Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (2)
Kebijaksanaan Pastoral

By RP. Thomas Suratno, SCJ 27 Agu 2018, 09:55:14 WIB Surat Gembala
Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (2)

Keterangan Gambar : Perayaan Ekaristi Di Rumah Keluarga (2)


Kebijaksanaan Pastoral

Dalam Instruksi “Actio Pastoralis” yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat (15 Mei 1969) mengatur berkaitan de­ngan penyelenggaraan Misa di dalam kelompok-kelom­pok kecil. Misa misa di lingkungan yang biasanya dilaksa­na­kan di rumah atau di aula. Hal ini merupakan realisasi lanjutan dari keinginan para peserta konsili (bdk. SC no. 19). Beberapa pemikiran Gereja dalam Instruksi adalah:

Sasaran utama dari kegiatan pastoral Gereja ialah me­ning­katkan peran serta umat beriman di dalam hidup ber­jemaat. Kemudian, kelompok-kelompok khusus bukan untuk meno­pang pembentukan “Gereja-gereja mini” dan pengisti­me­waan­nya, melainkan untuk melayani keper­luan-keper­luan khus­us umat beriman.  Berdasarkan pe­nga­­la­man, kalau dia­tur secara tepat dan diarahkan de­ngan bijaksana, maka perayaan itu sama sekali tidak me­nghambat kebersamaan paroki.

Misa lingkungan merupakan suatu “pertemuan doa” un­tuk pendalaman kebenaran dengan merenungkan Sabda Tuhan yang memuncak pada Ekaristi kudus. Dan memang harus begitu. Maka jikalau ada permintaan untuk menga­dakan Misa lingkungan yang perlu diperhatikan adalah  beberapa poin berikut ini:

  1. Hanya waligereja setempat (uskup) atau pim­pi­nan religius – untuk rumah-rumah di bawah ke­kua­saannya – berwenang memberikan izin untuk me­lak­sanakan perayaan Ekaristi dengan kelom­pok-ke­lompok khusus di luar tempat ibadah. Tem­­­­pat Misa adalah ruang ibadat, rumah ke­luar­ga, wisma, dan bukan ruang tidur. Kemu­dian ja­ngan hanya karena alasan luas dan anggun, Misa di­ laksanakan hanya di rumah beberapa keluarga tertentu saja dan terkesan mengistimewakan. (AP 4)
  2. Misa itu tak pernah boleh dianggap sebagai kegiatan eksklusif suatu kelompok khusus. (AP 5b)
  3. Untuk membuat Misa sungguh serasi dengan situasi dan kondisi umat yang ha­dir, maka: peran serta umat hendaknya sedapat mungkin digalakkan sesuai de­ngan kemampuan kelompok yang bersangkutan. (AP 6a)
  4. Hendaklah umat aktif dalam doa umat dan tidak boleh menghilangkan ujud-ujud umum Gereja à untuk Gereja, dunia, sesama yang menderita dan umat yang ha­dir. (AP 6h)
  5. Komuni dua rupa tidak boleh diadakan; kecuali viaticum/komuni bekal suci. (AP 7)
  6. Waspadalah, jangan sampai penyesuaian-penyesuaian yang diperbolehkan un­tuk kelompok khusus, dimasukkan pula ke dalam Gereja paroki. (AP 9)
  7. Syarat-syarat yang perlu dipenuhi untuk merayakan Ekaristi bersama kelom­pok-kelompok khusus di luar rumah ibadat, dan khususnya di rumah warga, adalah jemaat sbb.: (AP 10)

A). “Kecuali dalam hal-hal khusus, izin yang tertera di atas (lihat no. 1/AP 4) tidak dapat diberikan pada hari-hari minggu dan pesta-wajib, agar su­paya terjaminlah pelayanan imam dan partisipasi para beriman dalam pe­rayaan liturgis paroki demi memupuk kehidupan dan paguyuban jemaat” (AP 10a bdk. Dies Domini 35-36).

B). Bilamana yang memimpin perayaan bukan pastor paroki sendiri, maka ia ha­rus terlebih dulu memberitahu pastor paroki, dan pastor paroki harus mela­por­kan perayaan-perayaan itu kepada uskup.

C). Kaidah tentang puasa Ekaristi harus ditaati. Maka Misa Kudus tidak per­nah boleh diadakan langsung sesudah santap bersama dalam bentuk apapun; dan kalau santap bersama itu menyusul sesudah Misa, harap diusahakan agar – sedapat mungkin – tidak dipakai meja yang tadinya digunakan untuk perayaan Ekaristi.

D). Roti untuk Ekaristi harus tak beragi.

E). Misa sebaiknya tidak diadakan pada waktu larut malam.

  1. Kemudian dalam AP 11 dikatakan sbb.:

Dalam Misa dalam rumah keluarga ini “hanya boleh dipakai teks yang diambil dari Misale atau dari lampiran-lampiran yang disahkan. Tidak dibenarkan menggantikan teks itu semau-maunya dengan yang lain, …”. Kemudian, “jumlah, bentuk dan mutu perlengkapan altar, bejana suci serta pakaian ibadat harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.” Dan akhirnya, “Mengenai tatagerak imam dan tata perayaan maupun mengenai sikap badan para hadirin, seperti berdiri, berlutut, duduk, berlaku segala ketentuan seperti untuk perayaan Ekaristi lain.” ***

Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ

Sumber Bacaan:

  1. EKARISTI – Memahami Misa Kudus Demi Penghayatan Yang Utuh, oleh Bosco da Cunha O.Carm (Obor, 2012)
  2. ACTIO PASTORALIS – Bina Liturgia 2E (hal 441-448)
  3. DIES DOMINI (Hari Tuhan) – Seri Dokumen Gerejawi no. 54



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan