Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (1)
Pengantar

By RP. Thomas Suratno, SCJ 27 Agu 2018, 09:53:38 WIB Surat Gembala
Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (1)

Keterangan Gambar : Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (1)


Pengantar

Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) tidak membahas tentang Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi di dalam rumah tangga. Namun hal ini sangat jelas di­nyatakan dalam salah satu Instruksi Kongregasi Ibadat yang bernama “Actio Patoralis” pada tahun 1969. Boleh kita ketahui bahwa sesudah Konsili Vatikan II, apa yang menjadi warisan tradisi Gereja Perdana dihidupkan kem­bali dan dibahas secara luas.

Tinjauan Historis & Teologis

Mengenai Misa di rumah (tangga) ada ulasan atau tin­jauan secara historis yang pada intinya, secara historis khususnya Perayaan Ekaristi di rumah-rumah keluarga sebenarnya bukan hal yang baru. Konteks kekeluargaan sudah kita temui dalam Perjamuan Malam Terakhir yang terdiri dari unsur-unsur perjamuan makan keke­luargaan bangsa Yahudi. Umat kristen perdana di Yeru­salem “memecahkan roti di rumah-rumah”, yakni di ru­mah-rumah keluarga umat beriman yang dikhusus­kan untuk itu. Salah satu dari rumah-rumah itu adalah ru­mah Maria, ibu Yohanes yang disebut Markus (bdk. Kis 12,12). Di kota-kota di luar Yerusalem dilakukan hal yang sama seperti di Yope (bdk. Kis 9,43.10,6), Damas­kus (bdk. 9,10-19), Kolose di rumah Filemon (bdk. Fil 2), Laodicea di rumah Ninfa (bdk. Kol 4,15), dll. Perayaan Ekaristi mungkin dilakukan juga di rumah lain seperti yang disalami Paulus dalam surat-suratnya. Lama ke­lamaan didirikan tempat-tempat ibadah khusus, teru­tama karena terbatasnya ruangan untuk menampung se­kian banyak umat di rumah-rumah keluarga. Sejak abad ke-II, beberapa rumah umat diperluas untuk  menam­pung sebanyak mungkin orang. Tempat-tempat itu kemudian mulai dikenal dengan sebutan “Domus Ecclesiae”, yakni rumah khusus untuk melakukan per­ibadatan, namun belum dalam bentuk yang tetap.

Basilika Kristen, yaitu Gereja yang besar dan megah diririkan sejak zaman Kaisar Konstantinus Agung. Akibatya, Gereja yang biasanya berbentuk rumah keluarga berubah menjadi bangsal besar dan luas untuk menampung umat beriman. Peru­bahan ini mengubah situasi umat yang beribadah, bahkan mengubah citra keke­luargaan yang sudah biasa di dalam rumah keluarga menjadi formal, seremonial bahkan rubrikal. Kemudian, dalam perkembangan Gereja selanjutnya, liturgi dira­yakan secara massal di dalam gedung-gedung gereja yang besar. Karya-karya pas­toral mengalami kesulitan karena berhadapan dengan situasi masal ini. Sulit bagi umat beriman menciptakan suasana komunio persaudaraan sejati dalam iman, harapan dan kasih. Dewasa ini, usaha-usaha ditampilkan dalam berbagai cara untuk membina kelompok-kelompok kecil. Hal ini merupakan jalan keluar yang diusahakan berkat semangat pembaharuan Konsili Vatikan II yang membina ke­ter­ikatan persaudaraan dalam suatu keterlibatan bersama dalam pelayanan iba­dat, teristimewa dalam kelompok-kelompok kecil tanpa tendensi ekslusivisme.

Di samping tinjauan historis, ada juga tinjauan teologis. Pada dasarnya tinjauan teologis ini bersumber dalam teologi umat beriman pada umumnya, yang tidak lain misteri Gereja yang dihayati sebagai misteri persekutuan, suatu commnunio universal, yang diungkapkan di dalam kelompok-kelompok kecil atau komunitas lokal. Memang sesungguhnya komunitas universal diungkapkan dalam komunitas lokal. Di dalam komunitas lokal terjadilah pertemuan antar pribadi dalam suasana kekeluargaan. Kemudian, dalam perayaan Ekaristi, Gereja menyatakan diri seba­gai komunitas persaudaraan. Persekutuan umat yang hadir adalah tanda misteri kesatuan Gereja yang bersifat universal. Ekaristi menghantar orang ke dalam per­satuan dengan Kristus dan dengan semua saudara, anggota Tubuh Mistik Kris­tus dalam ikatan cinta kasih. Jikalau umat mau bersatu di dalam perayaan Ekaristi, mereka harus memperhitungkan kondisi manusiawi untuk menyatakan misteri itu secara lebih hidup dan konkret bagi persatuan itu.

Pertemuan di dalam kelompok-kelompok kecil sangat mungkin membangun so­lidaritas persaudaraan sekaligus membentuk norma-norma sosial bagi kehidu­pan masyarakat. Persekutuan Ekaristi memungkinkan semuanya itu. Boleh dika­ta­kan, persekutuan Ekaristi dalam kelompok kecil lebih menampilkan secara eks­presif “tanda” persatuan seluruh umat manusia dalam Kristus. à BERSAMBUNG: Kebijaksanaan Pastoral!




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan