TENTANG EKARISTI
KATEKESE

By RP. Thomas Suratno, SCJ 10 Mei 2019, 21:15:28 WIB Surat Gembala
TENTANG EKARISTI

Keterangan Gambar : Katakese


Ada banyak umat non-Katolik yang sering memper­tanyakan mengapa umat Katolik merayakan Ekaristi. Mere­ka sering mempertanyakan dasar alkitabiah dari pengaja­ran Ekaristi. Sebaliknya, ada juga sebagian umat Katolik yang juga ‘merasa’ bahwa perayaan Ekaristi kurang me­nyentuh perasaan mereka, sehingga terasa membosankan. Apalagi ditambah dengan khotbah Romo yang terdengar ‘mo­noton’, dan koor yang kadang terdengar apa adanya, yang dalam beberapa kesempatan terdengar ‘fals‘. Itulah kenyataan yang kita dengar dan kita rasakan. Maka per­tanyaan refleksi-nya adalah mengapa Gereja Katolik m­engam­bil Ekaristi sebagai bentuk penyembahan yang ter­tinggi, yang dirayakan setiap Minggu bahkan setiap hari sampai akhir zaman? Gereja Katolik merayakan Ekaristi, karena: tunduk terhadap perintah Kristus, melaksanakan pesan terakhir Kristus, dalam perjalanan waktu hal ini di­lakukan oleh seluruh jemaat perdana, dan diteruskan oleh Gereja di sepanjang sejarah sampai saat ini.

Sebelum Kristus naik ke Sorga, Dia memberikan pe­rintah, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan keta­hui­lah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20) Selain perintah untuk mela­kukan evangelisasi dan membaptis seluruh bangsa itu, Kristus menginginkan agar kita dapat melakukan dan me­nga­jar­kan semua orang untuk melakukan segala sesua­tu yang diperintahkan oleh Kristus. Kita tidak mem­punyai hak untuk memilih-milih perintah mana yang kita suka dan mana yang tidak, karena kita pandang sulit atau kurang masuk akal. Ketaatan un­tuk menjalankan semua perintah Kristus adalah merupakan tanda kedewasaan spiritualitas dari seseorang dan sebaliknya kemampuan untuk menjalankan se­mua perintah Kristus hanya dapat terjadi dengan bantuan rahmat Allah.

Ekaristi adalah perintah Kristus yang penting dan yang terakhir. Gereja Katolik mengajar bahwa Ekaristi tidak lain adalah menyantap Sang Roti Hidup, dan perintah untuk merayakan Ekaristi – makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya – adalah sungguh amat penting, karena menyangkut keselamatan kita. “Barang­siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54). Perintah Kristus yang terekam dalam ingatan para rasul, tetap terus dijalankan oleh para rasul setelah kenaikan Yesus ke Sorga. Di dalam Kisah Para Rasul dikatakan, “Mereka [orang-orang percaya dan telah dibaptis] bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan dan mereka selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa.” (Kis 2:42) Paulus menegaskan apa yang dilakukannya bersama dengan para jemaat perdana, yaitu merayakan Ekaristi Kudus (lih. 1Kor 11:23-25). Dan untuk meyakinkan bahwa dalam setiap perayaan Ekaristi, Kristus sung­guh-sung­guh hadir secara nyata, Paulus menegaskan, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” (1Kor 11:27). Bukan simbol atau lambang. Kalau hanya simbol, se­seorang tidak akan berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan kalau menerima Ekaristi dengan tidak layak. Tetapi sungguh menjadi berdosa terhadap darah dan tubuh Tuhan karena memang Kristus hadir secara nyata, tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya. Itulah sebabnya sikap dan cara menyambut pun sampai sekarang diatur.

Kalau kita membaca sejarah perjalanan Gereja, maka kita dapat melihat bahwa para jemaat perdana yang diwakili oleh tulisan para Bapa Gereja sungguh mempercayai Ekaristi. Para Bapa Gereja seperti: St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (sekitar tahun 150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) mengajarkan tentang Ekaristi. Mereka semua percaya akan kehadiran Yesus secara nyata (tubuh, darah, dan ke-Allahan Yesus) dalam setiap perayaan Ekaristi dan bukan hanya sekedar simbol. Melalui pengajaran para Bapa Gereja ini, kita mengetahui bahwa sejak abad awal, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus.

Bagaimana dengan kita?

Akhirnya, pertanyaannya adalah apakah kita sungguh-sungguh memper­cayai bahwa Kristus sungguh hadir (tubuh, darah, jiwa dan keallahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur dalam setiap perayaan Ekaristi? Dan apakah kita memper­cayai bahwa tubuh-Nya dan darah-Nya dapat memberikan kehidupan kekal, me­ru­pakan tanda perjanjian baru, dan dicurahkan untuk pengampunan dosa? Kalau kita sungguh-sungguh mempercayainya, maka doa dan penyembahan apa yang lebih besar dari Ekaristi, di mana Kristus hadir secara nyata dan menginginkan persatuan abadi dengan kita? Apakah kita mengasihi Kristus dan berusaha men­jalankan semua perintah-Nya? Kalau ya, maka perintah-Nya adalah termasuk memperingati-Nya dalam perayaan Ekaristi. Dan kita menginginkan untuk mem­peringati Kristus yang kita kasihi bukan setiap bulan, melainkan lebih sering, yaitu setiap minggu dan bahkan setiap hari. Kalau Kristus ingin dikenang dengan cara Ekaristi, maka siapakah kita yang dapat mengubahnya? Mari, jangan kita mengu­bah perintah Kristus, namun biarkan  Kristus yang mengubah kita, menguduskan, memperbaharui kita lewat Perjamuan Kudus, Perjamuan Kasih-Nya. Apakah kita sudah bersikap demikian dalam ber-Ekaristi?***

(Disadur dari artikel “Mengapa Ekaristi?” Oleh: RP Thomas Suratno, SCJ).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan