KATEKESE LITURGI (36)
E K A R I S T I

By RP. Thomas Suratno, SCJ 05 Jun 2018, 22:12:58 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (36)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (36)


Di dalam dokumen “Misteri Ekaristi” (Eucharisticum Mysterium, 25-5-1967) EM 6 dikatakan “Katekese mengenai misteri Ekaristi harus diarahkan pada penyadaran para beriman, bahwa perayaan Ekaristi benar-benar merupakan pusat seluruh kehidupan kristen, baik pada tingkat Gereja semesta maupun pada tingkat jemaat-jemaat lokal. Karena ‘semua sakramen lain, seperti juga segala pelayanan Gereja dan karya kerasulannya, erat berhubungan dengan Ekaristi Kudus dan diarahkan kepadanya. Sebab di dalam Ekaristi Mahakudus terangkumlah seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, kurban Paskah dan Roti kehidupan kita yang memberikan hidup kepada sekalian orang melalui daging-Nya, yang berkat Roh Kudus menjadi hidup dan menghidupkan. Dengan demikian manusia diundang dan dibimbing untuk mempersembahkan diri mereka sendiri, segala jerih payah mereka dan seluruh alam ciptaan bersama dengan Kristus.’

Oleh Ekaristi ditandakan secara tepat dan dihasilkan secara menakjubkan partisipasi dalam hidup Allah dan persekutuan umat Allah yang merupakan dasar keberadaan Gereja. Disitulah puncak karya Allah menguduskan dunia dalam Kristus, dan juga puncak kebaktian yang diberikan manusia kepada Kristus dan dengan pengantaraan Dia kepada Bapa dalam Roh Kudus. Perayaan Ekaristi adalah “sarana yang paling membantu para beriman untuk mengungkapkan dalam hidup mereka dan menunjukkan kepada orang-orang lain misteri Kristus dan hakekat Gereja yang sejati.”

Dari kutipan di atas menunjukkan kepada kita semua bahwa Ekaristi benar-benar suatu anugerah yang tak ternilai dari Allah, yang mana di dalamnya terkandung karya Allah yang menyelamatkan manusia beriman yakni dengan menguduskan setiap dari kita yang menerima dan menyantapnya. Dari sebab itu, di setiap Gereja (kita semua) merayakan perayaan Ekaristi bukanlah sekedar perayaan melainkan merayakan pertama-tama merayakan kehadiran Kristus sendiri: dalam jemaat yang berkumpul atas nama-Nya (bdk. Mat 18,20). Ia juga hadir dalam sabda-Nya (liturgi Sabda), karena Ia sendirilah yang berbicara, bila mana dalam Gereja Kitab Suci dibacakan. Kemudian dalam kurban Ekaristi, baik Kristus hadir dalam diri pribadi pelayan (imam) “karena samalah Dia yang kini mempersembahkan diri lewat pelayanan imam dengan Dia yang dulu mengurbankan diri di kayu salib” (Konsili Trente, Sess.XII, dekr. ttg. Misa, bab 2: DS 1743), maupun terutama dalam rupa Ekaristi (SC 7), sebab dalam sakramen ini Kristus hadir secara istimewa: Secara penuh dan utuh sebagai Allah dan manusia, dengan wujud yang nyata dan lestari. Kehadiran Kristus dalam rupa roti dan anggur ini “disebut nyata, hanya untuk menggarisbawahi keunggulannya, dan sama sekali bukan untuk menyarankan bahwa kehadiran-Nya yang lain itu tidak atau kurang nyata (Paulus VI, Ensiklik Mysterium Fidei: AAS 57 (1965) [EM 9].

Mengenai Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi dalam Perayaan Ekaristi “merupakan satu tindak ibadat, sebab tujuan Liturgi Sabda untuk mengembangkan kaitan erat antara mewartakan dan mendengarkan Sabda Allah dengan misteri Ekaristi (PO 3-4). Maka bila umat beriman mendengarkan Sabda Allah, mereka hendaknya menyadari bahwa keajaiban-keajaiban yang diwartakan itu mencapai puncaknya dalam misteri Paskah, yang dikenangkan secara sakramental dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian kita, umat beriman akan dikuatkan oleh Sabda Allah yang telah mereka dengar, dan dalam suasana hati yang penuh syukur dihantar ke partisipasi yang pernuh buah dalam misteri-misteri penyelamatan”. [EM 10]

Dari sini kita pun bisa merenung sejenak, karena begitu pentingnya pembacaan Kitab Suci dalam Liturgi Sabda yang menghantar umat beriman pada misteri Ekaristi Paskah, maka sejauh mana kita sungguh menjadi layak menyambut Ekaristi kalau kita tidak “sempat” mendengar Sabda Tuhan? Hal ini sering dipertanyakan oleh umat beriman: bolehkah umat menyambut Komuni Kudus kalau sudah terlambat mengikuti Perayaan Ekaristi, terutama kalau sudah sampai bacaan I atau II atau bahkan Injil? Dengan mengingat begitu luhur dan mulianya Ekaristi Kudus, silahkan Saudara merenungkan sendiri dan mencari serta menemukan jawaban dari pertanyaan itu dari tulisan refleksi di atas. – BERSAMBUNG

Oleh: RP. Th. Suratno, SCJ.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan