KATEKESE LITURGI (6) - 2.7. Tabernakel
2.7. Tabernakel

By RP. Thomas Suratno, SCJ 27 Nov 2017, 16:12:29 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (6) - 2.7. Tabernakel

2.7. Tabernakel

Setelah kita bicara tentang Altar, Salib, Mimbar dan Kur­si imam selebran, tibalah saatnya kita berbicara tentang Tabernakel. Apa sebenarnya tabernakel itu?

Dalam Pedoman Umum Misale Romanum dikata­kan bah­­wa “sesuai dengan tata bangunan masing-masing ge­reja dan kebiasaan setempat, Sakramen Mahakudus hen­daknya disimpan dalam tabernakel yang dibangun di­ salah satu bagian gereja. Tempat ta­bernakel itu hen­dak­nya sungguh mencolok, in­dah, dan cocok untuk ber­doa.” (PUMR 314). Dari apa yang disebutkan di sana, da­pat kita mengerti bahwa Tabernakel bukanlah pusat pe­rayaan Eka­ris­ti walau di dalamnya disimpan Sakramen Maha­kudus. Pusat perayaan Ekaristi adalah altar, yakni tem­pat di mana kurban salib yang tak berdarah di­ha­­dirkan. Kemudian, tata letak tabernakel tidak ha­rus di te­ngah seperti dulu atau sekarang ketika Misa Ekstra Ordinaria (Tredintie - Latin) dilak­sanakan, di mana ta­ber­nakel diletakkan di altar ba­gian tengah menempel dinding (posisi altar me­nempel tembok). Sekarang, ka­lau ditempatkan di panti imam tabernakel diletakkan “terpisah dari al­tar yang digunakan untuk merayakan Ekaristi” (PU­MR 315) “dan sesuai dengan tradisi di de­kat taber­-

nakel dipasang lampu khusus yang menyala terus sebagai tanda dan ungkapan hormat akan keha­diran Kristus” (PUMR 316). Namun boleh juga taber­nakel diletakkan di kapel yang cocok untuk sembah sujud dan doa pribadi umat beriman.

Sebenarnya dulu mengapa ada tabernakel dan kemudian muncul adorasi, hal ini bermula pada pengajaran iman kita yang menyatakan bahwa se­lama hosti yang sudah dikonsekrir dalam Misa Kudus, berubah eksisten­sinya menjadi Tubuh dan darah Kristus, dan masih beruwujud roti (dan anggur) berlebih atau dilebihkan untuk kepentingan umat beriman yang sa­kit dan menginginkan Komuni Kudus karena tidak bisa mengikuti Pera­yaan Ekaristi, Hosti itu tetap diyakini sebagai Tuhan Yesus sendiri. Maka Hosti itu disimpan dalam tabernakel, yang sewaktu-waktu dapat dihantar dan diterimakan kepada umat beriman yang sakit. Kemu­dian pa­da waktu munculnya Gereja-gereja Reformasi yang tidak mengakui se­perti penga­kuan iman kita tentang Hosti Kudus seperti di atas, Sakramen Maha­kudus yang disimpan dalam tabernakel menjadi salah satu ungkapan iman kita yang membedakan dengan keyakinan saudara-saudari kita dari Ge­reja-gereja Reformasi. Hal itu lebih nampak lagi ketika kita mengadakan Ado­rasi setiap hari Kamis malam Jumat pertama atau adorasi singkat se­telah Misa Kudus hari Jumat. Dalam (ibadat) Adorasi itu kita sungguh me­ngakui dan bersaksi (diperlihatkan) bahwa Sakramen Mahakudus itu Ye­sus Kris­tus sendiri yang ditahtakan (dalam Monstran). Memang kita ber­beda de­ngan mereka keyakinan, cara maupun ung­kapannya, walau sama-sama mem­percayai Yesus adalah Tuhan dan Sang Juruselamat.

Kemudian, karena yang disimpan itu adalah Sakramen Mahakudus maka taber­nakel harus dibuat “indah dan cocok untuk berdoa,” dan diletakkan di salah satu ba­gian gereja dan yang mencolok. Dikatakan juga dalam PU­MR nomor yang sama “Tabernakel hendaknya dibangun permanen, di­buat dari bahan yang kokoh, tidak mudah dibongkar, dan tidak tembus pan­dang. Tabernakel hendaknya di­lengkapi dengan kunci yang aman, sehing­ga setiap bahaya pencemaran dapat di­hindarkan.” Semoga tabernakel da­lam Gereja kita yang sudah dibuat indah dan kokoh ini bisa menjadi tem­pat yang sungguh layak bagi Sakramen Mahakudus yang disimpan di da­lam­nya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan