Mengapa Ekaristi? (3)
Katekese

By RP. Thomas Suratno, SCJ 02 Sep 2019, 08:25:40 WIB Surat Gembala
Mengapa Ekaristi? (3)

Keterangan Gambar : Katekese


Setelah minggu lalu kita diyakinkan bahwa yang kita santap dalam Perayaan Ekristi adalah benar-benar Sang Roti Hidup, Tuhan Yesus sendiri, kita juga diajak untuk melihat suatu kenyataan bahwa Ekaristi merupakan perintah Dia yang terakhir sebelum menderita sengsara. Hal ini sema­cam Wasiat yang amat penting yang harus kita laksanakan. Dan Wasiat itu sebagai bentuk ungkapan kasih Yesus kepada kita semua yakni mau selalu bersama dan bersatu dengan kita yang masih hidup dalam perziarahan dunia. Maka sekarang kita melanjutkan dengan:

2. Ekaristi adalah perintah Yesus yang terakhir sebe­lum menderita sengsara

Di dalam kelompok para rasul yang tetap mempercayai Sabda dan ajaran Kristus tentang Roti Hidup, Kristus mem­berikan penjelasan secara bertahap dan mencapai pun­cak­nya di dalam Perjamuan Terakhir. Para rasul mulai melihat bahwa dalam penggandaan roti, Kristus mengambil per­sem­bahan dan kemudian Dia mengucap berkat, memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid (lih. Mat 14:19; Mrk 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11). Dan dalam Yohanes 6, dikisahkan bahwa walaupun mungkin saat itu para rasul tidak memahami secara penuh, mereka mengerti bahwa Yesus mengajarkan secara hara­fiah bahwa makanan dan minuman yang mendatang­kan kehidupan kekal adalah tubuh dan darah Kristus sendiri. Dan misteri ini akhirnya mulai tersingkap di malam sebelum Yesus menderita seng­sara, yaitu dalam Perjamuan Kudus, yang kemudian setiap tahun kita peringati sebagai Kamis Putih.

Dalam Perjamuan Kudus inilah, Yesus melakukan hal yang sama ketika Dia meng­gandakan roti, yaitu: Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecah­kannya lalu memberikan kepada para murid (lih. Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19). Namun, kali ini, Yesus meneruskan perkataan tersebut dan sekaligus merupakan penegasan dari pengajaran sebelumnya, bahwa roti diubah menjadi tubuh-Nya, yang adalah benar-benar makanan. Dia melanjutkan dengan per­kataan “Terimalah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Hal yang sama, Dia lakukan untuk mempertegas bahwa anggur yang telah Dia berkati kemudian menjadi darah-Nya. Setelah mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada para rasul, Dia berkata “Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku.” (Mat 26:27-28) Namun, Yesus tidak hanya menunjukkan bahwa Dia mengu­bah roti menjadi tubuh-Nya dan anggur menjadi darah-Nya. Dia mengingin­kan agar para murid menyantap dan meminumnya, karena darah-Nya ada­lah darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengam­punan dosa.” (lih. Mat 26:28; Luk 22:20).

Inilah penegasan kembali dari pengajaran roti hidup di Yoh 6, bahwa yang makan tubuh dan darah Kristus akan mendapatkan hidup kekal, karena ternyata mereka yang makan tubuh dan darah Kristus telah mengikat perjanjian dengan Kristus sendiri, sehingga dapat memperoleh pengampunan dosa. Dan Perjamuan Suci ini diperintahkan oleh Kristus menjadi peringatan akan Kristus sendiri, sebab Ia mengatakan, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)

Pertanyaan Refleksi:

Kapan kita mau memperingati Perjamuan Suci atau Perjamuan Kasih ini, atau perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia menderita sengsara? Sudahkah kita secara rutin merayakan Ekaristi dan menyambut Komuni kudus? Setiap minggu? Atau bahkan setiap hari?

Sadarilah bahwa Umat Katolik melaksanakan perintah Kristus ini dapat setiap hari, dalam Misa Harian dan secara khusus dalam Misa Kudus pada hari Minggu, hari di mana seluruh umat Kristen memperingati kebangkitan Kristus.*** (BERSAMBUNG)

Disadur dari: http://www.katolisitas.org/mengapa-ekaristi/




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan