KATEKESE LITURGI (30)
TATA PERAYAAN MISA YANG BENAR - 2

By RP. Thomas Suratno, SCJ 29 Apr 2018, 11:26:45 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (30)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (30)


Sambungan:

Masih melanjutkan disiplin tentang Sakramen Ekaristi yang termuat dalam Redemptoris Sacramentum (Sakra­men Penebusan) yang diterbitkan pada tanggal 25 Ma­ret 2004 yang lalu, sekarang kita menyoroti perihal Sa­lam Damai dan Doa Syukur Agung. Mungkin ada yang bertanya instruksi ini sebenarnya ditujukan kepada sia­pa? Apakah hanya untuk para uskup dan gembala saja (imam)? Mengapa? Karena kelihatannya memang seper­ti­nya ditujukan hanya kepada para pemimpin Gereja saja. Namun sesungguhnya Instruksi Redemp­tionis Sa­cra­mentum ini ditujukan tidak hanya kepada para us­kup, imam dan diakon, tetapi juga kepada seluruh umat beriman [no. 2]. Karena itu, setiap orang Katolik, apakah imam, diakon atau awam, boleh mengaju­kan ke­luhan kepada uskup setempat jika dia menemukan penyim­pangan dalam liturgi Ekaristi. Bahkan dia boleh meng­a­jukan keluhan kepada Tahta Suci. Namun semua ke­luhan itu harus dilakukan dalam kebenaran dan cinta kasih [ no. 184 ].

3. Salam Damai

Pelaksanaan Salam Damai yang benar adalah dilakukan sesaat sebelum komuni, bukan pada waktu sebelum persembahan. Dan ‘salam damai’ hanya dilakukan ter­hadap orang berdekatan, sebelah kanan dan kiri, tidak boleh berjalan ke mana-mana dan membuat suasana ga­duh, sehingga mengganggu kesakralan Misa. Kemu­dian, Imam sendiri memberikan ‘salam damai’ kepada para pe­tugas Misa, namun tetap berada di panti imam. Dengan alasan tertentu, imam dapat juga memberikan ‘salam damai’ kepada be­berapa umat. Yang harus di­mengerti dan hendaknya se­lalu diingat bahwa ‘salam damai’ ini hanya menandakan perdamaian, kesatuan dan cinta kasih sebelum menerima Hosti Kudus dan bukan merupakan suatu tin­dakan rekonsiliasi/penghapusan dosa [no. 71, 72].

4. Doa Syukur Agung

a. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Katekese Liturgi beberapa minggu lalu se­hu­bungan dengan doa pemimpin dalam perayaan Ekaristi, di sini ditegaskan kem­­bali bahwa Doa Syukur Agung (DSA) adalah doa presidensial, sehingga doa ini hanya boleh diucapkan imam, tidak boleh diucapkan diakon, prodiakon/umat, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama [no.52]. Hal ini menunjukkan bahwa ada praktek Misa yang doa-doa pemimpinnya didoakan oleh tidak hanya oleh (para) imam.

b. Secara khusus tentang DSA itu sendiri dinyatakan bahwa seorang Imam tidak boleh menggubah sendiri atau mengubah DSA menurut seleranya sendiri [no. 51]. Kalau kita lihat dan bandingkan, Dalam Tata Perayaan Ekaristi (TPE) Indo­nesia dulu memiliki DSA yang dialogis dan partisipatif, padahal yang diper­bo­lehkan adalah ’sisipan’, artinya tidak mengubah DSA dan hanya ditambah si­sipan baru yang berbentuk ‘kalimat pendek’ yang diulang-ulang oleh umat. DSA yang diakui Roma sampai sekarang dan dipakai secara universal hanya DSA 1 s/d 4, sisanya dari 5 s/d 10 belum mendapat persetujuan Tahta Suci [ no. 54 ].

c. Masih dalam rangka DSA dalam praktek ada Imam yang memecah-mecahkan Roti Ekaristi pada waktu kata-kata Institusi diucapkan padahal Imam tidak boleh memecahkan Hosti pada waktu konsekrasi itu [no. 55]. Tindakan ini hanya boleh dilakukan pada saat pengucapan ‘Anak Domba Allah’. Yang menandakan bahwa walaupun umat Allah terdiri dari banyak orang, sesungguhnya adalah satu ke­satuan karena berasal dari satu Tubuh yaitu Kristus [no. 73].

d. Ada juga yang bertanya mengapa nama uskup setempat harus diucapkan dan bukan nama uskup kita masing-masing (sesuai dari mana asal-usul umat)? Ke­biasaan ini sudah mentradisi dimana nama paus dan nama uskup setempat harus diucapkan dalam DSA. Tradisi ini berasal dari tradisi yang sangat kuno dan me­rupakan manifestasi dari kesatuan seluruh gereja [ no. 56 ].

Demikianlah beberapa instruksi yang terdapat dalam Redemptoris Sacramen­tum. Semoga kiranya kita semuanya menjadi tahu dan mengerti bila ada be­berapa yang memang harus dikoreksi, baik imam maupun umat yang meraya­kan Ekaristi. Tujuannya tidak lain supaya keprihatinan Tahta Suci itu dirasakan juga oleh kita semua, yakni agar kesucian dan sifat kesatuan universal Ritus Roma tidak dilukai dan menjadi kabur.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan