header

Menjadi Pendidik yang Memanusiakan Manusia

Category

News

Menjadi Pendidik yang Memanusiakan Manusia

Refleksi Ensiklik Paus Leo XIV Artikel ini merupakan rangkuman hasil diskusi forum pendidikan yang telah dilaksanakan pada sabtu, 4 juli 2026. Materi disampaikan oleh Bapak Cyrilus Kiswara, lalu di lanjutkan diskusi bersama dengan beberapa pengamat pendidikan lainnya. Forum diskusi ini, secara khusus berfokus pada pedoman moral dan perlindungan martabat manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Dalam Ensiklik “Magnifica Humanitas” Paus Leo XIV mengingatkan kita bahwa kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan atau melebihi martabat manusia sebagai makhluk yang luhur dan mulia, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kemajuan AI memang menawarkan berbagai kemudahan, tetapi sekaligus menjadi tantangan manusia agar tidak kehilangan jati diri. Dehumanisasi adalah ancaman terhadap kemanusian, dimana teknologi mulai menggeser nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi dasar pendidikan. Maka dari itu, AI harus selalu dan tetap dibawah kendali moral manusia. Sejalan dengan ensiklik Paus Leo XIV, menjadi seorang pendidik tidak hanya hadir untuk memberikan ilmu dan mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi membantu setiap pribadi menyadari martabatnya sebagai ciptaan Allah, dengan menjadi teladan dalam menumbuhkan harapan, rasa empati, kejujuran, kasih, kepedulian dan rasa hormat terhadap martabat setiap manusia.

Maka, dalam dunia yang dipengaruhi oleh teknologi kecerdasan buatan ini, sebagaimana ditekankan Paus Leo XIV, teknologi harus selalu melayani manusia, sementara pendidikan harus selalu membentuk manusia yang semakin manusiawi. Pendidikan yang memanusiakan, menghargai setiap pribadi manusia tanpa diskriminasi, lalu melihat dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didiknya. Dalam hal ini, memberi pendidikan bukanlah tugas dari satu pihak saja, namun tanggung jawab bersama. Keluarga, sebagai pendidikan pertama, menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, seperti moral, etika dan iman. Sekolah, mengembangkan pengetahuan, keterampilan, cara berpikir kritis, serta membentuk karakter melalui proses pembelajaran. Masyarakat, menjadi ruang praktik kehidupan, setiap pribadi belajar menghargai keberagaman, peduli terhadap sesama sebagai makhluk sosial. Lalu, bagaimana menghadapi transformasi digital global sekarang ini? Dalam hal ini, dunia pendidikan dituntut untuk mampu beradaptasi, salah satunya menerima AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tanpa melupakan dasar-dasar moral martabat manusia sebagai pendidik. Hal ini sebenarnya bukan hanya himbauan bagi para pendidik saja, tetapi semua manusia. Dalam sesi tanya jawab, beberapa hal yang menjadi tanggapan dari peserta diskusi. “AI itu tidak jelek, cuma kurang ajar yang pakai”.

Pernyataan ini mengingatkan kita, bahwa persoalan bukan pada teknologinya, melainkan cara manusia menggunakan teknologi tersebut. Lalu bagaimana menyikapi Echo Chamber? Echo Chamber (gema suara), karena algoritma yang kita dapatkan cenderung hanya itu-itu saja, maka sulit untuk melihat dan menerima dari sudut pandang lain. Yang perlu dipelajari terlebih dahulu, proses menjadi sebuah AI apa sih? AI adalah sumber data, lalu data tersebut digunakan oleh Engineer untuk menciptakan algoritma, supaya data-data bisa di olah dan menghasilkan sesuatu. AI adalah trainer. Menyikapi Echo Chamber butuh kesadaran dari kita, bagaimana kita bisa memanfaatkan AI dengan lebih baik, memahami bahwa semua algoritma itu ada bias (kecenderungan di satu pihak). Di Indonesia masih belum punya pemikiran yang independen, tidak ada pemikiran lain selain apa yang dikatakan AI. Digital itu bahaya bisa membuat peran guru jadi nol. Maka, dibutuhkan keseimbangan antara moral, etika, keteladanan dan kecerdasan ilmu pengetahuan. Lalu, bagaimana membuat keseimbangan? Digitalisasi sangat membantu kalau dipakai dengan tepat, termasuk algoritma, dengan memahami bagaimana prosesnya. Algoritma juga melatih anak untuk berpikir logis dan kritis. Salah satu cara adalah anak diajarkan coding. Dan yang terakhir, bagaimana menyadari “ The best potensial dari diri kamu”. Di era transformasi digital, pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan generasi yang cerdas, tetapi juga pribadi yang bijaksana, beretika, dan peduli terhadap sesama. Itulah hakikat pendidikan yang memanusiakan manusia.

Penulis : Dewi Sogen

Pembawa dan Pembuat Materi : Bpk Cyrilus Kiswara

Summary Pertemuan : Dewi Sogen