MISA ANAK-ANAK - 1
KATEKESE LITURGI

By RP. Thomas Suratno, SCJ 15 Mei 2019, 16:26:51 WIB Surat Gembala
MISA ANAK-ANAK - 1

Keterangan Gambar : KATEKESE


Hampir setiap tahun, khusus pada hari raya Paskah dan Natal diselenggarakan Misa Khusus Anak-anak. Sebe­narnya apa yang membedakan Misa Anak-anak dengan Mi­sa Umat biasa? Apakah kalau yang bertugas koor-nya anak-anak maka disebut misa anak-anak? Atau bagaimana? Apa yang menandakan bahwa ini itu misa anak-anak? Mungkin bagi yang memperhatikan soal liturgi juga akan menjadi bingung kalau harus menjelaskannya. Paling banter yang muncul adalah ungkapan “koq anak-anak tidak boleh me­layani Misa?” Sayang sekali kalau ungkapan ini diucap­kan tanpa ada dasar untuk rujukannya seperti Pedoman Umum Buku Misa (PUBM). Yang perlu diluruskan adalah ungkapan “Misa anak-anak” dan “misa umat yang dilayani oleh anak-anak.” Bukan soalnya anak-anak boleh atau tidak boleh me­layani misa. Lalu bagaimana hal ini harus dijelas­kan? Uraian di bawah ini merupakan catatan kecil yang mungkin sekali­gus menjelaskan secara singkat mengenai (peran) anak dalam Misa. Mereka seharusnya bagaimana….

Dikatakan dalam ‘pengantar’ Pedoman Misa Bersama Anak-Anak (PMBA/Directorium de Missis cum Pueris, Ro­ma, 1 Nov. 1973) demikian: “Pedoman Umum Buku Misa yang diterbitkan tahun 1969, sudah memberi petunjuk me­ngenai segala sesuatu yang menyangkut perayaan Eka­risti bersama dengan umat. Sementara itu Kongregasi Ibadat sudah berulangkali menerima permintaan dari seluruh du­nia, agar memikirkan juga misa bersama dengan anak-anak. Maka dari itu pedoman khusus ini telah disusun sebagai lam­piran pada Pedoman Umum Buku Misa, dan sebagai hasil kerjasama para ahli, pria maupun wanita, dari sekian banyak bangsa”. (PMBA  4).

Jelaslah di sini bahwa pedoman untuk Misa bersama anak itu ada walaupun sebagai lampiran dari PUBM. Maka kalau bicara tentang Misa Anak-anak baiklah kalau mengacu pada “Pedoman Misa Bersama Anak-anak (PMBA)” ini. Beberapa catatan (pengandaian sudah pernah baca pedoman ini) yang perlu diperhatikan bahwa Anak-anak yang telah dibaptis seringkali terabaikan dalam kegiatan litur­gis Gereja, khusus-nya dalam Misa. Ingatlah bahwa tidak semua orangtua (sudah) memenuhi tanggung jawabnya untuk memerhatikan pendidikan religius kristiani bagi anak-anaknya. Sadarilah bahwa situasi sosial-budaya zaman sekarang kiranya amat dapat mempengaruhi pertumbuhan iman mereka.

 

Siapa yang dimaksudkan dengan anak-anak di sini? Yang dimaksudkan “anak-­anak” dalam PMBA ini adalah mereka yang belum memasuki pancaroba ter­masuk anak-anak cacad (PMBA 6). Namun yang perlu kita sadari lebih dari siapa mereka adalah bahwa anak-anak itu seolah memiliki dunia tersendiri, yang ber­beda dengan dunia orang dewasa. Cara bicara, berpikir, imajinasi, dan daya tang­kap mereka tidak setara dengan orang-orang dewasa. Kita tidak bisa begitu saja memaksakan bakat dan kemampuan anak untuk bisa hidup dalam alam orang dewasa. Untuk itu mereka perlu perlakuan khusus. Secara psikologis terbukti bah­wa anak-anak memendam bakat religius yang luar biasa. Pengalaman religius yang mereka dapatkan pada masa kanak-kanak atau ketika duduk di bangku Se­kolah Dasar akan sangat mempengaruhi perkembangan mereka (PMBA 2). Misa atau Perayaan Ekaristi sewajarnya juga dapat menjadi medan bagi perkembangan hi­dup religius mereka. Maka, anak-anak pun sejak dini harus dibimbing untuk bisa menghayati Misa atau perayaan liturgis lainnya. Pendidikan untuk anak-anak ini bertujuan agar tingkah laku dan cara hidup anak-anak makin lama makin sesuai dengan amanat Injil (PMBA 15).

Sesuai dengan taraf pertumbuhan, anak-anak memang dibimbing untuk da­pat menghayati hal-hal ilahi pada umumnya. Namun secara khusus mereka dituntun pula untuk bisa mengalami nilai-nilai manusiawi yang terdapat dalam Misa. Karena memang dalam Misa dapat ditemukan banyak nilai-nilai itu. Nilai-nilai manusiawi itu misalnya: kebersamaan, keramahan, kemampuan untuk me­masang telinga, kemampuan untuk minta ampun dan memberi ampun, ungka­pan rasa terima kasih, penghayatan lambang-lambang, jamuan persa­habatan, pe­rayaan pesta, dsb (PMBA 9). Nilai-nilai itu diperkenalkan supaya anak-anak secara bertahap terbuka untuk menangkap nilai-nilai kristiani dan untuk merayakan mis­teri Kristus sesuai dengan umur dan keadaan psikologis maupun sosial. Sehingga jangan hanya pokoknya anak-anak dilatih nyanyi untuk mengiringi Misa Kudus atau membuat hal kreasi dalam Perayaan Ekaristi supaya Misa menjadi menarik. Kiranya bukan itu tujuan utamanya. Justru seharusnya anak-anak itu dituntun dan dibimbing untuk mulai belajar menghayati Ekaristi dengan benar dan baik oleh dan dengan bimbingan orang dewasa.

Orangtua dari masing-masing anaklah yang paling bertanggung jawab dalam menumbuhkan dan merawat iman anak mereka. Orang dewasa lain dapat mem­bantu orangtua untuk memberikan pendidikan liturgi kepada anak-anak. Sejak dini anak sudah diajari berdoa bersama, selain berdoa sendiri. Mereka pun boleh diajak mengikuti Misa untuk orang dewasa dalam rangka pendidikan liturgi bagi anak itu sendiri. Peran orangtua adalah mendampingi anak mengenal setiap unsur yang tampil dalam Misa. Pendampingan langsung pada waktu Misa itu kiranya dapat cukup efektif. Kesempatan lain masih perlu diwujudkan, misalnya dalam pelajaran agama di sekolah maupun paroki diberikan katekese tentang Misa. Terutama katekese menjelang anak menerima komuni pertama (PMBA 12). Di situlah orang-orang tertentu yang cakap dan terlatih dalam pendidikan religius anak berperan besar (katekis, guru agama, walibaptis, pastor, dsb). à BERSAM­BUNG




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan