LITURGI DAN DEVOSI (1)
Latar Belakang Munculnya Devosi

By RP. Thomas Suratno, SCJ 23 Jul 2018, 16:08:59 WIB Surat Gembala
LITURGI DAN DEVOSI (1)

Keterangan Gambar : LITURGI DAN DEVOSI (1)


Bagi kebanyakan umat Katolik sampai sekarang ini ma­sih bingung apa bedanya Liturgi dan Devosi. Lalu seca­ra umum banyak yang memandang Devosi itu murahan, pada­hal dalam tradisi Gereja Katolik banyak memiliki de­vosi yang indah. Misalnya: Doa Rosario, Jalan Salib, Adorasi Eka­risti, berbagai penghormatan kepada Santa Perawan Maria, Hati Kudus Yesus merupakan contoh devosi yang tetap po­puler hingga sekarang. Kemudian masih ada lagi  perara­kan Sakramen Mahakudus, ziarah ke tempat-tempat suci se­perti Lourdes, penghormatan terhadap orang-orang kudus se­perti Santo Padre Pio, Novena, pemakaian medali dan seterusnya. Semua kegiatan saleh ini dilaksanakan karena terdo­rong oleh sikap iman.  Melalui devosi dinyatakan sikap hor­mat dan hubungan khusus umat beriman dengan Pri­badi Ilahi, Santa Perawan Maria, dan dengan para kudus di dalam Gereja. Jelas pula kebaktian model ini telah menyuburkan hidup rohani umat. Devosi memang bagian hidup dari tradisi Gereja, harta rohani bagi umat Allah. Ada (kelompok) umat yang mengatakan bahwa “Devosi itu tidak termasuk bagian dari tindakan liturgis”. Beberapa umat lain­nya pun barangkali terusik dengan pernyataan itu. Kalau de­mi­kian apa alasan doa-doa yang indah itu tidak dianggap se­bagai tindakan liturgis? Lalu mengapa Ekaristi dan Sakra­men-Sakramen, Sakramentali dan pemberkatan-pember­ka­tan, Tahun Liturgi, dan Ibadat Harian merupakan tindakan liturgis? Dengan nada protes: adakah sesuatu yang ”kurang” dengan devosi?

Mari kita tengok ke belakang, apa yang menjadi alasan munculnya devosi dalam Gereja Katolik. Dalam sejarah hi­dup Gereja, Paus Gregorius Agung (590-604) memberi ara­han bijaksana agar liturgi dapat diperkaya oleh devosi. Ara­han seperti ini senantiasa diberikan oleh otoritas Gereja se­bab devosi bisa bertentangan dengan liturgi. Devosi tum­buh subur terutama sejak abad ke-7 sampai ke-15. Pada abad per­tengahan ini, umat amat rajin berdevosi namun ku­ra­ng berliturgi. Kecintaan akan  devosi terus meningkat  se­telah Konsili Trente. Devosi sungguh digandrungi oleh umat kebanyakan. Suasana devosi berlangsung semarak, penuh dengan musik, hiasan indah, lilin-lilin banyak bernyala, pa­kaian indah dan mewah sementara misa sendiri misalnya sering tanpa lagu dan sedikit umat yang menerima komuni. Pada era Konsili Vatikan II dan sekarang kecintaan umat beriman akan devosi masih tetap hidup. Nah, apa latar belakang lahirnya devosi dan suasana yang seperti itu?

Pada umumnya devosi itu lahir untuk memperpanjang renungan pribadi atas sesuatu misteri keselamatan. Ketika bahasa Latin ditetapkan sebagai bahasa liturgi maka kebanyakan umat tidak cukup mengerti lagi tentang liturgi. Liturgi dipandang se­bagai milik kaum klerus (imam). Untuk itu dicari bentuk doa yang lebih dipahami dan gampang dihayati seperti pentahtaan Sakramen Mahakudus. Di dalamnya ikut serta juga paham teologis. Misalnya ketika di kalangan para teolog ada debat tentang kehadiran Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur muncullah devosi adorasi. Tujuannya agar orang yang ragu akan kehadiran Yesus Kristus dalam ekaristi, tetap dapat percaya. Lagi, situasi kehidupan masyarkat abad pertengahan ditandai oleh kemiskinan ekonomi. Dalam situasi demikian dirasakan oleh umat pentingnya melihat sengsara Kristus, maka lahirlah Jalan Salib atau Hati Kudus Yesus. Termasuk di sini ingin dijelaskan identitas orang kristen secara jelas sehingga jam-jam tertentu dibunyikan lonceng untuk doa Angelus. Kondisi sosial budaya yang amat sekular memunculkan keinginan agar dibuat suatu devosi untuk mengatasi hal ini.

Sebenarnya alasan utama terletak pada liturgi sendiri. Liturgi sering kurang menyentuh hati. Rumusan doa dan strukturnya sulit dipahami oleh umat kebanya­kan. Liturgi semakin jauh dari umat ketika pada abad pertengahan bahasa Latin men­jadi bahasa liturgi. Penyeragaman liturgi setelah Konsili Trente menyebab­kan li­turgi terasa kering dan kaku. Umat tidak mengerti apa yang sedang berlangsung dalam suatu perayaan liturgi. Liturgi sepertinya hanya urusan kaum imam sementara para awam tidak lebih sekedar penonton-penonton yang bisu. Umat merindukan kegia­tan ro­hani yang menyentuh perasaan dan emosi. Kemudian muncul devosi yang dilaksa­na­kan dalam bahasa rakyat dan gampang dipahami. Di sini devosi seakan diper­un­tukkan bagi kaum awam.

Penyebab lain ialah pembedaan peranan dalam Gereja: klerus – kaum religius – awam membangkitkan gaya dan bentuk berdoa tersendiri. Selain itu ku­rangnya pemahaman akan Kitab Suci. Hal ini bukan hanya di kalangan awam tetapi juga sejumlah klerus dan religius. Akibatnya mereka sulit memahami susunan dan bahasa simbol yang terdapat dalam liturgi. Di tempat lain jarang homili dipahami oleh umat, aspek kateketis pun amat miskin. Liturgi seakan hanya untuk kaum intelek se­hingga umat mencari bentuk dan moment ibadat alternatif. Dalam suasana seperti itu ditemukanlah bentuk-bentuk devosi yang populer dan dapat dipahami. Jadi devosi lahir karena liturgi belum memenuhi cita rasa kerohanian umat setempat. Walaupun de­vosi itu sungguh semarak dan meriah, Gereja tetap memandang liturgi sebagai ungkapan iman yang paling unggul. Karena itu Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Li­turgi Sacrosanctum Concilium (SC) menyatakan liturgi sebagai ”puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serta-merta sumber segala daya kekuatannya (SC 10). Sekalipun demikian Gereja juga tetap mengakui bentuk doa seperti devosi, karena itu dikatakan, ”hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut-serta dalam liturgi (SC 12). Untuk menyuburkan hidup rohani umat terdapat juga devosi, khususnya devosi yang sudah dianjurkan oleh Takhta Apostolik. Pendeknya praktek devosi itu didukung sungguh oleh Gereja asalkan selaras dengan iman resmi Katolik. à BERSAMBUNG

Disadur bebas dari tulisan  P. Emmanuel J. Sembiring, OFMCap.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan