KATEKESE LITURGI (40)
E k a r i s t i  –  5

By RP. Thomas Suratno, SCJ 01 Jul 2018, 10:02:42 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (40)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (40)


Kalau minggu lalu dibahas tentang penerimaan Komuni Kudus dalam satu rupa, kali ini saya mengajak untuk melihat dan merenung sejenak tentang penerimaan Komuni Kudus dalam dua rupa. Apa yang dikatakan dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR)? Dalam PUMR 281 dikatakan bahwa: “Sebagai tanda, komuni kudus mempunyai bentuk yang lebih penuh kalau disambut dalam rupa roti dan anggur, sebab komuni-dua-rupa itu melambangkan dengan lebih sempurna perjamuan ekaristi. Juga dinyatakan dengan lebih jelas bahwa perjanjian yang baru dan kekal diikat dalam Darah Tuhan. Kecuali itu, lewat komuni-dua-rupa tampak jelas juga hubungan antara perjamuan ekaristi di dunia dan perjamuan eskatologis dalam kerajaan Bapa.” Lalu dalam nomor berikutnya ditegaskan bahwa: “Para gembala umat beriman hendaknya berusaha, agar orang-orang beriman yang menyambut komuni-dua-rupa atau yang tidak menyambut diingatkan akan ajaran katolik tentang komuni kudus, sesuai dengan dokumen Konsili Trente. Terutama hendaknya ditekankan, bahwa baik dalam komuni-roti maupun dalam komuni-anggur seluruh sakramen dan seluruh Kristus disambut seutuhnya. Jadi, orang yang komuni hanya dalam satu rupa, sama sekali tidak dirugikan karena mengira tidak mendapat cukup rahmat yang perlu untuk keselamatan.” (PUMR 282)

Dari penjelasan di atas menjadi terang bahwa penerimaan Komuni Kudus dalam dua-rupa itu tidak dilarang. Lalu pertanyaannya sekarang: mengapa dalam Gereja Katolik pada umumnya jarang melayani Komuni dalam dua rupa? Sekali lagi yang terpenting adalah pengertian dan kepercayaan bahwa yang diterima itu adalah Tubuh (dan Darah) Kristus, yakni buah korban salib Yesus yang menguduskan kita. Kemudian “Terutama hendaknya ditekankan, bahwa baik dalam komuni-roti maupun dalam komuni-anggur seluruh sakramen dan seluruh Kristus disambut seutuhnya.” Baru kemudian bagaimana cara menyambutnya dan kapan boleh menerima Komuni dalam dua rupa itu? PUMR juga sudah menjelaskannya: “Kalau Darah Kristus disambut dengan minum dari piala, sesudah menyambut Tubuh Kristus, orang yang menyambut menghadap petugas yang melayani piala, dan berdiri di depannya. Pelayan berkata: “Darah Kristus”, penyambut menjawab: “Amin”. Lalu pelayan menyerahkan piala kepada penyambut. Penyambut memegang sendiri piala itu dan minum darinya, lalu mengembalikan piala kepada pelayan. Kemudian, penyambut kembali ke tempat duduk, dan sementara itu pelayan membersihkan bibir piala dengan purifikatorium.” (PUMR 286). Kemudian diterangkan juga bahwa “Kalau komuni-dua-rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: “Tubuh dan Darah Kristus”. Penyambut menjawab:” Amin”, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk… “ (PUMR 287)

Dari sini mungkin saja ada umat yang (sering) melihat, jika komuni diberikan dalam dua rupa umat yang mengambil sendiri dikarenakan kedua tangan pastor berisi (piala dan sibori) jadi tidak bisa memberi komuni dari tangan pastor itu sendiri dan tidak ada pendamping. Apakah itu dianggap sah atau bagaimana? Pelanggaran terhadap aturan demi baik dan layaknya tidak menggagalkan sahnya sakramen. Maka kita bisa menilai bahwa praktik itu sebagai kurang layak. Terapannya: praktik penerimaan komuni dua rupa dengan cara umat mengambil sendiri dan mencelupkan sendiri adalah tidak pas; selayaknyalah imam tersebut kalau mau memberikan komuni dua rupa ia dibantu atau minta bantuan pelayan lain yang dianggap layak (imam lain, atau diakon, atau prodiakon, atau umat yang dianggap layak – mis: suster - hanya untuk keperluan itu) untuk membantu memegang sibori, dan imam mengambil hosti dan mencelupkannya ke dalam anggur (Darah Kristus) dalam piala yang ada di tangannya, memperlihatkan kepada penerima dengan mengatakan “Tubuh dan Darah Kristus” dan penerima menjawab “Amin”, lalu memberikan komuni itu kepada penerima langsung di atas lidah, bukan di atas telapak tangan.

Kemudian, kapan Komuni Kudus dalam dua rupa itu bisa diselenggarakan? Karena begitu banyaknya umat yang merayakan perayaan Ekaristi pada setiap hari minggu bahkan setiap hari, maka kita bisa membayangkan akan berapa lamakah Misa Kudus itu berlangsung? Apalagi kalau dalam satu gereja ada beberapa kali misa. Rasanya secara pastoral hal itu sangat sulit dilaksanakan. Maka dengan alasan praktis pastoral dan terlebih dengan alasan Komuni Kudus dalam satu rupa sudah cukup, hal itu tidak harus dijalankan dengan cara seperti itu. Apakah ada kemungkinan lain di luar misa mingguan? Ada, dalam kelompok kecil dan dalam event tertentu (pertemuan rohani), misal: Misa Kudus kelompok khusus Penerimaan Komuni Pertama, atau Misa Kudus kelompok khusus keluarga-keluarga yang berulang tahun perkawinan atau retret. Hal itu sangat dimungkinkan bila dikehendaki. Tentu menjadi lebih baik kalau didahului dengan katekese yang benar. ***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan