MISA MALAM NATAL, GUA NATAL & POHON NATAL
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 23 Des 2018, 20:45:26 WIB Surat Gembala
MISA MALAM NATAL, GUA NATAL & POHON NATAL

Keterangan Gambar : KATEKESE


MISA MALAM NATAL, GUA NATAL & POHON NATAL

Sekarang sudah memasuki Minggu Adven yang ke-IV dan besok, Senin malam kita semua sudah akan merayakan (Vigili) Malam Natal. Gereja akan dilengkapi dengan dekorasi Natal, pada umum-nya di Gereja Katolik dibuat Gua Natal di mana patung bayi Yesus yang dibungkus dengan lampin dalam palungan diletakkan di ha-dapan Yusuf dan Maria yang dikelilingi oleh para gembala dan ter-nak. Inilah warisan tradisi yang dimulai oleh St. Fransiskus Asisi ketika merayakan Malam Natal bersama komunitas dan umat se-kitar di Grecio. Dikatakan bahwa pada tahun 1223, St. Fransiskus - seorang diakon - mengunjungi kota Grecio untuk merayakan Natal. Grecio adalah sebuah kota kecil di lereng gunung dengan lembah yang indah terhampar di hadapannya. Masyarakat sekitar mena-nami daerah yang subur itu dengan pohon-pohon anggur. St. Fran-siskus menyadari bahwa Kapel Pertapaan Fransiskan akan terlalu kecil untuk dapat menampung umat yang akan hadir pada Misa Natal tengah malam. Jadi, ia mendapatkan sebuah gua di bukit ka-rang dekat alun-alun kota dan mendirikan altar di sana. Tetapi, Misa Natal kali ini akan sangat istimewa, tidak seperti Misa-misa Natal sebelumnya. Ditulis oleh St. Bonaventura: “Hal itu terjadi tiga tahun sebelum wafatnya. Guna membangkitkan gairah penduduk Grecio dalam mengenangkan kelahiran Bayi Yesus dengan devosi yang mendalam, St. Fransiskus memutuskan untuk merayakan Na-tal dengan sekhidmat mungkin. Agar tidak didakwa merayakan Na-tal dengan tidak sepatutnya, ia minta dan memperoleh ijin dari Bapa Uskup. Kemudian St. Fransiskus mempersiapkan sebuah pa-lungan, mengangkut jerami, juga menggiring seekor lembu jantan dan keledai ke tempat yang telah ditentukannya. Para biarawan berkumpul, penduduk berhimpun, alam dipenuhi gema suara me-reka, dan malam yang kudus itu dimeriahkan dengan cahaya ben-derang dan merdunya nyanyian puji-pujian.………..” Tradisi ini amat indah, mengesankan dan akhirnya diteruskan hingga kini, bahkan sering kali kita dengar tidak hanya membuat gua natal melainkan juga diadakan lomba membuat Gua Natal.1)

Bagi Saudara yang pernah merayakan malam Natal di Basilika St. Petrus Vatikan yang dipimpin oleh Bapa Suci, setelah “Maklumat” selesai dinyanyikan seorang solist (lampu tetap menyala dan tidak ada acara cahaya lilin sesudahnya), kemudian Paus dan para uskup yang sudah tiba di panti imam, di mana di depan altar diletakkan bayi Yesus dalam palungan yang ditutup dengan kain putih. Paus membukanya kemudian mencium dan memberkati bayi Yesus itu, lalu anak-anak pengiring yang membawa bunga-bunga hias dibantu oleh satu (dua) orang misdinar meletakkan bunga-bunga itu di sekitar palungan. Setelah itu Paus dan beberapa uskup menuju altar untuk memulai Perayaan Ekaristi Ma-lam Natal (seperti Misa Hari Minggu). Baru kemudian setelah Misa selesai, yakni setelah Paus memberikan berkat kepada Umat yang ikut merayakan Natal di Basilika malam itu, lalu beliau turun menuju palungan, mencium bayi Yesus. Bapa Suci mengambil dan meng-gendong bayi Yesus, diarak bersama para pengiring seperti rombongan pada awal Upacara Malam Natal menuju ke Replika Gua Natal di bagun di samping kapel baptis. Paus (dibantu oleh seorang daikon) meletakkan bayi Yesus ke dalam palungan yang ada di dalam Gua Natal, lalu memberkatinya.2)

