LITURGI DAN DEVOSI (2)
Persamaan devosi dengan liturgi.

By RP. Thomas Suratno, SCJ 01 Agu 2018, 16:14:55 WIB Surat Gembala
LITURGI DAN DEVOSI (2)

Keterangan Gambar : LITURGI DAN DEVOSI (2)


Persamaan devosi dengan liturgi.

Devosi dan liturgi adalah bentuk doa yang berlaku sah da-lam Gereja Katolik. Selain liturgi, Gereja juga mengenal bentuk doa devosi. Orang kristen memang dipanggil untuk berdoa bersama tetapi juga secara pribadi. Injil Mateus 6: 6 misalnya jelas mengungkapkan bagaimana doa pribadi harus dilaksanakan, ”Jika engkau berdoa, masuklah ke da-lam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa-mu yang ada di tempat tersembunyi”. Devosi sebagai doa pribadi tentu mengakar pada Sabda ini. Bahkan menurut amanat Rasul Paulus orang kristen harus berkanjang da-lam doa. Jadi yang paling penting dipegang ialah devosi itu adalah bentuk doa sebagaimana juga liturgi adalah bentuk doa. Kedua bentuk doa ini sama-sama mengungkapkan iman dan kebaktian khas Katolik. Dengan demikian kedua-nya diakui sebagai bentuk doa orang beriman. Keduanya saling melengkapi, tidak ada pertentangan di dalamnya. Roh Kudus juga bekerja di dalam devosi. Karena itu Konsili Vatikan II tetap mengarahkan agar devosi itu mengalir dari dan untuk liturgi. Apa yang dirasakan ti-dak tertuangkan dalam liturgi dapat dilengkapi dalam de-vosi. Apa yang dirasakan kurang dalam devosi disempur-nakan dalam liturgi. Dengan demikian kedua bentuk doa ini sungguh dapat menyuburkan iman umat. Dan iman yang subur itu ditampakkan dalam kehidupan. Karena itu pada tahun 1988, peringatan 25 tahun SC, almarhum Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Vicesimus Quin-tus Annus (VQA) mengharapkan devosi tetap dipelihara dan dihargai. “Devosi yang merakyat ini tidak boleh diabai-kan atau diperlakukan dengan acuh tak acuh atau malah diremehkan, karena devosi-devosi itu kaya akan nilai, dan kegiatan itu sendiri mengungkapkan sikap religius terha-dap Allah” (no. 18). Paus ini amat yakin devosi dan liturgi sama-sama mengembangkan kehidupan rohani dan mem-perdalam iman umat.

Perbedaan: kekayaan bukan pertentangan

Selain persamaan terdapat juga sejumlah perbedaan yang mestinya dicermati dengan teliti untuk dihayati. Devosi itu bernada privat, pribadi, dapat dilaksanakan secara ber-sama dan pribadi. Sementara liturgi itu selalu dirayakan dalam kebersamaan. Dapat dikatakan devosi itu “swasta” sementara liturgi itu resmi sebagai pengungkapan iman Katolik. Devosi itu lahir dari inisiatif pribadi yang kemudian diakui oleh Gereja tetapi tidak menjadi doa resmi yang mengikat. Dengan demikian devosi itu memiliki bentuk bebas, dapat dirombak sesuai dengan kebutuhan orang atau selera daerah. Sedangkan liturgi itu merupakan ketetapan resmi oleh magisterium Gereja. Ini obyektif sifatnya sementara devosi itu subyektif. Karena liturgi adalah ibadat resmi (umum) maka dite-tapkan oleh otoritas Gereja, sementara devosi bersifat personal. Struktur liturgi sudah baku dan tidak begitu saja dapat dirombak oleh siapapun. Liturgi berlaku universal dan ibadat resmi Gereja. Iman akan misteri paska Kristus diproklamasikan dalam li-turgi baik pribadi maupun bersama. Umumnya devosi itu menggunakan gaya bahasa rakyat dan sederhana. Terasa kuat ungkapan emosi dan afeksi sehingga juga subyektif. Liturgi memiliki gaya bahasa teologi yang kadang sulit dipahami oleh umat kebanya-kan. Devosi tidak memiliki karakter sakramental sebagaimana ditemukan dalam li-turgi. Dan lagi aspek dialogal sangat nyata dalam liturgi, Allah bersabda dan manusia menanggapi. Struktur ini tidak ditemukan dalam devosi, hanya ada satu aspek yaitu “ke atas”, tanpa garis “menurun” dari pihak Allah. Dalam konteks ini bisa dikatakan juga devosi tidak selalu memiliki aspek kristologis, trinitaris, ekklesiologis, atau pneumatologis sebagaimana terdapat dalam liturgi.

Butir Pastoral.

Spiritualitas bukan terbatas pada liturgi. Devosi sungguh dapat menyuburkan iman, memupuk cita rasa religius dalam pelbagai situasi hidup umat. Melalui devosi, rahmat Allah semakin dapat menyentuh hati dan perasaan umat secara mendalam (men-dekatkan manusia dengan Allah – membangun jemaat – meningkatkan iman pribadi – mengembangkan liturgi). Cita rasa religius ini semestinya sepadan dengan ajaran res-mi Gereja. Disebut demikian karena devosi dapat juga menimbulkan masalah dan kesulitan bahkan bahaya yang mengancam kehidupan beriman. Misalnya, devosi yang terlalu menonjolkan unsur subyektif dapat mengaburkan kesatuan iman pribadi da-lam kebersamaan iman Gerejani; bila devosi terlalu banyak dikuasai oleh emosi dan afeksi; bila devosi menjerumuskan orang ke tindakan berbau tahyul dan magis. Ka-rena itu almarhum Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya yang telah dikutip di atas mengingatkan, ”Devosi-devosi itu perlu terus menerus diinjili, sehingga iman yang diungkapkan di dalamnya dapat menjadi tindakan yang semakin matang dan benar. Baik ulah kesalehan umat kristen maupun bentuk-bentuk devosi lainnya baik dan dianjurkan oleh Gereja, asal semua itu tidak menggeser atau merongrong pe-rayaan-perayaan liturgis. Suatu pendidikan liturgi yang sungguh pastoral akan me-ningkatkan kekayaan dari kesalehan umat itu, sambil memurnikan dan mengarah-kannya kepada liturgi sebagai persembahan umat” (VQA, 18). Paham ini sebenarnya sudah dicetuskan dalam dokumen Sacrosanctum Concilium no. 13 dengan mengatakan, “ ... ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan Liturgi suci; sedikit banyak harus bersumber pada Liturgi, dan menghantar Umat kepadanya; sebab menurut hakekatnya Liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu.” Usaha pastoral yang harus kita upayakan ialah memelihara devosi yang menyuburkan kehidupan rohani; memisahkan gandum dari lalang sehingga iman sejati tetap hidup. Devosi itu hendaknya diupayakan bercorak biblis, liturgis, ekumenis, dan antropologis. Liturgi sendiri semestinya semakin memperhatikan cita rasa budaya umat setempat. Logika dan intelektualitas liturgi semestinya memberi ruang bagi afeksi dan emosi. Serentak pula afeksi dan emosi dalam devosi mengin-dahkan logika dan intelektualitas liturgi. Dengan demikian devosi dan liturgi beserta persamaan dan perbedaan merupakan harta rohani Gereja sejati. Devosi bukanlah kebaktian untuk kaum awam atau liturgi untuk kaum klerus, melainkan devosi dan liturgi adalah kebaktian untuk kaum awam dan kaum klerus. Baik devosi maupun liturgi keduanya menjadi sumber kekuatan batin bagi setiap orang beriman. ***

Disadur dari tulisan P. Emmanuel J. Sembiring, OFMCap.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan