KATEKESE LITURGI (31)
Saat Hening

By RP. Thomas Suratno, SCJ 07 Mei 2018, 08:47:14 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (31)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (31)


Dalam menjalankan Misa Kudus atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Perayaan (Sakramen) Ekaristi, suasana sakral yang tercermin dalam suasana hening, khusuk dan khidmat dalam berdoa menjadi ke-khas-an ibadat jemaat Katolik. Hal itu dapat kita lihat dari perjalanan tatacara Misa Kudus itu sendiri. dari dulu hingga sekarang.  Namun, apakah aturan dan praktek saat hening itu masih dilaksanakan? Tidakkah kenyataannya dalam merayakan perauyaan Ekaristi sekarang ini, apalagi dengan sebutan PERAYAAN, suasana hening itu sudah semakin terkikis sehingga yang terasa justru bukan keheningan tetapi sebaliknya, suasana meriah, gembira, dan kesakralan dalam gereja Katolik pun semakin jauh. Bahkan kalau kita perhatikan kalau ada saat hening (tidak ada aktivitas) sedikit saja umat atau petugas sudah mulai gelisah, lalu segera saja umat diajak bernyanyi. Hal ini menunjukkan bahwa kita sudah kurang bisa menghargai saat hening atau bahkan tidak tahu lagi saat hening itu untuk apa. Lalu kalau kita amati suasana dalam gereja, sikap hati dalam menjaga keheningan dalam gereja seringkali tidak terjaga. Lalu bagaimana sebenarnya soal (hening) ini khususnya pada saat merayakan Ekaristi? Kapan hal itu seharusnya dilakukan?

1. Persiapan Perayaan Ekaristi; Ketika umat masuk gereja untuk merayakan Ekaristi dan perayaan itu sendiri belum dimulai, saat hening hendaknya sudah terjadi sebagai persiapan hati untuk masuk dalam Misa Kudus. Bagaimana realitanya? Tidakkah yang kita lihat dan mungkin ktia mengalami sendiri bahwa suasana hening belum bahkan tidak tercipta karena banyak umat yang justru karena Misa belum mulai, mereka mulai berbisik-bisik ngobrol dengan teman sebelah? Tidak hanya  itu karena tidak ada teman yang diajak ngobrol maka HP terus diaktifkan dan digunakan dalam gereja? Padahal waktu atau saat itu bisa dijadikan waktu persiapan Misa dalam hati secara pribadi dengan berdoa dan merenung karena sebentar lagi ktia akan berjumpa dengan Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Ingatlah tujuan utama kita ke gereja mau bertemu Tuhan dan berdoa kepada-Nya!!! Bukan yang lain!!!

2. Persiapan Tobat; Pada awal Ekaristi kita selalu dajak untuk hening sejenak untuk memeriksa batin kita masing-masing. Sadarilah bahwa kesadaran hadir di hadapan Tuhan menyadarkan diri kita bahwa kita adalah orang berdosa, orang yang tidak layak di hadapan-Nya, maka kita membutuhkan pengampunan-Nya sehingga kita pantas untuk masuk dalam misteri perayaan Ekaristi yang kita rayakan.

3. Doa Pembuka; Pada waktu Imam yang memimpin Misa Kudus mengajak umat dengan kata-kata "Marilah kita berdoa" dalam doa pembuka, seterusnya dilanjutkan dengan hening sejenak. Doa Pembukaaan Misa dalam bahasa latin disebut "Collecta". Kata collecta ini mengingatkan kita akan kolekte (pengumpulan uang persembahan). Memang "collecta" artinya adalah menumpulkan. Nah, kalau ini menjadi nama doa pembuka, maksudnya adalah mengumpulkan, merangkum semua doa yang dipanjatkan dalam hati umat yang merayakan Ekaristi. Maka dari itu ketika hening sejenak semua umat hendaknya berdoa dalam hati masing-masing apa yang menjadi intensinya. Imam sendiri mempersembahkan intensi misa yang telah dibacakan sebelum misa dimulai. Setelah hening sejenak kemudian Imam mengumpulkan, menyatukan dan merangkum semua doa itu dalam Doa Pembuka yang disebut "Collecta itu.

4. Liturgi Sabda; Secara lebih luas saat hening bisa diartikan juga bahwa umat hendaknya diam dan tidak bicara. Ketika Sabda Tuhan dibacakan atau diwartakan oleh Lektor/Lektris dan Imam, sikap umat yang tepat tidak lain adalah DUDUK dengan sopan (kecuali ketika Imam membacakan Injil umat berdiri). DIAM (hening), telinga hati memusatkan pada Sabda yang diwartakan artinya umat MENDENGARKAN lektro/lektris yang sedang membacakan Sabda. Sikap umat yang diharapkan BUKAN justru membaca teks bacaan misa sendiri-sendiri atau dkl. membaca bersama-sama, melainkan umat justru harus mendengarkan Lektor/Lektris yang sedang mewartakan Sabda Tuhan. Begitu pula ketika Imam membacakan Injil dan berhomili. Sikap umat hendaknya diam mendengarkan! Dikatakan dalam Buku Misa Imam, dalam rubriknya setelah bacaan Sabda (pertama dan kedua) "Umat hening sejenak untuk meresapkan Sabda Allah." Bahkan juga saat hening itu diadakan setelah homili. Dikatakan dalam rbriknya: "Sesudah homili, dadakan saat hening sejenak".

Sehubungan dengan Pewartaan dan Penjabaran Sabda Allah dikatakan dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no. 29 demikian: "Bila Alkitab dibacakan dalam Gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira, sebab Ia hadir dalam sabda itu. Oleh karena itu, pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam liturgi. Umat wajib mendengarkannya dengan penuh hormat... Sabda itu akan dipahami secara lebih penuh dan lebih berhasil guna bila dijabarkan secara konkret. Ini dilakukan dalam homili, yang merupakan bagian dari perayaan litrugis."

Pertanyaan reflektif:
(1) Siapkah kita menciptakan kesakralan dalam Misa Kudus dengan sungguh menjalankan "saat hening" dalam setiap merayakan Perayaan Ekaristi?
(2) Masih perlukah teks Bacaan Misa dicetak/diperbanyak?

(BERSAMBUNG)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan