Mengapa Ekaristi? (4 - habis)
Katekese

By RP. Thomas Suratno, SCJ 02 Sep 2019, 08:26:56 WIB Surat Gembala
Mengapa Ekaristi? (4 - habis)

Keterangan Gambar : Katekese


Setelah minggu lalu kita diingatkan akan Wasiat Agung un­tuk melaksanakan peringatan akan wafat dan kebangkitan Kris­tus dalam Ekaristi, kemudian bagaimana kehidupan Jemaat per­dana, ajaran Bapa Gereja dan kita semua melakukan pesan Yesus seka­rang.

Jemaat perdana merayakan Ekaristi

Perintah Kristus yang terekam dalam ingatan para rasul, tetap terus dijalankan oleh para rasul setelah ke­naikan Yesus ke Sorga. Di dalam Kisah Para Rasul ditulis­kan, “Mereka [orang-orang percaya dan telah dibaptis] bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan dan mereka selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa.” (Kis 2:42) Rasul Paulus mene­gaskan apa yang dilakukannya bersama dengan para jemaat per­dana, yaitu merayakan Ekaristi Kudus (lih. 1Kor 11:23-25) Dan untuk meyakinkan bahwa dalam setiap perayaan Ekaristi, Kris­tus sungguh-sungguh hadir secara nyata, rasul Paulus mene­gaskan, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tu­han.” (1Kor 11:27). Kalau hanya simbol, seseorang tidak akan ber­dosa terhadap tubuh dan darah Tuhan kalau menerima Eka­risti dengan tidak layak. Menjadi berdosa terhadap darah dan tu­buh Tuhan karena memang Kristus hadir secara nyata, tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya.

Para Bapa Gereja mengajarkan Ekaristi

Kalau kita menengok ke belakang, maka kita dapat melihat bahwa para jemaat perdana yang diwakili oleh tulisan para Bapa Gereja mempercayai Ekaristi. Para Bapa Gereja seperti: St. Igna­tius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-­386), St. Augustinus (354-430) mengajarkan tentang Eka­risti. Mereka semua percaya akan kehadiran Yesus secara nyata

(tubuh, darah, dan ke-Allahan Yesus) dalam setiap perayaan Ekaristi dan bukan hanya sekedar simbol. Seperti berikut ini misalnya St. Ignatius dari Antiokhia (110), adalah murid dari rasul Yohanes. Ia menjadi uskup ketiga di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis tujuh surat kepada gereja-gereja, berikut ini beberapa kuti­pannya: a. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia mengatakan, “…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh Kristus… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Romans, 7)) b. Dalam suratnya kepada jemaat di Symrna, ia menye­butkan bahwa mereka yang tidak percaya akan doktrin Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi sebagai ‘heretik’/ sesat: “Perhatikanlah pada mereka yang mempunyai pandangan beragam tentang rahmat Tuhan yang datang pada kita, dan lihatlah betapa berten­tangan­nya pandangan mereka dengan pandangan Tuhan …. Mereka pantang menghadiri per­jamuan Ekaristi dan tidak berdoa, sebab mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Tubuh dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, Tubuh yang telah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa…” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 6, 7))c. Dalam suratnya kepada jemaat di Filadelfia, ia mengatakan pentingnya merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Uskup, “Karena itu, berhati-hatilah… untuk merayakan satu Ekaristi. Sebab hanya ada satu Tubuh Kristus, dan satu cawan darah-Nya yang membuat kita satu, satu altar, seperti halnya satu Uskup bersama dengan para presbiter [imam] dan diakon.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Philadelphians, 4)).

Melalui pengajaran para Bapa Gereja ini, kita mengetahui bahwa sejak abad awal, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Dan, maksudnya Ekaristi itu diberikan supaya kita belajar menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Mistik Kristus, yang ditandai dengan kesatuan kita dengan para pemimpin Gereja, yaitu uskup, imam dan dia­kon. Iman sedemikian sudah berakar sejak jemaat awal, dan ini dibuktikan, terutama oleh kesaksian St. Ignatius dari Antiokhia yang mendapat pengajaran langsung dari Rasul Yoha­nes. Jangan lupa, Rasul Yohanes adalah yang paling jelas mengajarkan tentang Roti Hidup pada Injilnya (lihat Yoh 6). Jadi walaupun doktrin Transubtantion baru dimaklumkan pada abad 13 yaitu melalui Konsili Lateran ke 4 (1215), Konsili Lyons (1274) dan disempur­nakan di Konsili Trente (1546), namun akarnya diperoleh dari pengajaran Bapa Gereja se­jak abad awal. Prinsipnya adalah: roti dan anggur, setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tu­han, berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Karena itu, walaupun rupa luarnya berupa roti dan anggur, namun hakekatnya sudah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Oleh kesatuan dengan Tubuh yang satu ini, maka kita yang walaupun banyak menjadi satu.

Dari sini kita melihat adanya kontinuitas dan kekonsitenan dari apa yang diajarkan oleh Yesus, para rasul, murid dari para rasul, jemaat perdana sampai saat ini. Dengan demikian mempercayai bahwa Kristus sungguh hadir secara nyata dalam perayaan Ekaristi mem­pu­nyai dasar yang kuat dan seharusnya membuat kita percaya tentang Ekaristi. (HABIS)***

Disadur dari: http://www.katolisitas.org/mengapa-ekaristi/




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan