MISA ANAK-ANAK – 2
KATEKESE LITURGI

By RP. Thomas Suratno, SCJ 28 Mei 2019, 11:06:53 WIB Surat Gembala
MISA ANAK-ANAK – 2

Keterangan Gambar : Katekese


Setelah minggu lalu kita bersama melihat betapa pen­tingnya berliturgi bersama anak atau lebih tepatnya bagai­mana kita memperhatikan anak-anak dalam (mengha­yati) liturgi, baiklah kalau kita lihat juga apa sebenarnya peran orang dewasa yang mendampingi anak-anak dalam liturgi. Berliturgi bersama anak memerlukan perhatian dan tenaga ekstra. Hal yang cukup menyita per­hatian itu sudah terjadi dalam persiapannya. Di sini peran orang dewasa sangat pen­­ting. Anak-anak biasanya akan me­nuruti saja konsep atau gagasan yang dikatakan para pem­bina­nya atau pen­dampingnya. Maka, kepercayaan alamiah semacam itu me­rupakan modal dasar bagi para pembina untuk sungguh-sung­­guh mencurahkan hati bagi terlaksana­nya perayaan li­turgi bersama anak. Idealnya, pertama-tama mereka (para Pembina/pendamping dew­asa) harus men­cintai anak-anak, dekat dengan anak, cukup kreatif, jeli, sa­bar, lincah, syukur-syukur bisa menyanyi. Yang tak boleh ke­tinggalan juga ada­lah mereka perlu cukup memahami mak­na berliturgi ber­sa­ma anak. Setidaknya tahu beberapa aturan prinsipial yang tak boleh diabaikan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kebanyakan Misa memang dikhususkan bagi orang dewasa dan biasanya disebut Misa (untuk) umum. Nah, anak-anak yang hadir dalam Misa untuk umum itu kadang kala dianggap sebagai gangguan. Mungkin juga ada imam yang terpaksa marah atau berhenti berhomili karena mendengar jerit tangis anak. Lalu, ada umat juga yang merasa terusik atau ‘risih’ (bhs. Jawa) melihat anak-anak yang berkeliaran di dalam gereja (bisa jadi juga berkeliaran di luar gereja). Namun sekali lagi, dalam konteks pendidikan anak itu sendiri, orang dewasalah yang harus mengambil inisiatif un­tuk memperhatikan keberadaan anak-anak juga. Umat dewasa diharapkan mem­beri teladan dan kesaksian, karena dua hal ini amatlah berpengaruh bagi anak.

Biasanya dalam misa untuk umum memang selalu berisiko kalau anak-anak ti­dak diberi tempat atau bila orang tua tidak mau mendampingi secara serius. Padahal mereka bisa saja diberi peran atau tugas khusus kalau hal ini sungguh di­persiapkan. Atau mungkin cukuplah cuma sekedar disapa oleh Imam atau pe­tugas lainnya. Sapaan verbal yang secara khusus ditujukan untuk anak-anak yang hadir mungkin bisa merupakan bentuk perhatian nyata kepada anak-anak. Se­dangkan peran atau tugas khusus bagi mereka yang sudah agak besar (tingkat SD) dapat juga diberikan kepada mereka, misalnya mengidungkan mazmur tang­gapan, atau nyanyian lain, membawa bahan-bahan persembahan dalam ritus per­siapan per­sembahan, atau ritual lain yang tidak terlalu sulit jika dilakukan oleh anak-anak. Yang penting dalam melibatkan anak dalam peran atau tugas liturgi sungguh di­per­siapkan, dibina (diberi pengertian dan bagaimana menghayati ba­gian-bagian liturgi) dan didampingi tentunya.

Lalu bagaimana jika semula sebuah misa dipersiapkan untuk orang dewasa, namun kenyataannya tiba-tiba justru dihadiri lebih banyak anak-anak, maka di­per­kenankan juga untuk menyesuaikan seluruh Misa-nya dengan kebutuhan anak-anak yang hadir (Pedoman Misa Bersama Anak-Anak - PMBA 19). Minimal, homilinya dapat secara khusus ditujukan kepada anak-anak itu. Namun diolah sedemikian rupa sehingga orang dewasa pun dapat memetik manfaatnya. Pada umumnya, cara penyesuaian semacam itu tentu saja tetap harus mengacu pada pedoman atau norma-norma liturgis yang berlaku. Secara khusus wewenang pe­nyesuaian semacam itu berada di tangan uskup dioses yang bersangkutan.

Mengingat hal-hal yang sudah disinggung tadi, sebenarnya tidak begitu mu­dah untuk mempersiapkan dan atau mendampingi anak-anak dalam misa untuk umum. Banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan bila akan memperhatikan secara khusus kepada mereka. Yang jelas dan ini pemandangan yang terlihat da­lam misa yang bersifat umum itu yakni anak-anak kurang mendapat perhatian, sapaan dan peran. Mungkin akan menjadi lain bila misa kudus itu dikhususkan sebagai misa anak-anak, ‘Misa Anak-anak’ yang dihadiri oleh beberapa orang de­wasa. Apakah hal ini menjadi lebih mudah dalam persiapan? Bisa jadi tidak mudah namun bisa lebih terfokus perhatiannya dan tentu saja menuntut pendamping yang handal serta butuh persiapan yang lebih matang secara bersama-sama. à BERSAMBUNG




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan