KATEKESE LITURGI (29)
TATA PERAYAAN MISA YANG BENAR - 1

By RP. Thomas Suratno, SCJ 14 Apr 2018, 21:40:00 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (29)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (29)


Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tahun 2005 yang lalu dicanangkan sebagai Tahun Ekaristi. Pada hari Kamis Putih 17 April 2003, Paus John Paul II menerbitkan sebuah ensiklik khusus tentang Ekaristi, Ecclesia de Eucharistia [Ensiklik no 52]. Paus memberikan mandat kepada Kongregasi untuk Ibadat dan Disiplin Sakramen-sakramen bekerja sama dengan Kongregasi Ajaran Iman untuk mempersiapkan instruksi yang berisikan disiplin tentang Sakramen Ekaristi.  Instruksi itu telah selesai 19 Maret 2004 dan diterbitkan pada tanggal 25 Maret 2004 dengan judul Redemptionis Sacramentum (artinya: Sakramen Penebusan) yang berisi 8 bab dan memuat 186 artikel. Instruksi tersebut ditandatangani Prefek Kongregasi untuk Ibadat dan Disiplin Sakramen-sakramen, Francis Cardinal Arinze dan sekretaris Uskup Agung Domenico Sorrentino. 

Instruksi ini mengungkapkan bahwa selama ini, ada banyak penyimpangan dalam pelaksanaan perayaan Ekaristi, yaitu adanya ungkapan-ungkapan dan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tradisi dan ajaran Gereja Katolik Roma, sehingga ada ketimpangan antara lex orandi dan superficial. Padahal tidak seorangpun, bahkan tidak seorang imam pun boleh mengubah, menambah atau menggantikan liturgi gereja, kecuali Tahta Suci dan Uskup diosesan dalam batas-batas wewenang menurut hukum. Pada tahun 1970, Vatikan telah mengumumkan bahwa segala bentuk eksperimen yang berhubungan dengan Misa agar dihentikan. Permintaan ini diulangi lagi pada tahun 1988. Namun yang terjadi adalah improvisiasi dan eksperimen masih terus berlangsung di banyak tempat dan oleh banyak imam dan awam. Tahta Suci merasa prihatin akan hal ini dan merasa perlu mengeluarkan instruksi tentang Misa Kudus, agar kesucian dan sifat kesatuan universal ritus Roma tidak dilukai dan menjadi kabur. Maka dalam Bab III (Tata Perayaan Misa Yang Benar) dan seterusnya dalam Instruksi ke-VI “Redemptionis Sacramentum” itu disebutkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1. Khotbah dalam Misa
Seorang awam, bahkan seorang bruder/suster, tidak boleh membacakan injil dalam Misa, hanya imam [ no. 63 ]. Kemudian Bacaan Kitab Suci tidak boleh dihilangkan atau diganti atas inisiatif sendiri atau diganti dengan bacaan-bacaab non Biblis. [ no. 62 ]. Dan lebih tegas lagi bahwa awam termasuk seminaris, mahasiswa teologi dan petugas pastoral tidak boleh berkotbah dalam Misa Kudus. [ no. 64, 66 ]. Hanya imam yang berkotbah, dan kotbah tsb. harus berdasarkan Kitab Suci dan berujung pangkal pada Kristus, bukan hanya berceritera tentang politik atau hal-hal profan. [ no. 67 ]. Lalu jika ada awam ingin bersaksi tentang kehidupan Kristianinya, kesaksian tersebut sebaiknya dilakukan di luar Misa. Hanya dengan alasan khusus dan berat, kesaksian iman dapat diizinkan dalam Misa, namun hal itu dilakukan sesudah Doa Penutup. [ no. 74 ]. 

2. Menyambut Komuni Kudus
Untuk menyambut Hosti Kudus, seseorang harus bersih dari dosa berat. Karena itu, setiap orang yang memiliki dosa berat, harus menerima Sakramen Tobat sebelum dapat menyambut Komuni Kudus. Imam yang berdosa, tidak boleh merayakan Misa sebelum menerima Sakramen Tobat. [ no. 81 ]. Sedangkan tatacara menyambut Komuni Kudus dikatakan bahwa umat boleh menyambut Hosti Suci dengan berlutut/berdiri, menerimanya dengan lidah/di tangan. Namun bila ada bahaya profanisasi, Hosti tidak diberikan di tangan penyambut. Hosti harus segera dikonsumsi di hadapan imam/ prodiakon, tidak boleh dibawa pergi. Umat tidak boleh mengambil sendiri Hosti dengan tangannya, juga tidak boleh saling memberikan Hosti Suci satu sama lain, seperti yang terjadi misalnya pada Misa Pernikahan, di mana kedua mempelai saling memberikan Hosti Suci. [ no. 94 ] karena hanya imam atau prodiakon yang boleh memberikan Hosti Kudus. Pada umumnya umat menyambut komuni dalam satu rupa, yaitu Tubuh Kristus. Umat boleh menyambut dalam 2 rupa yaitu Tubuh dan Darah Kristus, namun penyambutan Darah Kristus hanya dapat diberikan dalam keadaan tertentu di mana tidak ada resiko profanisasi/umat tidak terlalu banyak/tidak akan ada banyak sisa sesudah semua menyambut. Melihat syarat ini, tidak mungkinlah umat menyambut dalam 2 rupa dalam Misa Minggu di mana banyak umat yang merayakan Ekaristi. 
Di samping itu jika Darah Kristus akan disambut, umat menyambutnya dengan meminumnya langsung dari piala atau dengan mencelupkan/menggunakan sendok/pipet. Di Indonesia yang paling sering terlihat jika umat menyambut dalam 2 rupa, maka umat mencelupkan Hosti ke dalam piala. Akan tetapi Roma menyatakan bahwa umat tidak boleh mencelupkan Hosti ke dalam piala. [ no. 104 ]. Kemudian umat menerima Hosti yang tercelup langsung dari imam dan diterima di mulut, bukan di tangan. [ no. 103 ]. ( BERSAMBUNG

Catatan: 
1. Menerima dengan mulut artinya umat yang akan menerima Komuni Kudus harus membuka mulut dengan menjulurkan lidahnya. Kemudian imam menerimakan atau meletakkan Hosti Kudus di atas lidah, lalu umat menyantap/menelan-Nya.
2. Apakah perlu menerima Hosti Kudus dengan/sambil berlutut? Saya berpendapat sebaiknya begitu. Saya mengatakan demikian untuk mempermudah penerimaan itu sendiri. Ini bisa dibandingkan dengan mengingat atau melihat pada penerimaan Komuni Kudus dalam Misa Tridentine (Ritus Latin - Misa Extra Ordinaria): sekaligus memberi hormat pada Sakramen Mahakudus dengan berlutut dan menerima langsung pada lidah untuk menghidari profanisasi.
3. Bagaiamana dengan para Pro-diakon? Bisa didiskusikan… yang penting jangan asal karena dulu boleh maka sekarang harus boleh.

 Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan