KATEKESE LITURGI (5)
Kursi Imam Selebran dan Petugas yang lain

By RP. Thomas Suratno, SCJ 22 Mar 2018, 11:52:27 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (5)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (5)


Dalam katekese liturgi minggu lalu disinggung mengenai kursi imam: “Dan seandainya kita mau membuat yang berbentuk mimbar harus juga memperhatikan motif bangunan altar gereja kita. Hal ini diharapkan ada keserasian di sana, bahkan juga dengan kursi imam selebran.” Apa seharusnya dibuat sehubungan dengan kursi imam selebran itu? Apakah ada sesuatu yang istimewa dengannya? Lalu bagaimana dengan kursi-kursi para pelayan lainnya?

Dalam PUMR 310 disebutkan bahwa “kursi imam selebran itu harus melambangkan kedudukan imam sebagai pemimpin jemaat dan mengungkapkan tugasnya sebagai pemimpin doa. Oleh karena itu, tempat yang paling sesuai untuk kursi imam selebran ialah berhadapan dengan umat dan berada pada ujung panti imam, kecuali kalau tata bangun gereja atau suatu sebab lain tidak mengizinkannya.” Dari sini kiranya menjadi jelas bahwa kursi imam hendaknya terbedakan dengan kursi yang lain, yang cocok atau sesuai dengan kedudukannya. Imam, berkat tahbisannya mempunyai kuasa mempersembahkan kurban selaku pribadi Kristus – in persona christi  (bdk PO no 2; LG no 28). Maka dari itu imam mengetuai jemaat yang berhimpum, memimpin doa, mewartakan Kabar keselamatan dan mengajak jemaat agar bersama dengannya mempersembahkan kurban kepada Allah Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam Roh Kudus. (Lih. PUMR 93). Di samping terbedakan dengan kursi-kursi yang lain kiranya baik juga selaras dengan bentuk altar dan mimbar, karena hal ini erat hubungannya satu dengan yang lainnya antara kursi, mimbar dan altar. Kursi tempat imam yang memimpin, mimbar tempat imam yang mewartakan dan melaui imam dipersembahkanlah Ekaristi – kurban salib tak berdarah di atas altar. Bentuk artistik dari ketiga hal itu hendaknya disesuaikan dengan bentuk bangunan gereja, atau kalau sekarang Anda lihat dalam gereja kita, apa yang sudah permanen (altar dan tabernakel) kiranya bisa menjadi acuan dalam membuat kursi imam selebran. Dengan tataletak panti imam yang ada di tengah bangunan seperti dalam gereja kita, maka “tempat yang paling sesuai untuk kursi imam selebran ialah berhadapan dengan umat dan berada pada ujung panti imam,” tidaklah terealisasikan, khususnya para jemaat yang bertugas koor dan juga umat yang duduk di belakang kelompok paduan suara. Ini sudah merupakan resiko yang sangat kondisional sifatnya, apalagi bagi umat yang duduk di belakang di luar gereja.

Kemudian petugas pelayan ibadat yang lain, terutama adalah DIAKON, karena tahbisan kudus yang diterimanya menduduki urutan pertama sesudah imam. Sebab sejak zaman para rasul, jabatan diakon sangat dihormati dalam Gereja. Diakon bertugas membantu imam, membacakan Injil, kadang-kadang menyampaikan homili, membawakan ujud-ujud doa umat, menyiapkan altar dan bahan persembahan, dan melayani komuni untuk umat, kadang-kadang juga memberi petunjuk-petunjuk mengenai sikap tubuh dan tata gerak umat. Mengingat tugas yang demikian, pada umumnya seorang diakon menjalankan tugasnya di sekitar mimbar dan altar. Maka kursi diakon sebaiknyalah ditempatkan di samping imam sehingga diakon itu dapat menunaikan tugasnya dengan lancar.

Pada saat ini, di gereja kita tidak ada diakon dan yang ada adalah PRO-DIAKON, tidak ditahbiskan dan hanya « dilantik » mendapat perutusan untuk membantu imam dalam hal membagikan komuni kudus kepada umat (khusus dalam Misa Kudus). Lalu, masih ada LEKTOR dan PEMBAWA DOA UMAT, serta MISDINAR (Putra-Putri Altar). Tempat duduk mereka pada umumnya khusus dan tidak di panti imam (dekat imam) tetapi tidak jauh darinya. Namun bagi misdinar lebih baik dengan tempat imam duduk sehingga setiap saat bisa membantu imam bisa membutuhkan bantuan dalam Misa Kudus.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan