KATEKESE LITURGI (7)
Evangeliarium

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 10:14:51 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (7)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (7)


Mungkin Anda melihat adanya perubahan yang sangat mencolok mengenai penempatan Evangeliarium (Buku Besar Indah yang memuat kutipan Injil yang dibacakan untuk Hari Minggu dan Hari Raya). Buku ini berbeda dengan buku yang disebut Lectionarium. Lalu bagaimana penggunaannya? Tata cara penggunaan buku Evangeliarium ada di halaman depan buku Evangeliarium. Secara lengkap demikian dikatakan:

1. Dalam Perayaan Ekaristi kudus Evangeliarium atau Kitab Injil digunakan pada beberapa bagian, dengan berbagai cara:

a. Evangeliarium, bukan Buku Bacaan (Lectionarium), sebelum Misa atau Perayaan Ekaristi dimulai dapat diletakkan pada bagian tengah altar dalam keadaan tertutup, kecuali kalau buku itu dibawa dalam perarakan masuk (PUMR 117).

b. Dalam perarakan masuk Evangeliarium dibawa oleh Diakon (atau oleh Lektor dalam Misa tanpa Diakon) dengan cara sedikit diangkat dan dalam keadaan tertutup, lalu diletakkan di atas altar (PUMR 119, 120d, 122). Diakon pembawa Evangeliarium berjalan di depan atau di samping Imam Selebran (PUMR 172). Setibanya di altar, Diakon pembawa Evangeliarium tidak ikut memberi penghormatan kepada altar, tetapi langsung menuju altar untuk meletakkan Evangeliarium di atas altar. Sesudah itu, bersama dengan Imam, Diakon mencium altar.

Jika yang bertugas membawa Evangeliarium adalah Lektor karena ketiadaan Diakon, maka ia tidak mencium altar, tetapi langsung meletakkannya di atas altar, dan kemudian menuju ke tempat duduk yang tersedia untuknya. Evangeliarium yang tertutup itu berada pada bagian tengah altar sampai dengan sebelum pemakluman Injil (bdk. PUMR 173, CE 129).

c. Sebelum pemakluman Injil, Diakon memohon berkat kepada Imam Selebran dengan cara membungkuk di depannya. Jika tidak ada Diakon petugas pemakluman itu, maka yang bertugas adalah Imam Selebran itu sendiri. Jika tidak ada Diakon petugas dan Imam Selebran yang memimpin adalah seorang Uskup yang didampingi Imam Konselebran, maka salah seorang Imam Konselebran bertugas memaklumkan Injil. Imam petugas itu memohon berkat kepada Uskup yang bertindak sebagai Imam Selebran. Akan tetapi, jika Imam Selebrannya adalah seorang Imam biasa (bukan Uskup), maka Imam Konselebran yang bertugas memaklumkan Injil itu tidak perlu memohon berkat kepada Imam Selebran.

Sesudah diberkati oleh Imam Selebran, Diakon (atau Imam petugas) menuju altar, membungkuk menghormatinya, mengambil Evangeliarium dari altar itu, lalu pergi ke mimbar sambil membawa Evangeliarium yang sedikit diangkat, didahului para putra altar pembawa lilin bernyala dan pedupaan beraroma. Ia mendupai Evangeliarium setelah membuat tanda salib dengan ibu jarinya pada bacaan Injil yang akan dimaklumkan, pada dahi, mulut, dan dadanya. Lalu ia mendupai Evangeliarium itu tiga kali masing-masing dua ayunan: di tengah, di samping kiri, dan di samping kanan (lihat PUMR 175, CE 74). Setelah itu ia membawakan bacaan Injil dengan cara membacakan atau menyanyikan.

d. Di akhir pemakluman Injil, Diakon atau Imam tidak perlu (NB: bukan tidak boleh) mengangkat Evangeliarium dari mimbar ketika ia menyerukan ”Demikianlah Injil Tuhan” atau seruan serupa.

e. Sesudah jawaban Umat ”Terpujilah Kristus”, Diakon mencium Evangeliarium sambil mengucapkan dalam hati ”Semoga karena pewartaan Injil ini dileburlah dosadosa kami”. Kalau yang memimpin Misa adalah seorang Uskup, Diakon membawa Evangeliarium kepada Uskup untuk dicium. Atau Diakon sendiri dapat menciumnya, tanpa membawanya kepada Uskup. Dalam perayaan meriah, kalau dianggap baik, Uskup dapat memberkati Umat dengan Evangeliarium dalam bentuk tanda salib besar.

Sesudah itu Diakon membawa Evangeliarium ke meja samping (kredens) atau ke tempat lain yang anggun dan serasi, tetapi tidak meletakkannya di atas altar lagi (lihat PUMR 175). Sementara pelayan altar yang mendampingi pemakluman Injil meletakkan perlengkapannya di meja samping.

f. Dalam Ritus Penutup, Evangeliarium tidak perlu dibawa lagi ketika perarakan keluar.

Pada poin C di atas dikatakan secara jelas bahwa “Sesudah diberkati oleh Imam Selebran, Diakon (atau Imam petugas) menuju altar, membungkuk menghormatinya, mengambil Evangeliarium dari altar itu, lalu pergi ke mimbar sambil membawa Evangeliarium yang sedikit diangkat, didahului para putra altar pembawa lilin bernyala dan pedupaan beraroma.” Di sini pengandaiannya ada perarakan diakon/imam bersama misdinar yang membawa lilin bernyala (dan pembawa wirug-ratus yang telah diisikan imam konselebran utama) dari altar ke mimbar. Kapan itu dilakukan yakni pada saat dinyanyikan Bait Pengantar Injil/Alleluia. Hal ini mengingatkan kita nyanyian « Alleluia » pada Malam Paska. Sebenarnya dengan tiga kali Alleluia dan bait-baitnya yang khas pada Malam Paska, Evangeliarium itu diambil dan diarak menuju mimbar di samping Lilin Paska.  Maka seperti sekarang hal itu dipraktekkan secara sederhana. Karena jarak altar dan mimbarnya dekat, dan lagu BPI-nya singkat maka perarakan itu dilakukan dengan cara mengitari altar menuju mimbar. Hanya saja sebagai catatan sebaiknya 2 misdinar pembawa lilin bernyala itu sudah siap di belakang samping kanan-kiri altar sebelum perarakan. Hal ini akan membantu para misdinar untuk tahu dengan melihat diakon atau imam yang mengambil Evangeliarium sehingga dapat memulai perarakan bersama.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan