Tentang Hari Minggu Palma
KATEKESE LITURGI

By RP. Thomas Suratno, SCJ 08 Apr 2019, 11:08:18 WIB Surat Gembala
Tentang Hari Minggu Palma

Keterangan Gambar : KATEKESE


Sebagaimana kita ketahui minggu depan kita sudah memasuki Masa Sengsara Tuhan Yesus dengan mempe-ringati Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem, di mana pe-ringatan itu lazim disebut sebagai Minggu Palma. Hari Ming-gu Palma sebagai pembuka Pekan Suci, suatu masa sengsara Yesus yang oleh Gereja (Umat) diikuti dari hari ke hari. Dan ketika sampai pada Tri Hari Suci, umat diajak untuk me-ngikuti sengsara Tuhan Yesus dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit apa yang terjadi, dialami dan dilakukan Dia dengan tujuan supaya kita semua dapat merasakan betapa sengsaranya Tuhan Yesus dalam akhir hidup-Nya demi pe-nebusan/penyelamatan kita umat manusia yang berdosa.

Dua suasana liturgi Minggu Palma: Gembira dan Sedih

1. Suasana Gembira

Dalam memperingati Minggu Palma, dalam perayaan Ekaristi diciptakan dua suasana yang kontras, yakni gembira dan sedih. Kegembiraan diungkapkan dengan iring-iringan umat yang memasuki gedung gereja dengan nyanyian sorak sorai, “Hosana putra Daud…” Tentu hal ini didahului dengan pemberkatan daun palma. Tata cara pemberkatan daun pal-ma, umumnya dilakukan dengan cara memilih yang paling mengena di hati umat. Yang pertama adalah daun palma yang disediakan panitia dan umat yang datang membawa palma dikumpulkan bersama lalu imam memberkatinya (dengan air suci dan atau pendupaan). Setelah itu sebelum perarakan palma dibagikan kepada setiap umat oleh misdi-nar yang dibantu oleh para petugas yang sudah ditunjuk. Baru kemudian bersama-sama berarak masuk ke dalam gedung gereja. Atau cara yang kedua, yakni palma yang sudah dibawa umat tetap di tangannya dan seandainya ada umat yang tidak membawa panitia membagikannya, dengan tangan dan daun palma diacungkan kemudian imam sambil berkeliling memberkati daun-daun palma itu dengan memercikkan air suci. Lalu dilanjutkan dengan perarakan masuk ke dalam gedung gereja. Liturgi di luar gereja berjalan singkat namun meriah karena mau mengungkapkan hati umat mengenang peristiwa seperti dalam Kitab Suci, yakni bersama Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem dan disambut dengan meriah oleh umat degan melambai-lambaikan daun palma. Gedung gereja menjadi lambang kota Yerusalem.

(Catatan Reflektif: Baik juga kalau umat mulai menanam pohon palma di rumah – bisa di halaman bisa juga dalam pot – di mana daunnya dibawa ke gereja pada waktu peringatan Minggu Palma sebagai simbol atau ungkapan penghayatan pribadi ambil bagian dalam menyambut Yesus tanpa harus dilayani tetapi melayani sendiri sejak menanam dan memetik daun palma dari rumah. Mungkin ada yang komentar: koq repot-repot amat sih…! Yah… mungkin kita sudah terbiasa dilayani sehingga sulit untuk memulai melayani dengan cara seperti itu. Ingatlah…kita sudah mulai dengan dekorasi sekitar altar dengan tanaman hidup. Apa salahnya kalau kita memulai juga menanam pot pohon palma).

 

2. Suasana Sedih

Setelah acara perarakan selesai dan mulai masuk dalam Ibadat Sabda, di mana Sabda Allah diperdengarkan terasalah suasana sedih menyelimuti hati kita terutama pada waktu mendengar Kisah Sengsara Yesus Kristus. Kisah Sengsara ini diambil dari Injil tahun yang bersangkutan, seperti tahun ini adalah Injil Lukas (Tahun C). Namun Kisah sengsara pada Jumat Agung selalu diambil dari Injil Yohanes. Ini yang menyebabkan kita sulit membuat tablo atau drama secara konsekwen menurut Injil Yohanes, mengapa? Karena kecenderungan kita saat membuat tablo atau drama itu mengkombinasikan kisah dari semua Injil. Kisah sengsara ini bisa dibacakan atau dinyanyikan dan kisah ini umumnya disebut “Passio”. Sedapat mungkin dan kalau memang memungkinkan Imam yang memimpin Misa Minggu Palma memerankan Yesus dalam Passio itu. Bahkan sudah sejak perarakan Imam yang bersangkutan memerankan Tuhan Yesus Kristus yang disambut dengan sorak sorai dengan lambaian daun palma. Maka sering kita lihat (melalui medsos) ada imam bahkan Uskup yang memerankan Yesus dengan naik keledai ketika memperagakan peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, yakni dengan perarakan menuju dan memasuki gedung gereja. Suasana pertama yang gegap gempita berubah menjadi duka. Pada waktu masuk gedung gereja kita bersorak sorai menyambut Yesus Sang Raja tetapi setelah berada di dalam gereja kita meneriakkan “salibkan Dia, salibkan Dia”. Suasana kontras ditampilkan. Masa sengsara dimulai dan kita diajak untuk bersama-sama mengikuti kesedihan dan kesengsaraan dari hari ke hari hingga Trihari Suci.

Makna memperingati hari Minggu Palma di samping mengenang Tuhan Yesus yang memasuki kota Yerusalem sekaligus mengajak kita memasuki masa sengsara Yesus namun juga mengingatkan kita semua untuk tidak bersikap “munafik” seperti orang-orang Yahudi dulu, menyambut Dia dengan sukacita tetapi kemudian menolak dan melawan Dia, “salibkan Dia”. Atau dengan kata lain, kita jangan “mencla-mencle” dalam menerima dan mengikuti Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Hendaknya sekali Yesus tetap Yesus. Dialah Sang Raja yang diutus Allah kepada kita manusia. Amin.

Oleh RP. Thomas Suratno, SCJ




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

INFO

Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak memiliki account FB/Twitter (ataupun akun medsos lainnya). Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak tidak bertanggungjawab atas postingan di akun medsos tersebut yang mengatasnamakan Paroki Stefanus Cilandak.

Foto Wilayah - Lingkungan