Mungkin ada yang bertanya-tanya “di mana pohon natal” dipasang? Ada atau tidak, ya? Jawabannya: Ada! Tetapi pohon natal besar itu dipasang di luar Basilika yakni di Pelataran Basilika Santo Petrus bersama sebuah kandang/gua natal besar seukuran manusia. Mengapa tidak dipasang di dalam Basilika (tempat dimana Misa Malam Natal dirayakan)? Sadarilah fokus Misa pada Malam Natal adalah Bayi Yesus (dalam Palungan). Itulah sebab-nya di Basilika, patung Bayi Yesus diletakkan di tengah di depan altar untuk diberi hormat dan diberkati/didupai. Lalu Gua Natal hanya berfungsi dekoratif kateketis untuk menge-nang peristiwa kelahiran Yesus sehingga diletakkan di belakang di samping dan bukan di panti imam. Namun walau begitu, umat dapat berdoa di depan palungan (dalam gua natal).

Lalu bagaimana dengan Pohon Natal itu sendiri? Pohon natal sebenarnya hanyalah me-rupakan simbol atau lambang dari pohon kehidupan kalau diambil atau berdasar dari ki-sah Santo Bonifasius (th 750-an) seorang misionaris Inggris yang bermisi ke Jerman dan Perancis, diangkat menjadi Uskup, di mana suatu malam dalam sebuah perjalanan ia me-lihat sekelompok orang yang hendak mempersembahkan seorang anak warga desa kepada Dewa Thor di sebuah pohon Oak. Untuk menyelamatkan anak tersebut, St. Bonifasius me-nebas pohon Oak tersebut dengan kapaknya yang besar dan keajaiban terjadi. Pohon tersebut kemudian roboh dan di balik pohon oak raksasa itu, berdirilah sebatang pohon cemara muda, bagaikan puncak menara gereja yang menunjuk ke surga. St. Bonifasius ber-bicara kepada warga desa, “Pohon kecil ini, pohon muda hutan, akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai, sebab rumah-rumah kalian di-bangun dari kayu cemara. Pohon ini adalah lambang kehidupan abadi, sebab daun-daun-nya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga. Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus; berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri; di sana ia akan dibanjiri, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-per-sembahan cinta dan kasih.” Kemudian, tak sedikit orang yang kemudian menganggap bah-wa pohon cemara sebagai pohon natal dan juga merupakan lambang untuk mengingat mujizat yang dilakukan oleh St. Bonifasius ini.3)

Sejarah Pohon Natal lainnya mengatakan dimulai dari Jerman. Konon Bangsa Jerman kuno memiliki kebiasaan memasang batang pohon (lengkap dengan cabang-cabang dan daun-daunnya) di tempat tinggal mereka untuk mengusir ‘bad spirit’, dan sebagai simbol agar musim semi cepat tiba. Kebiasaan ini telah dimiliki pada zaman dahulu bahkan sebelum kitab-kitab suci dibawa oleh para nabi. Pada saat kristen menyebar di Jerman, gereja tidak menyukai kebiasaan tersebut dan melarangnya. Sekitar abad ke-12, seorang pemilik bakery memiliki ide untuk menaruh batang pohon tersebut dalam keadaan ter-balik dan hal ini disetujui oleh gereja katolik. Setelah Protestan muncul, Martin Luther King mempopulerkan dengan posisi natural seperti pohon pada umumnya dan dihiasi dengan lilin-lilin untuk menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bintang-bintang berkilauan di langit yang kelam. Dan seiring dengan waktu, pohon natal pun didekorasi dengan hia-san-hiasan menarik seperti lampu-lampu, angel, bahkan cokelat dan apel.4) Namun kisah lain lagi mengatakan demikian: “Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.” 5)

Mari kita siapkan hati dan budi kita untuk menyongsong Malam natal, esok. Semoga Natal sungguh membawa damai di hati dan damai dalam keluarga kita, karena Allah telah menjelma menjadi manusia dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus yang senantiasa bersama di hati kita. SELAMAT NATAL 2018.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan