang membutuhkan hal itu.  Seperti disebutkan tadi bahwa tiga tema utama da­lam devosi kerahiman ilahi yang pertama dan kedua ialah untuk meminta dan men­da­patkan kerahiman Allah, untuk percaya kepada rahmat Kristus yang berlimpah. Hal ini berhubungan dengan keterangan "Yesus, aku percaya kepada-Mu" pada gambar Kerahiman Ilahi dan Faus­tina menyatakan bahwa pada 28 April 1935, hari pertama Minggu Kerahiman Ilahi dirayakan, Yesus memberi tahukan kepadanya, "Setiap jiwa yang percaya dan mem­per­cayakan diri kepada Kerahiman-Ku akan mendapatkannya." Kemudian yang ketiga, untuk me­nunjukkan ke­ra­himan kepada sesama dan bertindak sebagai saluran untuk kemurahan Allah terhadap mereka  tercermin dalam pernyataan "Serukan Kerahimanku demi para pen­dosa" terkait de­ngan Yesus pada buku harian Faustina (Buku Catatan I, hal 186–187). Per­nyataan ini diikuti di dalam buku harian dengan sebuah doa spesifik singkat: "Ya Darah dan Air, yang telah me­mancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami, aku percaya kepada-Mu." yang turut disarankan Faustina untuk Jam Kerahiman Ilahi. Pada buku hariannya (Buku Catatan II, hal 742) Faustina menulis bahwa Yesus memberitahukan kepadanya, "Aku menuntut darimu perbuatan belas kasih, yang timbul karena cinta bagi-Ku." dan ia men­jelaskan bahwa terdapat tiga cara melakukan belas kasih kepada sesama: pertama dengan perbuatan, kedua dengan ucapan, ketiga dengan doa.

Devosi Kerahiman Ilahi memandang kerahiman dan belas kasih sebagai elemen kunci dari rencana Allah untuk menyelamatkan dan menekankan keyakinan bahwa melalui kerahiman­lah Allah memberi Putra-Nya yang tunggal untuk penebusan umat manusia, setelah keja­tu­han Adam.

Suster Faustina menulis bahwa dalam penglihatannya Yesus menyuruhnya bahwa Pesta Kerahiman Ilahi (hari Minggu sesudah Paskah) didahului dengan Novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada Jumat Agung dan berakhir pada Minggu Kerahiman Ilahi. Dalam buku hariannya, Faustina menulis bahwa Yesus mengkhususkan pukul 3 setiap sore sebagai waktu di mana kerahiman terbuka, dan menyuruhnya berdoa Koronka Kerahiman dan menguduskan Gam­bar Kerahiman Ilahi pada waktu tersebut. Pada 10 Oktober 1937, dalam buku hariannya (Bu­ku Catatan V, hal 1320) suster Faustina menulis pernyataan Yesus ini: “Begitu engkau men­dengar jam berdentang pada pukul tiga, benamkanlah dirimu sepenuhnya ke dalam ke­rahiman-Ku, sembari sujud menyembah dan memuliakannya; mohonlah kemahakuasaan-Nya bagi seluruh dunia, teristimewa bagi orang-orang berdosa yang malang; sebab saat itu belas kasih dibuka lebar bagi setiap jiwa”. Pukul 3 sore merupakan waktu di mana Yesus wa­fat di kayu salib. Waktu ini disebut "jam Kerahiman Ilahi".

Semoga devosi Kerahiman Ilahi ini tumbuh dan berkembang dalam diri setiap orang beriman Katolik di mana saja berada, tak terkecuali di paroki Cilandak ini, sehingga semakin banyak orang yang berdoa dan mendoakan orang-orang berdosa (termasuk diri kita) untuk mem­per­oleh kerahiman ilahi. Terimakasih Tuhan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan