Misa Khusus Orang Tua: Membesarkan Anak Secara Kristiani
Katekese

By RP. Thomas Suratno, SCJ 21 Jan 2020, 09:08:00 WIB Surat Gembala

Keterangan Gambar : Katekese


Anak-anak adalah anugerah Tuhan

 

Anak adalah anugerah dari Tuhan kepada keluarga, dan bu­kan sekedar titipan seperti barang, yang menuntut tang­gung­­ jawab orang tua untuk membesarkan dan mendidik su­paya mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehen­dak Tuhan, Sang Pemberi karunia itu? Usaha orang tua itu akan menentukan anak akan menjadi orang seperti apa me­re­ka kalau sudah besar? Apakah mereka akan menjadi orang baik, pandai dan bermoral? Ataukah mereka akan menjadi na­kal, bermasalah, dan tidak bertanggung jawab? Dengan ka­ta lain, menjadi orang seperti apa mereka nantinya, sangat ter­­gantung kepada bagaimana cara kita membesarkan mereka.

 

Seperti yang kita ketahui, setiap anak berbeda satu sama lain. Dari segi karakter, tabiat, watak, bawaan, dan lain- lain; mereka semua unik dan berlainan. Sebenarnya mereka itu dilahirkan dengan keadaan yang sangat sederhana, tanpa pakaian atau perlengkapan apapun juga. Dengan kenyataan ini, Tuhan menghendaki agar setiap orang tua untuk terus me­melihara dan menjaga anak agar bertumbuh, mempe­lajari dan mendalami keadaan anaknya setiap saat. Tuhan ingin agar setiap orang tua selalu bergantung kepadaNya Sang Pencipta, agar Ia dapat memberikan rahmat-Nya, ara­han, pandangan dan harapan, dalam membesarkan anak-anak-Nya di dunia ini. Suatu tanggung jawab yang besar sekali, di mana hanya dengan melalui cara Tuhan Sang Pen­cipta sajalah kita baru dapat melaksanakannya dengan se­mak­simal mungkin dan sebaik mungkin.

 

Santa-santo membantu orang tua untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak kepada kebahagiaan duniawi dan surgawi

 

Setiap anak Katolik pastilah dibaptis dan diberi nama pelindung orang kudus dan nama itu bukan sekedar untuk “hebat-hebat-an”, tetapi juga sebagai panutan hi­dupnya, mengarahkan hidupnya seperti santo/santa pelindung yang diberikan kepadanya. Nah, kalau kita melihat kisah para santo dan santa, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka dilahirkan di dalam keluarga yang sangat sederhana. Walaupun demikian, orang tua mereka berhasil mendidik anak-anaknya sehingga mereka dapat menjadi santo/santa (orang kudus). Santo dan santa walaupun mempunyai karakter yang sangat berbeda, dan latar belakang keluarga yang sangat berlainan, memiliki satu hal yang sama. Yakni: iman dan kasih mereka pada Tuhan, GerejaNya, dan sesama. Hal ini membuat mereka menjadi rendah hati dan teguh beriman. Hal ini membuat mereka dipakai Tuhan dengan caranya yang khu­sus. Setiap santo/santa mempunyai panggilan yang spesifik, sesuai dengan ka­rakter dan kehidupan pribadi mereka. Ada kalanya dengan cara yang seder­hana, namun juga ada kalanya dengan cara yang besar mulia. Apapun karya mereka, besar atau kecil, semasa hidupnya mereka semakin lama semakin bertumbuh menjadi lebih rendah hati, dalam melayani dan mencintai Tuhan.

 

Sama halnya dengan kita, santo dan santa ini hidup di dunia yang nyata. Mereka dihadapkan dengan masalah yang serupa seperti kita. Dunia yang penuh dengan cobaan, ketidaksempurnaan, dosa, dan musibah. Orang tua merekapun dihadap­kan dengan keadaan yang serupa dengan yang kita alami. Mereka harus juga melengkapi kehidupan jasmani anak-anaknya; dari mulai makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Merekapun dengan caranya sendiri juga melengkapi kehidupan rohani anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang me­ngenal, memuji dan mencintai Tuhan. Jaman dahulu, mereka dapat membesar­kan anaknya dengan baik, tanpa bantuan teknologi yang canggih, psikolog yang ter­nama, ataupun uang yang berlimpah. Pada akhirnya, pertanyaannya adalah: “Apa­kah yang kita inginkan bagi anak-anak yang Tuhan percayakan pada kita?”

 

Setiap orangtua pada umumnya menginginkan anak-anaknya untuk hidup baha­gia. Pertanyaannya adalah, “Kehidupan bahagia yang seperti apa?” Kehidupan bahagia yang seharusnya kita inginkan, adalah kebahagiaan yang abadi untuk selama-lamanya. Ini adalah kebahagiaan yang hanya bisa diperoleh apabila kita pada akhirnya hidup bersama Bapa kita di Surga. Kehidupan bahagia yang abadi di Surga inilah yang seharusnya kita cari dan usahakan bagi anak-anak kita; bukan semata-mata hanya kehidupan di dunia yang sifatnya semu dan singkat. Apa arti­nya kalau kita hidup di dunia dan memperoleh uang, kekuasaan, kepopuleran, atau kemuliaan, tetapi perbuatan kita tidak membawa kita ke rumah Bapa di Surga. Sabda Tuhan mengatakan, bahwa pada akhirnya yang membawa seseorang ke Surga adalah iman, pengharapan dan cinta kasih kita pada Tuhan dan sesama. Ketiga hal inilah yang pada akhirnya akan dilihat oleh Tuhan. Ketiga hal inilah yang akan menyelamatkan seseorang untuk kembali ke rumah Bapa.

 

Misi khusus sebagai orangtua adalah: mengarahkan jiwa anak-anak kita untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di surga. Ini adalah tanggung jawab terbesar bagi orangtua untuk anak-anaknya: menghantar, menuntun dan menunjukkan jalan menuju Surga. Karena misi yang kudus inilah, orang tua harus berupaya untuk antara lain menanamkan di dalam hati anak-anak kita kebenaran yang sesungguhnya, menyatukan dan menguatkan kehendak dan pemikiran me­reka terhadap kehendak Tuhan, menanamkan rasa kasih pada Tuhan dan sesama, dan keinginan untuk menjalani kehidupan dengan kekudusan dan pelayanan, mengorbankan kepentingan pribadi kita dengan suka cita, demi keselamatan dan kepentingan anak. Tentu saja akhirnya, dengan bantuan rahmat Tuhan, menuntun anak-anak kita untuk menjadi santo dan santa di dunia modern ini. *** (Diringkas dari tulisan Maria Brownell oleh Th. Suratno, SCJ)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan