KATEKESE LITURGI (8)
Patung Kudus

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 10:16:56 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (8)

Keterangan Gambar : KATEKESE LITURGI (8)


Dalam Gereja Katolik sebagaimana terlihat pastilah ada patung-patung atau lukisan-lukisan kudus. Dan itu semua menambah suasana sakralitas dalam gedung gereja di mana di situ dilaksanakan peribadatan umat Katolik. Patung-patung itu bagi kita bukan mengganggu kita berdoa tetapi justeru membuat kita bisa bukan sekedar menikmati melainkan membantu memfokuskan hati dan fikiran kita kepada Allah melalui tampilan patung-patung kudus itu. Hal ini sangat berbeda sekali suasananya kalau kita berkunjung ke gereja tetangga yang bukan gereja Katolik. Lalu, apa sebenarnya makna patung-patung kudus itu?

Dikatakan dalam Pedoman Umum Misale Romawi demikian: “Dalam liturgy yang dirayakan di dunia, Gereja mencicipi liturgy surgawi yang dirayakan di kota suci Yerusalem. Gereja ibarat peziarah yang berjalan menuju Yerusalem baru, tempat Kristus duduk di sisi kanan Allah. Dengan menghormati para kudus, Gereja juga berharap agar diperkenankan menikmati persekutuan dengan mereka dan ikut merasakan kebahagiaan mereka.”(PUMR 318). Dari sini menjadi jelas bahwa liturgy kita (di dunia) adalah sekaligus gambaran liturgy surgawi dan persekutuan kita dengan para penghuni surga, yakni para kudus. Maka dari itu kita diharapkan dengan liturgy yang kita rayakan dan adanya patung-patung kudus itu sungguh bisa merasakan persekutuan dan kebahagiaan kita bersama para kudus yang digambarkan dengan patung-patung itu.

Patung-patung kudus itu sudah ada sejak dulu dan ini adalah merupakan tradisi. Maka disebutkan dalam PUMR pada nomor yang sama dikatakan « sesuai dengan tradisi Gereja yang sudah sangat tua, ruang ibadat dilengkapi juga dengan patung Tuhan Yesus, Santa Perawan Maria, dan para kudus, agar dapat dihormati oleh umat beriman. »  Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemasangan patung-patung kudus di gereja itu bertujuan sebagai bentuk penghormatan atau sarana bagi umat beriman untuk menghormati para kudus itu sendiri. Tetapi juga dalam PUMR itu diingatkan bahwa “di dalam gereja, patung-patung itu hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat membantu umat beriman menghayati misteri-misteri iman yang dirayakan di sana. Maka, harus diupayakan jangan sampai jumlahnya berlebihan, dan patung-patung itu hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak membelokkan perhatian umat dari perayaan liturgy.”

Sadarilah bahwa ketika kita merayakan liturgy (Ekaristi), yang kita rayakan adalah pengenangan akan peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Sehingga kalau di sekitar panti iman diletakkan patung-patung kudus, misalnya patung santo atau santa tertentu, maka pertanyaannya adalah apakah patung-patung itu membantu penghayatan Ekaristi yang adalah buah dari wafat dan kebangkitan Kristus atau justeru mengganggu? Patung Salib Kristus pastilah sangat membantu, kemudian patung Hati Kudus Yesus masih bisa membantu, kemudian patung Bunda Maria dengan refleksi yang mendalam juga bisa membantu umat beriman untuk menghayati liturgi Ekaristi. Apalagi kalau patung Bunda Maria itu sungguh Bunda Maria yang sedang menggendong kanak-kanak Yesus, menjadi jelas hubungan antara Bunda Maria dengan Tuhan Yesus. Tetapi kalau patung santo-santa yang lain dari yang disebutkan tadi rasanya sulit membantu bahkan mungkin saja dapat mengganggu. Maka patung-patung selain yang biasa kita lihat (Salib, Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria) hendaknya dalam penempatan sebaiknya tidak di bagian depan tetapi bisa disamping kanan kiri atau bahkan di belakang ruang gereja.

Dan hal lain lagi yang dikatakan dalam PUMR yakni “Tidak boleh ada lebih dari satu patung orang kudus yang sama. Pada umumnya, pemanfaatan patung dalam tata ruang dan tata hias gereja, hendaknya sungguh mempertimbangkan keindahan dan keagungan patung itu sendiri serta manfaatnya untuk kesalehan seluruh umat.” Masih ingat pada waktu bulan Oktober yang lalu? Ada dua patung Bunda Maria di dalam gereja. Yang satu patung Bunda Maria besar dan sudah permanen di bagian belakang agak kesamping dari panti imam dan satu lagi patung Bunda Maria ukuran sedang diletakkan di pojok panti imam bagian depan. Ini berlebihan dan tidak sesuai dengan anjuran PUMR bukan? Tidakkah lebih baik kalau patung Bunda Maria itu cukup satu saja yang sudah ada namun dihias sedemikian rupa untuk menandakan bahwa bulan ini adalah bulan Maria (Mei) dan atau bulan Rosario (Oktober). Lalu juga, karena gereja kita ini walaupun kelihatannya besar tetapi disebabkan tataruangnya yang spesifik agak sulit kiranya dalam penempatan patung-patung kudus itu. Maka jangan dipaksakan dipasang patung-patung kudus itu di setiap ruang kosong misalnya. Hal ini untuk menjaga supaya ruang gereja dan panti imamnya tetap kelihatan indah dan agung seperti disarankan dalam PUMR di atas.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan