KATEKESE LITURGI (4)
Mimbar (Ambo)

By RP. Thomas Suratno, SCJ 22 Mar 2018, 11:50:31 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (4)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (4)


Terkadang kita melihat pemandangan dalam gereja ada dua mimbar kembar yang diletakkan sejajar. Lalu di satu pihak muncul pujian “bagus ya mimbarnya…dua lagi….” Di lain pihak yang kritis bertanya “mimbar dalam gereja itu satu atau harus dua?” Untuk apa saja?

Mari kita lihat apa yang dikatakan tentang mimbar dalam PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi). Dijelaskan bahwa “keagungan sabda Allah menuntut agar dalam gereja ada tempat yang serasi untuk pewartaan sabda, yang dengan sendirinya menjadi pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda. Sebaiknya tempat pewartaan sabda itu berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya “standar” yang dapat dipindah-pindahkan. Sesuai dengan bentuk dan ruang gereja masing-masing, hendaknya mimbar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman. Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Juga homili dan doa umat dapat dibawakan dari mimbar. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana.” (PUMR 309).

Lihatlah dan amatilah mimbar yang ada di gereja kita. Siapa dan apa saja yang dilakukan di sana. Kemungkinan besar sudah seperti yang dikatakan dalam PUMR tersebut. Tetapi kalau kita cermati apa yang dikatakan PUMR ada satu hal yang tidak harus di sana, yakni doa umat. Mengapa? Karena dikatakan “…doa umat dapat dibawakan dari mimbar.” Jadi sebenarnya kalau dikatakan demikian Doa Umat itu tidak dibawakan di mimbar tetapi di tempat lain. Hanya saja seandainya seperti sekarang dibawakan di mimbar hal itu diperbolehkan. Mungkin saja ada alasan praktis mengapa demikian: ruang panti imam yang tidak besar atau mau dibawakan di mana kalau harus terpisah dengan mimbar?

Lalu hal berikutnya adalah “Sebaiknya tempat pewartaan sabda itu berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya “standar” yang dapat dipindah-pindahkan.” Bagaimana di gereja kita? Sejauh yang bisa kita amati mimbarnya belum tetap dan masih bisa dipindah-pindahkan. Bentuknya sendiri masih seperti “standar”. Dan seandainya kita mau membuat yang berbentuk mimbar harus juga memperhatikan motif bangunan altar gereja kita. Hal ini diharapkan ada keserasian di sana, bahkan juga dengan Kursi Imam Selebran. Dikatakan juga di atas tentang mimbar bahwa “Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana.” Dari sini jelaslah bahwa mimbar jangan digunakan untuk “apa saja”.

Menjawab pertanyaan kritis di atas, sebenarnya sudah sangat jelas bahwa jumlah mimbar di dalam gereja hanya satu, yakni yang untuk pewartaan. Lalu bagaimana dengan yang sering disebut « mimbar imam » sekarang ini? Sebenarnya tidak ada. Imam Selebran membuka dan menutup Misa Kudus dikatakan dari tempat duduknya (lih. PUMR 211). Lalu dalam sejarah, dulu yang melayani imam untuk memegang dan menyangga Buku Misale adalah seorang misdinar di depan Imam Selebran (lih. PUMR 189). Sehingga tidak dibutuhkan standar atau “mimbar imam” itu. Mungkin, sekarang dirasa bahwa itu kurang “sreg” kalau masih dilakukan oleh seorang misdinar karena bisa digantikan dengan “yang lebih pas” dengan standar, atau karena tidak mau merepotkan atau menambah tugas para misdinar maka tejadilah yang sekarang ini. Imam dibuatkan standar. Lalu seolah-olah di dalam gereja ada dua mimbar – apalagi kalau bentuknya sama - padahal fungsinya berbeda.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan