Konsep Kontribusi Wanita dalam Pembangunan
Konsep Kontribusi Wanita dalam Pembangunan

By Cicilia Herry Soesilowaty 07 Mei 2018, 22:22:42 WIB Orbitan Utama
Konsep Kontribusi Wanita dalam Pembangunan

Keterangan Gambar : Konsep Kontribusi Wanita dalam Pembangunan


Timbulnya anggapan bahwa perempuan merupakan kaum lemah masih kita jumpai hingga saat ini. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dikonstruksikan secara sosial budaya, telah memunculkan berbagai masalah gender dan sampai detik ini, diyakini banyak merugikan kaum perempuan. Hal ini disebabkan oleh sistem nilai, norma, pelabelan atau stereotip, ideologi gender dan dilihat sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi posisi serta hubungan perempuan dengan laki-laki, atau dengan lingkungan dalam konstruksi sosial masyarakat. Nilai dan norma tentang perempuan dalam masyarakat tumbuh dan berkembang dari konsensus dalam masyarakat, telah dibawa secara turun-temurun seiring dengan perkembangan zaman. Tatanan nilai dan norma tersebut akan terus mengalami perkembangan maupun proses rekonstruksi dalam proses sosialnya.

Walaupun demikian, cara pandang tentang perempuan atau ideologi gender tidak dapat dipisahkan dari nilai kultural sebagai pelengkap hubungan sosial masyarakat. Hal ini disebabkan oleh adanya pra konsepsi yang diterima sebagai kesepakatan (consensus) bersama atau juga dari legitimasi moral kelompok yang paling dominan dalam masyarakat. Perbedaan dalam gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah, sepanjang tak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun yang menjadi persoalan, ketika perbedaan gender telah melahirkan ketidakdilan baik laki- laki dan terkhusus untuk kaum perempuan. Ketidakdilan gender merupakan sistem dan struktur di mana kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari adanya sistem tersebut. Guna memahami perbedaan gender, dapat dilihat melalui berbagai ketidakdilan yang terjadi. Ketidakadilan gender dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti marginalisasi bidang ekonomi, pembentukan stereotip negatif, kekerasan, beban kerja lebih dan banyak (burden), serta sosialisasi ideologi peran gender.

Bentuk manifestasi ketidakdilan gender tidak dapat dipisahkan sebab saling berhubungan dan mempengaruhi secara konstruksi budaya. Pandangan gender beranggapan bahwa perempuan itu irasional sehingga tidak bisa untuk memimpin. Sehingga memunculkan sikap bahwa posisi perempuan tidaklah penting. Ketidakdilan atau subordinasi gender ini terjadi dalam segala macam bentuk di manapun dan kapanpun. Kultur masyarakat Indonesia yang cenderung patriarkis, memungkinkan terdapatnya pendikotomian serta subordinasi terhadap nilai dan peran gender. Ini merupakan gambaran dari konstruksi sosial serta budaya relasi laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya pembedaan tersebut tidak akan menjadi masalah selama pembedaan tersebut tidak merendahkan baik laki- laki maupun perempuan. Akan tetapi, dalam kehidupan masyarakat ditemukan pendikotomian atau pembedaan berdasarkan jenis kelamin tertentu dan yang lebih banyak adalah perempuan yang menjadi korban.

Akibat dengan adanya tradisi yang turun-temurun maka beredar anggapan bahwa perempuan “tidak usah sekolah” atau mempunyai pendidikan tinggi karena pada akhirnya akan diperistri, mempunyai anak serta mengurus buah hati dan suami. Hal ini secara tidak langsung telah terinternalisasi kepada setiap generasi dalam masyarakat, menjadi sebuah nilai atau konsensus yang berlaku dalam masyarakat, sehingga menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada kaum perempuan.

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada MEDIA PASS EDISI MEI 2018 - 164




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan