KATEKESE LITURGI (9)
Roti dan Anggur, Bejana Kudus, dan Sakrarium

By RP. Thomas Suratno, SCJ. 23 Mar 2018, 14:14:25 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (9)

2.10. Roti dan Anggur

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam Misa Kudus, roti dan anggur mempunyai peran penting tak tergantikan maka harus selalu ada. Hal ini disebabkan pertama-tama roti dan anggur itu dipergunakan oleh Gereja karena mengikuti teladan Yesus Kristus sendiri ketika Dia mengadakan perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Kemudian roti yang dipergunakan dalam perayaan Ekaristi haruslah dari gandum yang masih baru dan menurut kebiasaan Gereja Latin roti itu tidak beragi (lih. PUMR 319-320). Sedangkan anggur dalam Misa Kudus diharuskan berasal dari buah pohon anggur (bdk. Luk 22,18). Anggur itu harus asli dan murni, artinya tanpa dicampur dengan bahan-bahan lain (PUMR 322). Lalu mengenai roti dan anggur dalam Misa ini harus selalu diperhatikan secara khusus, agar roti-anggur selalu dalam kondisi baik, anggur jangan sampai masam dan roti jangan sampai busuk atau keras sehingga sulit dipecah-pecah untuk dibagikan kepada umat beriman setelah dikonsakrir. Biasanya ini merupakan tugas “koster” (atau sakristan, yakni seorang petugas yang bertanggung jawab untuk mengurus sakristi, bangunan gereja, dan isinya) untuk memperhatikannya dari bagaimana menyimpan supaya bisa tahan lama dan tidak rusak maupun memeriksa pada waktu mempersiapkannya sebelum Misa di mulai.

2.11. Bejana Kudus

“Di antara hal-hal yang diperlukan untuk perayaan Ekaristi, bejana-bejana kudus harus dihormati secara khusus terutama patena dan piala, tempat roti dan anggur dipersembahkan, dikonsekrasikan, dan disambut.” (PUMR 327) Lalu bejana-bejana kudus itu (termasuk sibori à tempat membawa dan menyimpan Hosti kudus ke dalam Tabernakel, piksis à tempat membawa Komuni Kudus untuk orang sakit dan monstrans à tempat pentahtaan Sakramen Mahakudus dalam Adorasi/Salve/Lob/Astuti) harus dibuat dari logam mulia. Seandainya piala dan patena itu terbuat dari bukan logam mulia (dan bisa berkarat) maka hendaknya bagian dalamnya dilapis dengan logam mulia. Namun dimungkinkan juga bejana-bejana kudus itu terbuat dari kayu yang keras (tidak mudah pecah) dan serasi untuk digunakan dalam liturgy, misal kayu eboni (kayu hitam dari Sulawesi) tapi mungkin sudah langka. Bahan-bahan itu juga harus kedap air. (lih. PUMR 328-330).

2.12. Sakrarium

Hendaknya di setiap gereja (biasanya di Sakristi) dibangun Sakrarium (sumur suci). Sumur itu dipergunakan untuk menuangkan air bekas pencucian benda-benda suci dan kain-kain. (PUMR 334 bdk. No 280). Sadarilah hanya untuk menuangkan air bekas pencucian benda-benda kudus itu sehingga tidak dibutuhkan sumur besar dan dalam. Namun sering berkembang untuk “membuang” benda-benda rohani umat yang sudah rusak juga. Bukan tidak boleh tetapi pertimbangkan kalau setiap umat berbondong-bondong melakukan hal yang sama pada sumur suci itu, pastilah cepat penuh. Sebenarnya umat beriman bisa menguburkan/menanam benda-benda suci yang rusak itu di dalam tanah yang layak.

Kemudian haruslah diperhatikan oleh para imam/diakon dan prodiakon (pembantu pembagi Komuni Kudus) PUMR 280 ini yang mengatakan bahwa “Hosti atau bagian hosti yang terjatuh harus dipungut dengan khikmat. Kalau ada Darah Kristus tertumpah, hendaknya tempat itu dibersihkan dengan air. Air itu lalu dituangkan ke dalam sakrarium di sakristi.” Mungkin saja terjadi para pelayan Komuni Kudus tidak tahu atau tidak menyadari bahwa ada Hosti Kudus atau remah-remahnya yang terjatuh, maka para petugas tata laksana (atau umat beriman lain) yang melihat kejadian itu dengan sigap harus memberitahukan kepada para petugas atau pelayan komuni supaya mereka memungutnya sebagaimana diatur dalam PUMR itu.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan